Saturday, August 16, 2014

Wonderful Indonesia: Mencari Surga di Raja Ampat

Gugusan pulau-pulau kecil di bebatuan karst dengan vegetasi tanaman. (foto: Indonesia Travel)

Saya tidak pernah membayangkan bisa menjejakkan kaki di Raja Ampat, sebuah kepulauan di wilayah paling timur Indonesia. Tentu saja, karena tabungan--yang saya kumpulkan selama bekerja dua tahun menjadi seorang kuli tinta--tidak cukup untuk membeli tiket ke sana. Sebegitu mahalnyakah transportasi menuju kepulauan yang katanya surga dunia? Tampaknya memang begitu. Tapi, tidak salah juga kalau saya berandai-andai untuk mampir barang seminggu ke destinasi wisata yang mendunia itu. Melihat langsung kultur, kebiasaan, adat, dan kehidupan langsung masyarakat sekitar kepulauan surgawi.

Raja Ampat terletak di timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Papua Barat. Indonesia bagian timur dikenal sebagai wilayah dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Itu karena akses menuju ke daerah sangat sulit, tidak terkecuali untuk menuju Raja Ampat. Sebutlah dari kota saya, Surabaya. Dari Surabaya menuju Raja Ampat, wisatawan harus menempuh perjalanan udara ke Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, dan dilanjutkan menuju Pelabuhan Sorong menggunakan angkutan umum. Di Pelabuhan Sorong, wisatawan bisa menggunakan kapal feri atau speedboat dengan tujuan Waisai, ibu kota Raja Ampat. Di Waisai inilah wisatawan bisa mencari penginapan dari murah hingga mahal.

Perpaduan biru langit dan laut menghadirkan suasana tenang dan syahdu. (foto: Indonesia Travel)

                Bepergian ke Raja Ampat, setiap orang memiliki tujuan masing-masing. Entah untuk melihat indahnya hasil karya Tuhan, membandingkan kultur masyarakat sekitar, atau justru memiliki misi positif seperti meningkatkan perekonomian masyarakat melalui ekonomi kreatif dan pendidikan. Tujuan mulia yang siapa saja bisa merealisasikannya. Penduduk di sekitar Raja Ampat dikenal sebagai penduduk yang ramah. Bahkan, tidak jarang wisatawan yang datang diajak untuk menginang. Bagi mereka, menginang adalah simbol perdamaian.

         Beberapa literatur yang saya baca--Tabloid Jubi--menyebutkan, penduduk asli Raja Ampat umumnya menggantungkan hidup pada ikan hasil tangkapan. Tentu saja itu karena wilayah Raja Ampat merupakan wilayah kepulauan. Sehingga dominan masyarakat sekitar adalah nelayan. Cara menangkap ikan pun masih tergolong sederhana. Yakni menggunakan kalawai atau penikam dan kerambah dari kayu yang dipasang memanjang atau melingkar. Selain itu, mereka juga masih menggunakan teknik menangkap ikan dengan molo (senapan dari kayu dan kawat) yang digunakan sambil menyelam. Meski begitu, tidak sedikit dari mereka bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan.

Pulau Misool nan eksotis. (foto: Indonesia Travel)

Sebagai daerah kepulauan, Raja Ampat memiliki empat pulau terbesar. Yakni Pulau Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Umumnya, wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat akan berburu panorama indah di Waigeo dan tempat diving terindah di Misool. Apa pasal? Waigeo memiliki gugusan pulau-pulau kecil nan indah dengan batuan karst yang ditumbuhi vegetasi tumbuhan. Menurut Indonesia Travel, tempat ini sangat bagus digunakan untuk melihat sunset yang indah nan romantis. Gugusan pulau-pulau kecil inilah yang seringkali diabadikan wisatawan dari atas bukit. Sementara pemandangan air Pulau Misool (yang berada di wilayah segitiga karang dunia) dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat kaya. Data The Nature Conservancy menunjukkan, kajian ekologis yang mereka lakukan bersama Conservation International (CI) menunjukkan bahwa Raja Ampat merupakan rumah bagi 75% jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang. Wow!

Pemandangan bawah laut Raja Ampat. (foto: Indonesia Travel)

Kalau saya berkesempatan untuk terbang ke Raja Ampat, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tergolong emas tersebut. Namun, setali tiga uang, saya juga tidak akan lupa untuk mampir menyambangi Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC). Sebab, menurut Indonesia Travel, TNTC merupakan kawasan konservasi terbesar di Indonesia sekaligus menjadi pusat penelitian hiu paus atau whale shark (Rhincodon typus). Di perairan ini juga memiliki persentase karang hidup mencapai 65,64%. Selain itu, juga terdapat 36 jenis burung, 196 jenis moluska, 209 jenis ikan, serta paus dan lumba-lumba. Kawasan ini juga menjadi tempat bagi empat jenis penyu yang dilindungi, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Sungguh kekayaan wisata bahari yang sangat memesona.

Sayang, semakin banyak wisatawan berkunjung ke Raja Ampat, ancaman kerusakan lingkungan juga semakin tinggi. Namun, yang patut dibanggakan adalah adanya tradisi Sasi (dalam bahasa modern disebut konservasi) yang masih dilestarikan. Menurut artikel online G-Priority, tradisi tidak tertulis ini mewajibkan masyarakat setempat untuk tidak melakukan penangkapan hewan laut dalam kurun waktu 24 bulan. Mereka baru bisa menangkap hewan laut dalam waktu yang juga ditentukan dan biasanya hanya satu bulan. Istilahnya, masa panen. Tradisi ini secara tidak langsung dapat memertahankan kelestarian biota laut sebab mereka diberi waktu untuk berkembang biak. Semoga dengan tradisi tersebut kelestarian alam Raja Ampat bisa terjaga. Sehingga berdampak pada kemakmuran masyarakat sekitar dan membawa nama harum Indonesia ke kancah Internasional.

Pemandangan bawah laut di Taman Nasional Teluk Cendrawasih. (foto: Indonesia Travel)
Post a Comment