Skip to main content

Kegelisahan Petani Jamur Kota Batu

Pabrik pembuatan baglog Suwatman

Memilah serbuk gergaji

Kota Wisata Batu memiliki sejuta pesona. Setidaknya begitu yang dikatakan jamak orang dari tetangga Kota Batu. Surabaya, Mojokerto, Gresik, Sidarjo, dan Malang. Bahkan, tak sedikit pula pengunjung kota dengan udara sejuk ini datang dari luar provinsi. Tentu saja, banyak alasan yang membawa mereka datang. Bisa karena adanya tempat wisata keluarga yang semakin subur, juga adanya wisata alam yang kian beragam jenisnya. Mulai rafting, paragliding, hiking, air terjun, dan pemandian air hangat. Tidak ketinggalan pula di kota yang berada di kaki Gunung Panderman ini juga terdapat aneka ragam desa wisata besutan kelompok warga setempat. Salah satu desa wisata yang ada adalah Desa Wisata Tulungrejo.

Terletak di kaki Gunung Arjuno,  potensi Desa Wisata Tulungrejo sangat beragam. Ada wisata jamur, kelinci, sapi perah, kebun bunga, dan masih banyak lagi macamnya. Namun, yang cukup menonjol, budidaya yang dikembangkan oleh beberapa penduduk Tulungrejo berupa jamur. Modal sedikit dengan hasil menggiurkan membuat penduduk Tulungrejo melabuhkan perhatian pada tanaman parasit.

Serbuk gergaji dicampur kalium dan pupuk

Pembuatan baglog

Salah satu petani jamur yang ada di Desa Tulungrejo, Dusun Wonorejo adalah Suwatman. Usianya tidak lagi muda. Meski demikian, dia tergolong pemain baru di antara petani jamur lain di Desa Tulungrejo. Dia baru memulai usahanya sejak tahun 2007 lalu. Sebelumnya, sejak tahun 1969-1986 dia peternak sapi perah laiknya tetangga kanan-kiri. Namun, banting setir menjadi apel pada 1987 lantaran keuntungan peternak sapi perah sangat minim. Terlebih pihak Koperasi Unit Desa tidak berani membeli susu perah dengan harga tinggi. Suwatman dan keluarganya tekor.

Menjadi petani apel selama 20 tahun, Suwatman merasakan keuntungan berlipat-lipat. Itu dirasakan ketika hasil panen setiap enam bulan sekali selalu naik drastis. Semula hanya satu-dua ton, kini delapan belas hingga dua puluh ton. Sayang, keuntungan ini tidak sebanding dengan biaya obat pembasmi hama yang kian mahal. Bapak bergigi ompong itu mulai berpikir.

Baglog

Perapian untuk mematangkan sekaligus mensterilkan baglog

Jamur Osteon dan Florida menjadi pilihan usaha terakhir bagi keluarga Suwatman. Hal itu didasari dari cerita tetangga yang mengungkapkan serunya berbudidaya jamur. Murah, hasil produksi banyak, dan tidak bergantung musim tumbuh. Suwatman tergiur!

Mulailah dia meminjam 200 juta di bank milik pemerintah. Modal untuk membeli bibit dan baglog. Modal itu dijanjikan kembali dalam kurun waktu satu tahun. Dan memang kembali. Jamur memberikan kepastian janji! Untung keluarga Suwatman semakin berlipat di sisi lahan apelnya yang juga terus tumbuh. Suwatman mendulang rupiah semakin banyak. Dia pun tidak mau rugi. Pelan-pelan usahanya dikembangkan. Mulai membuat baglog sendiri, membuat bibit kaya vitamin, serta mendistribusikan produk olahan jamur hingga ke luar pulau. Suwatman kaya!

Bibit jamur dalam botol berisi jagung

Kumbung jamur

Sayang, Suwatman harus kecewa. Pada pemerintah daerah setempatlah dia bersedih. Sebagai bagian dari petani, dia dan seluruh petani di Tulungrejo tidak mendapatkan pengakuan resmi dari Dinas Pariwisata Kota Batu. Yang ada, kedinasan mengaku-aku bahwa kesuksesan petani di sana adalah berkat kerja keras mereka. Adanya penyebutan desa wisata adalah berkat Disparta. Padahal, kalau Suwatman mau sesumbar, keberadaan desa wisata jamur adalah karena petani seperti dirinya sadar terhadap potensi wisata yang ada di Kota Batu. Mereka tahu, kotanya memiliki magnet sejuta pesona. Selain hanya mengaku, Disparta juga tidak pernah memberikan bantuan apapun pada petani.

Berbeda dengan Dinas Pertanian setempat yang memberi bantuan, meski tidak seratus persen perkelompok tani. Setidaknya, Suwatman dan keluarganya tidak perlu gelisah dengan masa depan kumbung jamurnya. Setidaknya, dia dan petani jamur lain di Tulungrejo siap menjadi petani mandiri tanpa perhatian dari Disparta. Setidaknya, begitu yang dirasakan keluarga Suwatman mewakili petani lain Tulungrejo, Kota Batu.



Jamur Osteon

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…