Thursday, August 7, 2014

Pantai Ngliyep dan Pantai Jonggring Saloko

Bagi saya, pantai adalah tempat menyepi terbaik. Merenung, diam, sambil menatap ombak. Warnanya yang biru beradu padu dengan langit. Menenangkan.
Nah, April lalu, saat saya stres berat, saya memilih untuk menyepi di dua pantai di Malang Selatan; Pantai Ngliyep dan Pantai Joggring Saloko. Sebenarnya ada satu pantai lagi di dekat Ngliyep, hanya saja aksesnya jelek banget. Apalagi saat musim hujan seperti saat itu, jalanan makin buruk rupa. Nggak bisa dilewati motor.
Seperti biasa, saya mengajak Har dan Navis untuk jalan. Perjalanan pertama menuju Ngliyep. Dari Margosono, perjalanan melewati Karangkates sampai Donomulyo. Persisnya, pantai ini terletak sekitar 63 kilometer dari pusat kota Malang. Estimasi waktu jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi sekitar 60-90 menit.
Jalanan Selatan Malang sepi dan mulus. Namun karakteristiknya sama; meliuk-liuk dengan pepohonan di kanan kiri. Pintu masuk Pantai Ngliyep saat itu sepiii sekali. Kami menjadi pengunjung pantai satu-satunya. Maklum, bukan hari libur. Tiket masuknya dipatok 5.000 rupiah perorang.
Layaknya pantai Selatan lain, ombak Pantai Ngliyep bikin hati mir-mir. Saya nggak berani main air meski pingin banget. Sayang nyawa cenderung takut :p. Akhirnya, kami pun hanya menikmati pantai dari berbagai sudut. Dari atas pertapaan yang terdapat beberapa sesajen, dari tepi pantai sebelah kiri (kalau lihat ke arah pantai)--maklum, disorientasi arah :)))-- dan dari gazebo-gazebo yang sepi dan menenangkan. Lamaaa banget kami bertiga menghabiskan waktu di sini. Navis sampai pulas tidur di gazebo :)).
Pasir Ngliyep putih bersih. Ombaknya keras dengan perpaduan air biru tua. Khas samudera dengan kedalaman mencekam. Angin semilir cukup membuat kami terlena. Apalagi, saat itu tiba-tiba kondisi saya ngedrop. Meski demikian, saya masih memaksakan diri--dan teman-teman-- untuk mampir ke Jonggring Saloko yang menurut literatur pantainya indah.
Jonggring Saloko tidak begitu jauh dari Ngliyep. Hanya saja ternyata letaknya amat sangat juauuuuhhh dari peradaban. Saya pikir, tidak berlebihan saya bilang begitu. Sebab, kenyataannya memang super jauh dan melelahkan--padahal saya banyak dibonceng. Wajar saja, Jonggring Saloko adalah pantai perawan. Namanya perawan pasti aksesnya sulit dijangkau manusia pengeluh macam saya begini.
Sekitar 7 kilometer dari rumah penduduk terakhir untuk mencapai Jonggring Saloko. Jarak segitu mungkin tidak akan ada apa-apanya kalau berkendara di jalanan mulus. Sayangnya, kami harus menempuh 7 kilometer dengan kondisi jalanan yang luar biasa hancur lebur. Nggak cuma hancur, lumpur yang menggenang sesekali membuat motor kami nyaris terpeleset. Kami betul-betul masuk hutan. Tidak ada papan penunjuk sama sekali ketika sudah masuk hutan. Andalkan insting kuat untuk tetap melaju atau balik arah sekalian. Tapi saat itu, Navis bilang kepalang tanggung saat saya usul putar balik saking nggak kuatnya terlempar-lampar di jok motor.
Selama lebih dari satu jam kami berpeluh melintasi medan yang hancur parah dan suasana hutan yang sepi tiada tara. Di tengah perjalanan, Har yang membonceng saya sempat berseru jika dirinya melihat dan disapa orang. Padahal tidak ada siapapun di sana. Yes, Har lihat penampakan! Nah, berhubung Har lihat si anu tapi saya nggak lihat inilah yang membuat motor kami nyosor dengan indahnya. Kami jatuh terguling di atas batuan hancur. Saya deg-degan parah. Apalagi, Navis berkendara lebih dahulu sehingga saya harus mengklakson kencang agar dia berhenti dan menolong kami.
Serius, yang ada di pikiran saya saat itu adalah; kalau saya lihat yang macam-macam juga gimana? Saya lari kemana? Kalau tiba-giba ada yang bunuh saya di tempat sepi gini siapa yang bakal nemuin mayat saya? Parno!
Masuk ke pintu masuk Jonggring Saloko seolah melihat kerusakan sadis. Tidak salah lagi, di Pantai Jonggring Saloko dulunya pasti ada beberapa wisatawan lokal ke mari. Itu bisa dilihat dari adanya beberapa warung kayu yang rusak parah disertai coretan-coretan pengunjung. Coretan terakhir sekitar tahun 2009. Di sana juga ada gerbang masuk yang sudah lapuk, menambah kesan antara mistis, seram, sunyi, dan entah apalagi.
Saya menelan ludah celingukan. Kayak begitu susahnya medan ternyata di sini seperti kota mati. Saya terkekeh dalam hati. Ya sudah namanya juga pengalaman :D. Di sini, kami berdiam juga cukup lama. Melebur rasa capek yang nggak kira-kira.
Kenapa saya mengusulkan pingin ke Jonggring Saloko? Alasannya, berdasarkan literatur blog, di pantai ini ada permainan air layaknya serulinh air di Pantai Klayar, Pacitan. Tapi, sayang seribu sayang, kami tidak menemukannya. Entah karena kami sudah lelah atau karena memang nggak tahu tempatnya.
Ombak di sini sangat besar. Beda dengan Ngliyep, Jonggring Saloko didominasi bebatuan terjal. Itu juga yang menyebabkan saya nggak bisa foto-foto sambil kecek-kecek. Sayang nyawa! :D
Jadi, tertarik juga berlibur sehari ke pantai Selatan Malang? Mending, ke Ngliyep dan pantai lain aja ya. Jangan ke Jonggring Saloko, beneran menguras tenaga! :)))
Post a Comment