Sunday, August 10, 2014

Allah Ada Dimana-mana

Seminggu terakhir, entah kenapa saya merasa berat sekali dalam memutuskan sesuatu. Semua perkara yang sebenarnya mudah, justru tampak sulit dan ribet. Ditambah lagi saya yang cengeng ini mencampuradukkan masalah tadi dengan yang lain. Boom! Streslah saya.

Saya sedang berada pada masa putus asa, pesimistis. Saya juga bingung mau cerita pada siapa. Teman-teman saya "menghilang" dan saya tidak bisa memaksanya. Sampai malam itu, saya menemukan buku Quroish Shihab yang langsung membuat saya merasa perlu untuk membelinya. Bukunya terbitan lawas tapi dicetak ulang. Judulnya; Dia Dimana-mana. Kali pertama saya melihatnya, saya berpikir, kayaknya buku ini bisa membantu saya. Dan, memang begitu.

Bab pertama yang saya baca adalah bagian Burung (2) Optimisme dan Pesimisme, bab yang memang saya butuhkan saat ini. Dalam buku itu diibaratkan, banyak orang percaya dengan isyarat dari burung. Arah terbang burung dan bagaimana kicauannya dikatakan bisa membantu seseorang tahu nasib baik atau buruk. Aneh? Tidak juga. Kenyataannya memang banyak orang yang masih percaya hal itu. Padahal, dijelaskan dalam potongan surat Yaasin (36:19) bahwa burung kamu bersama kamu. Artinya, keburukan dan hal negatif yang kamu anggap kesialan kamu itu, adalah bersama kamu. Yaitu sikap batin dan amal perbuatan buruk kamu sendiri.

Analoginya (dalam buku itu) begini, jika seseorang percaya bahwa menabrak kucing sampai mati adalah kesialan, lalu dia sampai memutari bangkai kucing tujuh putaran, mengkafani, dan menguburkannya, maka apakah itu juga terjadi bagi penabrak orang? Si penabrak tentu percaya bahwa menabrak kucing sampai mati akan mendatangkan sial, tapi apakah dia berpikir bahwa menabrak manusia sampai tewas lebih besar tanggungjawabnya dibandingkan dengan kucing? Padahal, yang terjadi kebanyakan justru sebaliknya. Penabrak manusia justru berlomba untuk menghilang secepat kilat, tidak bertanggung jawab.

Simpelnya, kesialan itu tidak pernah ada. Manusialah yang membuatnya. Sehingga dia mengira lalu merasa bahwa dirinya telah mendapatkan kesialan. Padahal, jika kita menganggapnya remeh, hal yang dikatakan sial itu malah tidak berdampak. Tapi jika kita membesarkannya, maka akan besarlah dia.

Sebagai contoh. Teman seprofesi saya sekitar satu bulan lalu menabrak kucing sampai mati. Dia mengabaikannya. Tapi dia percaya bahwa akan datang kesialan padanya karena telah menabrak kucing dan mengabaikannya. Berul saja, esok paginya, bertubi-tubi dia harus kena 'sial'. Dia harus mengganti ban motor depan, tapi beberapa jam setelah dari bengkel, ban belakang juga minta diganti. Setelahnya, dia harus kembali ke bengkel untuk memerbaiki mesin motor yang tiba-tiba saja mati. Kemudian, dia tiba-tiba saja badannya panas, sakit. Belum lagi motor adiknya yang hilang diambil maling. Dan kejadian lain yang terjadi tiga hari berturut-turut setelah dia menabrak kucing. Apa moralnya? Dia percaya pada kesialan. Padahal, kalau kita percaya pada Allah saja, akan lahir sikap-sikap optimisme dan percaya diri yang lebih menggelora dalam dada. Sehingga timbullah sikap positif yang berujung pada kesuksesan.

Saya betul membutuhkan buku ini, karena saya mengukur kebutuhan saya sendiri. Ketika tidak ada teman untuk berbagi, Allah pasti ada bersamaku. Semoga saja saya bisa lebih optimis dalam menghadapi pikiran-pikiran skeptis saya belakangan ini. Amin...

Post a Comment