Saturday, September 27, 2014

Kegelisahan Petani Jamur Kota Batu

Pabrik pembuatan baglog Suwatman

Memilah serbuk gergaji

Kota Wisata Batu memiliki sejuta pesona. Setidaknya begitu yang dikatakan jamak orang dari tetangga Kota Batu. Surabaya, Mojokerto, Gresik, Sidarjo, dan Malang. Bahkan, tak sedikit pula pengunjung kota dengan udara sejuk ini datang dari luar provinsi. Tentu saja, banyak alasan yang membawa mereka datang. Bisa karena adanya tempat wisata keluarga yang semakin subur, juga adanya wisata alam yang kian beragam jenisnya. Mulai rafting, paragliding, hiking, air terjun, dan pemandian air hangat. Tidak ketinggalan pula di kota yang berada di kaki Gunung Panderman ini juga terdapat aneka ragam desa wisata besutan kelompok warga setempat. Salah satu desa wisata yang ada adalah Desa Wisata Tulungrejo.

Terletak di kaki Gunung Arjuno,  potensi Desa Wisata Tulungrejo sangat beragam. Ada wisata jamur, kelinci, sapi perah, kebun bunga, dan masih banyak lagi macamnya. Namun, yang cukup menonjol, budidaya yang dikembangkan oleh beberapa penduduk Tulungrejo berupa jamur. Modal sedikit dengan hasil menggiurkan membuat penduduk Tulungrejo melabuhkan perhatian pada tanaman parasit.

Serbuk gergaji dicampur kalium dan pupuk

Pembuatan baglog

Salah satu petani jamur yang ada di Desa Tulungrejo, Dusun Wonorejo adalah Suwatman. Usianya tidak lagi muda. Meski demikian, dia tergolong pemain baru di antara petani jamur lain di Desa Tulungrejo. Dia baru memulai usahanya sejak tahun 2007 lalu. Sebelumnya, sejak tahun 1969-1986 dia peternak sapi perah laiknya tetangga kanan-kiri. Namun, banting setir menjadi apel pada 1987 lantaran keuntungan peternak sapi perah sangat minim. Terlebih pihak Koperasi Unit Desa tidak berani membeli susu perah dengan harga tinggi. Suwatman dan keluarganya tekor.

Menjadi petani apel selama 20 tahun, Suwatman merasakan keuntungan berlipat-lipat. Itu dirasakan ketika hasil panen setiap enam bulan sekali selalu naik drastis. Semula hanya satu-dua ton, kini delapan belas hingga dua puluh ton. Sayang, keuntungan ini tidak sebanding dengan biaya obat pembasmi hama yang kian mahal. Bapak bergigi ompong itu mulai berpikir.

Baglog

Perapian untuk mematangkan sekaligus mensterilkan baglog

Jamur Osteon dan Florida menjadi pilihan usaha terakhir bagi keluarga Suwatman. Hal itu didasari dari cerita tetangga yang mengungkapkan serunya berbudidaya jamur. Murah, hasil produksi banyak, dan tidak bergantung musim tumbuh. Suwatman tergiur!

Mulailah dia meminjam 200 juta di bank milik pemerintah. Modal untuk membeli bibit dan baglog. Modal itu dijanjikan kembali dalam kurun waktu satu tahun. Dan memang kembali. Jamur memberikan kepastian janji! Untung keluarga Suwatman semakin berlipat di sisi lahan apelnya yang juga terus tumbuh. Suwatman mendulang rupiah semakin banyak. Dia pun tidak mau rugi. Pelan-pelan usahanya dikembangkan. Mulai membuat baglog sendiri, membuat bibit kaya vitamin, serta mendistribusikan produk olahan jamur hingga ke luar pulau. Suwatman kaya!

Bibit jamur dalam botol berisi jagung

Kumbung jamur

Sayang, Suwatman harus kecewa. Pada pemerintah daerah setempatlah dia bersedih. Sebagai bagian dari petani, dia dan seluruh petani di Tulungrejo tidak mendapatkan pengakuan resmi dari Dinas Pariwisata Kota Batu. Yang ada, kedinasan mengaku-aku bahwa kesuksesan petani di sana adalah berkat kerja keras mereka. Adanya penyebutan desa wisata adalah berkat Disparta. Padahal, kalau Suwatman mau sesumbar, keberadaan desa wisata jamur adalah karena petani seperti dirinya sadar terhadap potensi wisata yang ada di Kota Batu. Mereka tahu, kotanya memiliki magnet sejuta pesona. Selain hanya mengaku, Disparta juga tidak pernah memberikan bantuan apapun pada petani.

Berbeda dengan Dinas Pertanian setempat yang memberi bantuan, meski tidak seratus persen perkelompok tani. Setidaknya, Suwatman dan keluarganya tidak perlu gelisah dengan masa depan kumbung jamurnya. Setidaknya, dia dan petani jamur lain di Tulungrejo siap menjadi petani mandiri tanpa perhatian dari Disparta. Setidaknya, begitu yang dirasakan keluarga Suwatman mewakili petani lain Tulungrejo, Kota Batu.



Jamur Osteon
Post a Comment