Saturday, August 16, 2014

Cewek Alternatif

Akhir-akhir ini saya cukup sering menyebut kata 'cewek alternatif'. Nggak dalam hati, nggak dalam obrolan, bahasannya beberapa kali tentang itu. Apa yang aneh?

Jadi begini, saya punya teman yang suka muncul tiba-tiba dan di luar dugaan. Kalau nggak diharapkan sama sekali, dia datang. Tapi kalau diharapkan, enggak ada kabar sama sekali. Payahnya, tiap dia nongol dan menyapa, dia selalu punya niatan curhat terselubung. Sebenarnya, saya tipikal orang yang oke-oke saja kalau dicurhatin, hitung-hitung membantu temanlah ya. Saya juga suka banget berbagi cerita. Ya barangkali saja dengan sharing bisa melegakan jiwa.

Seorang teman saya ini lucu sekali. Dia datang tiba-tiba lalu pergi secepat kilat. Saking seringnya begitu, saya jadi sudah sangat terbiasa dan enggan peduli. Buat apa? Toh, saya hanya diperlukan saat dia butuh saja *sadis ON:p*

Ceritanya, teman saya ini baru patah hati. Dia curhat ke saya panjang lebar, berkeluh-kesah. Saya sebagai teman pun memberi masukan sebisanya, semampunya. Biasanya, setelah saya komentar, dia bilang, "iya betul juga ya," "iya mestinya aku enggak gitu ya," dst. Dari curhat pertamanya, kami dekat. Cukup sering untuk ngobrol hal remeh-temeh. Saya senang, dulunya. Lalu, di tengah-tengah, ternyata dia punya pasangan yang bukan saya--hahahaa, ceritanya lagi kenes dan shock!!:)))). Herannya, dia main sembunyi-sembunyi soal pasangannya ini. Dia enggak cerita sama sekali tentang pasangan barunya pada saya. Kalau ngobrol, dia cuma membawa topik yang seperti biasa, remeh. Saya dipaksa--dengan keadaan:p--buat cari tahu sendiri *keponya kumat:))). Akhirnya, pelan-pelanlah saya menjauh--sadar diri:p.

Tapi, tidak berapa lama, dia tiba-tiba muncul lagi. Apa yang jadi topik obrolannya? Teman saya ini cerita nggak seberapa panjang soal karamnya hubungan percintaannya. Kenapa nggak seberapa panjang? Karena saya nggak banyak nanya. Saat dia cerita, saya cuma menjawab dengan kata, "oh ya?" "Terus gimana?" "Iya. Semoga segera dapat penggantinya." Udah gitu aja!:)))). Bukannya saya sadis, galak, jutek, nggak peduli atau apa--meski sebenarnya begitu:p--saya cuma nggak mau aja jadi cewek alternatif, cewek bayangan yang ada buat teman saya itu hanya di saat butuh. Enggak mau. Enak dia, nggak enak di saya dong:p. Padahal, dalam satu hubungan harus menguntungkan kedua belah pihak, simbiosis mutualisme.

Saya pikir, wajar-wajar saja saya bersikap begitu. Yang jadi pertanyaan, memangnya teman saya itu pernah sedikit saja mikir nggak, sih, nggak enaknya duduk di bangku cadangan? Kayaknya, sih, enggak pernah. Lagian, saya nggak sakit hati kok dijadikan cewek alternatif. Tapi nggak mau aja--sami mawon, jeuuung:))--

Nah, bicara tentang cewek alternatif ini, saya pernah tanya ke teman saya yang lain--nyoooh, mbaruuuzzz:))). Gimana reaksinya kalau jadi cewek alternatif? Tahu jawabannya apa? Katanya, dia bakal bersikap manis dan baik hati tetap mendengarkan curcolan tapi enggak mau memanjakan hati karena dianggap ada, dibutuhkan, dan diperlukan. Meeehh! Salutlah ya! Saya, sih, nggak bisa begitu. Terlebih yang menjadikan alternatif adalah orang yang pernah diharapkan. Big NO! Realistis saja. Hati butuh waktu buat sembuh. Tetap berjalan atau berhenti dengan penuh harap adalah pilihan. Jadi, what will you do if become alternative person?:p

ps. Nyoh mbaruuuuzzz!!:))))

Post a Comment