Monday, August 4, 2014

Yang Tersisa dari Lokalisasi

Surabaya sempat tenar dengan gang dolly dan jarak. Dulu sekali bahkan hingga kini, gang dolly jarak masih terkenal. Apalagi kalau bukan karena dua kawasan itu adalah kawasan lokalisasi yang sempat menjadi terbesar se-Asia Tenggara? Selain gang dolly jarak, ada lokalisasi dupak bangunsari, kremil, dan lokalisasi jalanan. Dua lokalisasi terakhir sudah ditutup terlebih dahulu dibandingkan gang dolly jarak. Meski demikian, penutupan lokalisasi masih menyisakan masalah baru.

Namanya Sekar. Pagi tadi saya dan Sekar bertemu dan berkenalan di ruang kerja walikota Surabaya. Sekar, bocah perempuan berumur delapan tahun menderita hypersex alias maniak seks. Bukan sertamerta dia menjadi budak seks. Tapi dari orang terdekatnyalah dia belajar.

Masa kecil Sekar suram. Sangat suram. Ayahnya seorang preman lokalisasi yang kerap main pukul. Tidak hanya pada mama Sekar, tapi juga pada bocah berambut lurus itu. Sekar, kerap dipukul, ditendang, dimasukkan ke sumur dengan posisi kepala di bawah dan kaki diikat, juga sering dibuang ke jalanan jika ayahnya mabuk dan sedang kalap. Sejak kecil Sekar membenci ayahnya.

Mama Sekar seorang penyanyi karaoke yang berangkat kerja nyaris maghrib dan pulang nyaris pagi. Sekar bercerita, sebenarnya dia tidak rela mamanya harus kerja malam meninggalkannya di rumah tidur bersama nenek. Sekar, layaknya gadis cilik lainnya, ingin tidur bersama mamanya. Tapi keinginan Sekar tidak pernah terkabul. Mamanya tetap pergi bekerja mendulang rupiah demi kelangsungan hidup mereka.

Bukan hanya menyanyi, mama Sekar nyatanya juga seorang pekerja seks komersial. Sekar, bocah cilik itu kerap menemukan mamanya dalam keadaan tidak sadar tengah bersetubuh dengan lelaki yang bukan ayahnya. Kejadian tersebut selalu terekam dalam otaknya. Berulang-ulang. Mamanya menyanyi, mabuk, dan tidur bersama lelaki hidung belang. Sekar, anak kedua dari dua bersaudara itu menyaksikannya. Adegan demi adegan hal tidak pantas yang dilakukan mamanya dalam keadaan mabuk.

Sekar kecil akhirnya ikut bekerja setahun terakhir. Dia ikut mamanya menyanyi karaoke. Sayang, Sekar kecil juga ikut melakoni peran persis ibunya. Ya, malam itu Sekar merayu lelaki hidung belang.

Mulanya, Sekar jijik melayani nafsu bejat lelaki yang tak dikenalnya. Sampai pada akhirnya, dia merasa ketagihan hingga melayani oral seks. Dia menikmati hal yang sangat jauh dari kata pantas dilakukan oleh bocah seusianya. Sejak saat itu, Sekar menjajakan diri. Sekar kecil merayu dengan kalimat, "Hai, kamu mau denganku?" Ironis.

Yang lebih menyayat hati, Sekar melakukannya dengan semua lelaki yang ditemuinya. Saat dia menginginkan hal itu, dia langsung memelorotkan celana di depan lelaki. Demikian berulang-ulang kali. Ya tukang becak, ya pemuda pengangguran, ya siapa saja terserah Sekar.

Pagi tadi, sangat sulit bagi saya mengorek informasi tentang siapa Sekar. Bocah itu mudah hilang fokus. Kadang apa yang dia ceritakan ngawur, kadang tidak nyambung sama sekali. Untung, saya didampingi pendamping Sekar yang mau menunjukkan mana cerita palsu atau nyata.

Pacar Sekar ada lima--persis dengan jumlah balon yang meletus satu. Tentang pacarnya, dikorek sedemikian rupa, Sekar bungkam. Dia kadung memegang janji pada pacarnya tidak akan cerita tentang profil pacarnya. Ya sudahlah. Tapi Sekar bilang, pacarnya sangat loyal. Mau membelikan baju--yang menjijikkan polanya; rok mini, baju shoulderless, sepatu boot, dan make up. Iya, Sekar kecil berdandan untuk menggaet hati lelaki! Pacarnya kerap mengajak jalan-jalan, melihat bioskop, menggandeng tangannya, mencium bibirnya, berpelukan seperti teletubbies, dan bersenggama. Sekar mengakui, dia diperkosa sampai alat vitalnya lecet. Katanya, sebelum melakukan aksi layaknya suami istri itu, Sekar selalu minum bir hitam dan cukrik--persis kelakuan mamanya--dan menonton video porno dari ponsel pacarnya. Dia tidak sekali melakukan itu semua. Berkali-kali dan setiap hari. Saking maniaknya, Sekar kecil kerap histeris jika nafsunya--entah apakah gadis cilik belum mens sudah punya nafsu-- tidak tersalurkan. Lalu apa yang dia lakukan? Miris, dia melakukan masturbasi dengan jari-jari mungilnya. Astaghfirullah, naudzubillahiminsyarridzalik.

Pagi tadi, bolak-balik saya melotot, bengong, dan istighfar di dalam hati. Saya tidak sampai hati bertanya-tanya lebih jauh tentang betapa kelamnya dunia bocah sekecil itu. Seketika saya ingat adik saya Tita. Semoga dia selalu dilindungi Allah, amin.

Meski mengaku punya pacar lima, Sekar sering diberi uang oleh lelaki yang dikencaninya. Kadang lima ribu rupiah, kadang dua puluh ribu rupiah. Sekar, sih, mau-mau aja. Dia cuma terima beres. Polos sekali ya?
Layaknya gadis kecil, Sekar ingin sekali ke KBS. Pun pagi tadi. Sambil tiduran dan duduk di kasur Bu Risma, dia merengek minta ke KBS. Ya tentu saja itu gampang banget dan bakal dikabulkan oleh walikota. Asalkan, dia mau cerita banyak hal tentang hidupnya pada kami.

Setahun terakhir. Malam itu, Sekar terbangun pukul tiga. Dia mencari ibunya seorang diri. Dari Benowo ke Dupak, tempat ibunya bekerja. Sayang, Satpol PP lebih dulu menemukan gadis cilik itu di Pasar Benowo. Dia diangkut ke Liponsos, dikira anak jalanan. Dari sanalah cerita bermula. Sekar diletakkan di shelter khusus, tempat untuk siapapun yang memiliki gangguan yang luar biasa sulit. Di shelter itu, Sekar dibina. Sudah dua bulan ini dia menghuni shelter khusus dengan pendampingan sangat ketat. Saking parahnya, dia bahkan harus ditangani oleh psikolog anak. Sayang, psikolog laki-laki itu lebih memilih mundur setelah Sekar berlaku tidak sopan padanya--if you know what I mean. Akhirnya, Sekar kini ditangani oleh psikiater perempuan. Setiap kumat ingin begitu, oleh psikiater diberi obat penenang agar dia lupa dan tertidur. Begitu seterusnya. Kasian yaa...

Tadi pagi, Sekar menangis. Sambil terisak dia bertanya, "Bu Wali, kenapa aku ditaruh di shelter?" Jawabnya cukup panjang. Intinya, Bu Risma mengatakan Sekar sedang sakit, jadi butuh penanganan khusus. Sekar ingin bermacam-macam. Selain ingin ke KBS, dia juga ingin jadi perawat, linmas, guru, dan walikota. Banyak! Khas anak kecil banget.

Kali pertama saya bertemu, saya pikir dia layaknya anak-anak seusianya. Namun saat dia mulai bicara, pandangannya yang tidak fokus, saya jadi tahu kalau dia berbeda. Jauh berbeda dengan anak seusianya. Saking bedanya, dia bahkan sempat mengeluh menyayangkan kenapa Bu Risma tidak memakai make up saat bekerja. Padahal gadis sekecil dia saja pakai. Saat itu, saya diminta memegang bulu matanya yang lentik. Dan memang iya, dia pakai maskara sebelum datang menemui Bu Wali. Ckckck.

Bertemu dengan Sekar saya berkali-kali istighfar. Pantas saja Bu Risma ngotot banget menutup lokalisasi di Surabaya, lah wong tahu dampaknya seperti ini. Secara naluri, sifat keibuan Bu Risma pasti muncul melihat kenyataan pedih di depan mata. Bagaimana tidak? Perempuan penerus bangsa harus mengalami hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan? Sekian banyak perlakuan buruk bagi wanita, ternyata masih ada yang lebih menyeramkan. Semoga saja kita terhindar dari hal-hal yang tak sepantasnya ada ya. Saya betul jadi ngeri. Semoga saya mendapatkan suami yang saleh, bisa menjaga kehormatan istri dan keluarganya. Amiiin.
Post a Comment