Skip to main content

Sisa Kerajaan Papi Dolly

Jarum jam menunjukkan angka 21.30. Tidak begitu larut. Namun cukup larut bagi anak usia sekolah. Di salah satu sudut gang di Surabaya, justru tidak tampak kelarutannya. Hingar bingar justru kian terasa. Termasuk di gang sempit bagian dari orang bilang, Gang Dolly.

Malam itu, Juwita, gadis belum genap 13 tahun bercengkrama di depan rumah. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang proporsional menjebak siapapun yang melihatnya. Tidak akan ada pikiran bahwa gadis itu baru lulus sekolah dasar.

Juwita mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih, malam itu. Celananya pendek tapi tak sampai pangkal paha. Mulus. Jelas, itu yang terlihat dalam benak setiap orang yang melihatnya. Cantik, tentu saja. Tapi dia baru 13 tahun belum genap. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dengan make up natural yang makin menonjolkan kecantikannya. Sepatunya setinggi tujuh sentimeter. Aduhai, manisnya. Ada apa Juwita malam itu?

Rupanya, malam itu adalah malam pertama dia akan bekerja sebagai penyanyi. Bukan di wedding party, bukan di kafe papan atas. Tapi di karaoke malam yang juga memerkerjakan perempuan penjaja seks. Juwita menjelma sebagai wanita dewasa. Dia cantik dan pas.
***

Juwita mengenal klab malam sudah sekitar enam bulan lamanya. Dia makin menikmati aktivitasnya. Selain menyanyi, dia juga penghisap. Dia kecanduan obat-obatan mahal yang selalu dia bayar dengan tubuhnya kala tak sanggup membayar. Juwita gila. Dia tergila-gila begitu sangat. Dia menyanyi, menghisap, menjajakan tubuh, dan lupa daratan. Lupa umur, lupa sekolah. Usianya belum genap 13 tahun.
***

Malam itu sial bagi Juwita. Saat dia menyanyi, petugas gabungan Pol PP dan polisi menemukan sebungkus obat di dalam saku tas Juwita. Obat penenangnya dirampas. Nyawa Juwita terhempas.
***

Juwita menangis keras di dalam shelter khusus bagi orang yang sulit ditangani. Dia benci dirinya. Benci ketika wajahnya terpotret media cetak. Benci dan takut melingkupinya. Juwita benci sekali. Dia tertekan dengan banyak hal. Dia ingin bertemu nyonya penguasa.
***

Siang itu Juwita mengenakan jilbab hitam, berjaket dan bercelana panjang jins, kausnya putih. Dia menutup wajahnya. Sambil terisak dia memeluk nyonya penguasa. Dia berkeluh panjang. Enggan berada dalam shelter. Dia ingin sekolah. Tapi apa daya tak berbiaya. Dia juga menanggung malu karena wajahnya menghiasi media cetak dua bulan lalu. Dia masih takut dan trauma.

Nyonya penguasa tersenyum. Dia menenangkan Juwita. Tangannya memeluk wajah gadis itu. Banyak kalimat dia ucapkan. Berkalimat-kalimat menenangkan. "Kamu mau sekolah mana, Nak?" Begitu tanya nyonya.

Masih dalam dekapan sang penguasa, Juwita menjawab terbata. "Saya mau sekolah di 2X, Bu. Tapi saya malu. Saya takut teman-teman saya tahu siapa saya."
***

Itu baru kisah Juwita, gadis malang yang ditemukan di gang kecil di tengah Dolly. Sulit untuk membebaskan Juwita dari kejaksaan. Sang penguasa mengakui itu. Tapi tekadnya bulat. Anak Kota Pahlawan harus sekolah. Harus. Meski kalau disisir satu persatu, anak putus sekolah di kotanya tidak satu-dua. Tapi banyak. Tidak hanya di Dolly. Tapi dimana-mana.

Itu baru Juwita. Masih banyak anak-anak di antara runyamnya kehidupan Gang Dolly. Banyak yang terimbas. Banyak yang termasuk di dalamnya. Bebannya berat. Masa depan anak-anak--entah Dolly atau yang lain--ada di tangan siapa yang lebih peduli. Keras. Begitulah hidup di sisa-sisa kejayaan Papi Dolly yang tenar sejak 1967.

Papi Dolly sudah tiada. Dampaknya masih tersisa. Kota Pahlawan di tangan penerusnya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…