Saturday, September 13, 2014

Berubah di My Transformation

Bukan air mancur

Pada dasarnya, kehidupan itu dinamis. Kedinamisan itulah yang membawa setiap orang untuk berubah. Entah menjadi lebih baik atau justru lebih buruk. Setidaknya, perubahan dan pola kedinamisan hidup tersebut yang melatarbelakangi siswa-siswa SMA Selamat Pagi Indonesia untuk menyuguhkan tarian bertajuk My Trasformation.

Baru bertransformasi

Tajuk tersebut tidak main-main. Karena tarian yang dibalut dengan atraksi memukau membuat decak kagum tersendiri. Tema tersebut diambil dari kehidupan sehari-hari. Bagi siapa pun. Kehidupan yang berawal dari ketidakpunyaan menjadi mampu berdiri di kaki sendiri. Memang, tidak seluruh orang pernah merasa susah. Tapi, Tuhan adil. Seadil apa yang Dia berikan pada mereka yang menetap di asrama SMA Selamat Pagi Indonesia.

SMA Selamat Pagi Indonesia berada satu lokasi dengan Kampoeng Kidz. Lokasi ini sepi. Namun, siapa menyangka jika ada kehidupan dinamis di sini. Siswanya berkulit warna-warni, sama ramah, selalu menyapa pengunjung. Tidak akan ada perkiraan bahwa mereka adalah siswa pilihan. Golongan kurang mampu, kondisi yatim dan atau piatu, serta multitalenta. Wajah mereka ayu, tampan, dan bersih.

Riuh

Malam itu, My Transformation berkisah. Kehidupan siswanya yang kurang beruntung diangkat menjadi judul tarian penuh decak. Rangkaian proses metamorfosis kupu-kupu menjadi analogi paling pas menggambarkan kisah dominan siswa asal beragam daerah di Indonesia. Bagaimana telur ditetaskan, pupa berkembang, ulat sebagai hama tanaman, dan kupu-kupu cantik pembantu bunga-bungaan tumbuh berkembang. Analogi cerita yang pas disuguhkan dengan tarian beratraksi. Glamour, penuh cahaya, namun tidak melenceng dari pesan yang disampaikan. Siapapun yang melihat akan sulit percaya bahwa usia mereka masih sangat muda. Seusia siswa SMA dan satu-dua tahun di atasnya.

Ramai dan penuh api

Tarian kolosal My Transformation karya siswa SMA Selamat Pagi Indonesia ini layak diapresiasi. Usaha keras dan simultan bahkan sempat mengantarkan mereka untuk menari di depan presiden SBY. Seribu sayang, usaha mereka hanya dihargai sebesar 15.000 rupiah perorang dan hanya ditarikan di momen tertentu. Padahal, penampilan megah disuguhkan dan tidak gampang menarikan drama dalam durasi 90 menit. Namun, itulah hidup. Di saat apresiasi dirasa rendah sesungguhnya sedang diasah untuk lebih tajam dan kuat. Kemampuan bertahan pada kondisi rendah menjadi contoh bahwa hidup tidak mudah, namun tetap berjalan bagaimanapun adanya.

Bukan akhir segalanya
Post a Comment