Skip to main content

Pantai Ngliyep dan Pantai Jonggring Saloko

Bagi saya, pantai adalah tempat menyepi terbaik. Merenung, diam, sambil menatap ombak. Warnanya yang biru beradu padu dengan langit. Menenangkan.
Nah, April lalu, saat saya stres berat, saya memilih untuk menyepi di dua pantai di Malang Selatan; Pantai Ngliyep dan Pantai Joggring Saloko. Sebenarnya ada satu pantai lagi di dekat Ngliyep, hanya saja aksesnya jelek banget. Apalagi saat musim hujan seperti saat itu, jalanan makin buruk rupa. Nggak bisa dilewati motor.
Seperti biasa, saya mengajak Har dan Navis untuk jalan. Perjalanan pertama menuju Ngliyep. Dari Margosono, perjalanan melewati Karangkates sampai Donomulyo. Persisnya, pantai ini terletak sekitar 63 kilometer dari pusat kota Malang. Estimasi waktu jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi sekitar 60-90 menit.
Jalanan Selatan Malang sepi dan mulus. Namun karakteristiknya sama; meliuk-liuk dengan pepohonan di kanan kiri. Pintu masuk Pantai Ngliyep saat itu sepiii sekali. Kami menjadi pengunjung pantai satu-satunya. Maklum, bukan hari libur. Tiket masuknya dipatok 5.000 rupiah perorang.
Layaknya pantai Selatan lain, ombak Pantai Ngliyep bikin hati mir-mir. Saya nggak berani main air meski pingin banget. Sayang nyawa cenderung takut :p. Akhirnya, kami pun hanya menikmati pantai dari berbagai sudut. Dari atas pertapaan yang terdapat beberapa sesajen, dari tepi pantai sebelah kiri (kalau lihat ke arah pantai)--maklum, disorientasi arah :)))-- dan dari gazebo-gazebo yang sepi dan menenangkan. Lamaaa banget kami bertiga menghabiskan waktu di sini. Navis sampai pulas tidur di gazebo :)).
Pasir Ngliyep putih bersih. Ombaknya keras dengan perpaduan air biru tua. Khas samudera dengan kedalaman mencekam. Angin semilir cukup membuat kami terlena. Apalagi, saat itu tiba-tiba kondisi saya ngedrop. Meski demikian, saya masih memaksakan diri--dan teman-teman-- untuk mampir ke Jonggring Saloko yang menurut literatur pantainya indah.
Jonggring Saloko tidak begitu jauh dari Ngliyep. Hanya saja ternyata letaknya amat sangat juauuuuhhh dari peradaban. Saya pikir, tidak berlebihan saya bilang begitu. Sebab, kenyataannya memang super jauh dan melelahkan--padahal saya banyak dibonceng. Wajar saja, Jonggring Saloko adalah pantai perawan. Namanya perawan pasti aksesnya sulit dijangkau manusia pengeluh macam saya begini.
Sekitar 7 kilometer dari rumah penduduk terakhir untuk mencapai Jonggring Saloko. Jarak segitu mungkin tidak akan ada apa-apanya kalau berkendara di jalanan mulus. Sayangnya, kami harus menempuh 7 kilometer dengan kondisi jalanan yang luar biasa hancur lebur. Nggak cuma hancur, lumpur yang menggenang sesekali membuat motor kami nyaris terpeleset. Kami betul-betul masuk hutan. Tidak ada papan penunjuk sama sekali ketika sudah masuk hutan. Andalkan insting kuat untuk tetap melaju atau balik arah sekalian. Tapi saat itu, Navis bilang kepalang tanggung saat saya usul putar balik saking nggak kuatnya terlempar-lampar di jok motor.
Selama lebih dari satu jam kami berpeluh melintasi medan yang hancur parah dan suasana hutan yang sepi tiada tara. Di tengah perjalanan, Har yang membonceng saya sempat berseru jika dirinya melihat dan disapa orang. Padahal tidak ada siapapun di sana. Yes, Har lihat penampakan! Nah, berhubung Har lihat si anu tapi saya nggak lihat inilah yang membuat motor kami nyosor dengan indahnya. Kami jatuh terguling di atas batuan hancur. Saya deg-degan parah. Apalagi, Navis berkendara lebih dahulu sehingga saya harus mengklakson kencang agar dia berhenti dan menolong kami.
Serius, yang ada di pikiran saya saat itu adalah; kalau saya lihat yang macam-macam juga gimana? Saya lari kemana? Kalau tiba-giba ada yang bunuh saya di tempat sepi gini siapa yang bakal nemuin mayat saya? Parno!
Masuk ke pintu masuk Jonggring Saloko seolah melihat kerusakan sadis. Tidak salah lagi, di Pantai Jonggring Saloko dulunya pasti ada beberapa wisatawan lokal ke mari. Itu bisa dilihat dari adanya beberapa warung kayu yang rusak parah disertai coretan-coretan pengunjung. Coretan terakhir sekitar tahun 2009. Di sana juga ada gerbang masuk yang sudah lapuk, menambah kesan antara mistis, seram, sunyi, dan entah apalagi.
Saya menelan ludah celingukan. Kayak begitu susahnya medan ternyata di sini seperti kota mati. Saya terkekeh dalam hati. Ya sudah namanya juga pengalaman :D. Di sini, kami berdiam juga cukup lama. Melebur rasa capek yang nggak kira-kira.
Kenapa saya mengusulkan pingin ke Jonggring Saloko? Alasannya, berdasarkan literatur blog, di pantai ini ada permainan air layaknya serulinh air di Pantai Klayar, Pacitan. Tapi, sayang seribu sayang, kami tidak menemukannya. Entah karena kami sudah lelah atau karena memang nggak tahu tempatnya.
Ombak di sini sangat besar. Beda dengan Ngliyep, Jonggring Saloko didominasi bebatuan terjal. Itu juga yang menyebabkan saya nggak bisa foto-foto sambil kecek-kecek. Sayang nyawa! :D
Jadi, tertarik juga berlibur sehari ke pantai Selatan Malang? Mending, ke Ngliyep dan pantai lain aja ya. Jangan ke Jonggring Saloko, beneran menguras tenaga! :)))

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…