Wednesday, August 27, 2014

Sisa Kerajaan Papi Dolly

Jarum jam menunjukkan angka 21.30. Tidak begitu larut. Namun cukup larut bagi anak usia sekolah. Di salah satu sudut gang di Surabaya, justru tidak tampak kelarutannya. Hingar bingar justru kian terasa. Termasuk di gang sempit bagian dari orang bilang, Gang Dolly.

Malam itu, Juwita, gadis belum genap 13 tahun bercengkrama di depan rumah. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang proporsional menjebak siapapun yang melihatnya. Tidak akan ada pikiran bahwa gadis itu baru lulus sekolah dasar.

Juwita mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih, malam itu. Celananya pendek tapi tak sampai pangkal paha. Mulus. Jelas, itu yang terlihat dalam benak setiap orang yang melihatnya. Cantik, tentu saja. Tapi dia baru 13 tahun belum genap. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dengan make up natural yang makin menonjolkan kecantikannya. Sepatunya setinggi tujuh sentimeter. Aduhai, manisnya. Ada apa Juwita malam itu?

Rupanya, malam itu adalah malam pertama dia akan bekerja sebagai penyanyi. Bukan di wedding party, bukan di kafe papan atas. Tapi di karaoke malam yang juga memerkerjakan perempuan penjaja seks. Juwita menjelma sebagai wanita dewasa. Dia cantik dan pas.
***

Juwita mengenal klab malam sudah sekitar enam bulan lamanya. Dia makin menikmati aktivitasnya. Selain menyanyi, dia juga penghisap. Dia kecanduan obat-obatan mahal yang selalu dia bayar dengan tubuhnya kala tak sanggup membayar. Juwita gila. Dia tergila-gila begitu sangat. Dia menyanyi, menghisap, menjajakan tubuh, dan lupa daratan. Lupa umur, lupa sekolah. Usianya belum genap 13 tahun.
***

Malam itu sial bagi Juwita. Saat dia menyanyi, petugas gabungan Pol PP dan polisi menemukan sebungkus obat di dalam saku tas Juwita. Obat penenangnya dirampas. Nyawa Juwita terhempas.
***

Juwita menangis keras di dalam shelter khusus bagi orang yang sulit ditangani. Dia benci dirinya. Benci ketika wajahnya terpotret media cetak. Benci dan takut melingkupinya. Juwita benci sekali. Dia tertekan dengan banyak hal. Dia ingin bertemu nyonya penguasa.
***

Siang itu Juwita mengenakan jilbab hitam, berjaket dan bercelana panjang jins, kausnya putih. Dia menutup wajahnya. Sambil terisak dia memeluk nyonya penguasa. Dia berkeluh panjang. Enggan berada dalam shelter. Dia ingin sekolah. Tapi apa daya tak berbiaya. Dia juga menanggung malu karena wajahnya menghiasi media cetak dua bulan lalu. Dia masih takut dan trauma.

Nyonya penguasa tersenyum. Dia menenangkan Juwita. Tangannya memeluk wajah gadis itu. Banyak kalimat dia ucapkan. Berkalimat-kalimat menenangkan. "Kamu mau sekolah mana, Nak?" Begitu tanya nyonya.

Masih dalam dekapan sang penguasa, Juwita menjawab terbata. "Saya mau sekolah di 2X, Bu. Tapi saya malu. Saya takut teman-teman saya tahu siapa saya."
***

Itu baru kisah Juwita, gadis malang yang ditemukan di gang kecil di tengah Dolly. Sulit untuk membebaskan Juwita dari kejaksaan. Sang penguasa mengakui itu. Tapi tekadnya bulat. Anak Kota Pahlawan harus sekolah. Harus. Meski kalau disisir satu persatu, anak putus sekolah di kotanya tidak satu-dua. Tapi banyak. Tidak hanya di Dolly. Tapi dimana-mana.

Itu baru Juwita. Masih banyak anak-anak di antara runyamnya kehidupan Gang Dolly. Banyak yang terimbas. Banyak yang termasuk di dalamnya. Bebannya berat. Masa depan anak-anak--entah Dolly atau yang lain--ada di tangan siapa yang lebih peduli. Keras. Begitulah hidup di sisa-sisa kejayaan Papi Dolly yang tenar sejak 1967.

Papi Dolly sudah tiada. Dampaknya masih tersisa. Kota Pahlawan di tangan penerusnya.

Post a Comment