Skip to main content

Allah Ada Dimana-mana

Seminggu terakhir, entah kenapa saya merasa berat sekali dalam memutuskan sesuatu. Semua perkara yang sebenarnya mudah, justru tampak sulit dan ribet. Ditambah lagi saya yang cengeng ini mencampuradukkan masalah tadi dengan yang lain. Boom! Streslah saya.

Saya sedang berada pada masa putus asa, pesimistis. Saya juga bingung mau cerita pada siapa. Teman-teman saya "menghilang" dan saya tidak bisa memaksanya. Sampai malam itu, saya menemukan buku Quroish Shihab yang langsung membuat saya merasa perlu untuk membelinya. Bukunya terbitan lawas tapi dicetak ulang. Judulnya; Dia Dimana-mana. Kali pertama saya melihatnya, saya berpikir, kayaknya buku ini bisa membantu saya. Dan, memang begitu.

Bab pertama yang saya baca adalah bagian Burung (2) Optimisme dan Pesimisme, bab yang memang saya butuhkan saat ini. Dalam buku itu diibaratkan, banyak orang percaya dengan isyarat dari burung. Arah terbang burung dan bagaimana kicauannya dikatakan bisa membantu seseorang tahu nasib baik atau buruk. Aneh? Tidak juga. Kenyataannya memang banyak orang yang masih percaya hal itu. Padahal, dijelaskan dalam potongan surat Yaasin (36:19) bahwa burung kamu bersama kamu. Artinya, keburukan dan hal negatif yang kamu anggap kesialan kamu itu, adalah bersama kamu. Yaitu sikap batin dan amal perbuatan buruk kamu sendiri.

Analoginya (dalam buku itu) begini, jika seseorang percaya bahwa menabrak kucing sampai mati adalah kesialan, lalu dia sampai memutari bangkai kucing tujuh putaran, mengkafani, dan menguburkannya, maka apakah itu juga terjadi bagi penabrak orang? Si penabrak tentu percaya bahwa menabrak kucing sampai mati akan mendatangkan sial, tapi apakah dia berpikir bahwa menabrak manusia sampai tewas lebih besar tanggungjawabnya dibandingkan dengan kucing? Padahal, yang terjadi kebanyakan justru sebaliknya. Penabrak manusia justru berlomba untuk menghilang secepat kilat, tidak bertanggung jawab.

Simpelnya, kesialan itu tidak pernah ada. Manusialah yang membuatnya. Sehingga dia mengira lalu merasa bahwa dirinya telah mendapatkan kesialan. Padahal, jika kita menganggapnya remeh, hal yang dikatakan sial itu malah tidak berdampak. Tapi jika kita membesarkannya, maka akan besarlah dia.

Sebagai contoh. Teman seprofesi saya sekitar satu bulan lalu menabrak kucing sampai mati. Dia mengabaikannya. Tapi dia percaya bahwa akan datang kesialan padanya karena telah menabrak kucing dan mengabaikannya. Berul saja, esok paginya, bertubi-tubi dia harus kena 'sial'. Dia harus mengganti ban motor depan, tapi beberapa jam setelah dari bengkel, ban belakang juga minta diganti. Setelahnya, dia harus kembali ke bengkel untuk memerbaiki mesin motor yang tiba-tiba saja mati. Kemudian, dia tiba-tiba saja badannya panas, sakit. Belum lagi motor adiknya yang hilang diambil maling. Dan kejadian lain yang terjadi tiga hari berturut-turut setelah dia menabrak kucing. Apa moralnya? Dia percaya pada kesialan. Padahal, kalau kita percaya pada Allah saja, akan lahir sikap-sikap optimisme dan percaya diri yang lebih menggelora dalam dada. Sehingga timbullah sikap positif yang berujung pada kesuksesan.

Saya betul membutuhkan buku ini, karena saya mengukur kebutuhan saya sendiri. Ketika tidak ada teman untuk berbagi, Allah pasti ada bersamaku. Semoga saja saya bisa lebih optimis dalam menghadapi pikiran-pikiran skeptis saya belakangan ini. Amin...

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…