Thursday, September 4, 2014

Travel Writer VS Jurnalis



travelwritingonlocation

Saya menyukai dunia kepenulisan sejak kecil. Selain karena mengenal buku cerita sejak dini, mungkin bakat suka membaca dari ayah dan menulis ibu menurun. Belakangan, kemampuan menulis saya diuji ketika diterima menjadi copywriter di salah satu portal media terkenal di Indonesia dan kini sebagai jurnalis di televisi lokal Jawa Timur.

Kemampuan menulis saya masih selalu under reconstruction. Itulah sebabnya, saya memilih untuk mengikuti workshop travel writing, fotografi, dan sosial media yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Batu, 3-4 September ini. Saya tertarik dengan isi materi yang ditawarkan. Terlebih, pematerinya keren-keren. Ada Mas Setiyadi Darmawan (Fotografer), Barry Kusuma (Travel Foto Blogger), dan Himawan (Travel Writer).

Semua sesi menarik. Sangat menarik. Tapi, saya terkesan dengan materi yang ditawarkan oleh Mas Him. Yakni, how to be a great travel writer? Sampai saat ini, belum ada definisi lain yang bisa menerjemahkan arti travel writer selain, penulis perjalanan yang bukan hanya menulis. Tapi juga merasakan, mendengar, melihat, dan mengalami.

Dalam materi yang Mas Him sampaikan, seorang travel writer sangat berbeda dengan jurnalis. Mulai dari gaya bahasa yang dituliskan, pendekatan saat wawancara, materi obrolan, pengalaman, bahkan semuanya dianggap berbeda. Saya seorang amateur journalist pun writer. Saya pernah merasakan keduanya. Apa betul perbedaannya seekstrem itu?

Seorang travel writer merupakan pejalan sejati. Dia dilarang menulis jika tidak merasakan, mengalami, mendengar, melihat, dan berada di dalamnya. Materi yang ditulis adalah apa yang betul-betul dia alami sendiri. Bukan dari sekadar menyadur artikel bebas yang kemudian ditulis ulang dengan gaya bahasa berbeda. Bukan itu.

Materi penulisan travel writer pun bukan berupa hard/ straight news maupun features. Tapi justru semi features yang bersifat informatif dengan gaya bahasa mudah dicerna, ringan, dan berkesan. Penulisan materinya harus disertai dengan wawancara mendalam layaknya indepth news.

Selama ini, saya mengenal kaidah penulisan 5W1H, yang meski tidak semua unsur masuk dalam satu artikel, namun harus mencakup unsur tersebut. Di sini, menurut Mas Him, unsur 5W1H tidak terlalu diperlukan. Karena artikel wisata bersifat informatif namun ringan, jadi beberapa unsur yang ada tidak harus digunakan.

Gaya bahasa penulisan artikel juga tergantung siapapun penulisnya. Penulis bisa menggunakan gaya bahasa seperti menceritakan kembali pengalaman perjalanan, menuliskan dalam bentuk poin atau tips numeral, atau tulisan bersifat informatif semisal info wisata, akomodasi, how to get there, dan kuliner. Semuanya bergantung penulis masing-masing. Karena utamanya adalah merasakan apa yang dituliskan sendiri.

Yang terakhir, poin penting dari menulis cerita perjalanan adalah harus jujur. Saya pikir ini mutlak bagi seorang travel writer maupun jurnalis. Karena berita yang jujur dan informatif adalah hal yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penulis atau jurnalis dilarang keras membohongi publik, kecuali penulis fiksi--yang murni menggunakan imajinasi sebagai materi.

Sebenarnya, travel writer dan jurnalis tidak begitu mencolok perbedaannya, kalau menurut saya. Sebab, penulis yang mungkin juga seorang jurnalis pasti tahu bagaimana dia harus menulis. Mulai dari tahu apa yang ditulis, gaya bahasa, siapa sasaran pembacanya, dan lain sebagainya.

Memang, dalam junalistik akan ada aturan baku bagaimana harus mencari berita, dekat dengan narasumber, lalu menuliskan dengan baik. Ada sekat yang harus dipatuhi oleh seorang jurnalis. Yaitu, menghormati privasi narasumber yang enggan menceritakan sesuatu secara detail atau bahkan menolaknya. Berbeda dengan travel writer yang justru harus membaur, mengakrabkan diri layaknya teman sejati. Dengan memposisikan diri sebagai teman, narasumber akan lebih welcome menyambut kita.

Secara umum, jurnalis dan travel writer adalah sama. Sebab, jurnalis juga dituntut demikian. Tapi akan berbeda jika memperkenalkan diri sebagai jurnalis dan travel writer. Keduanya pernah saya alami. Namun, kedalaman materi yang didapat, banyak sedikit pembaca yang menanti, baik sebagai jurnalis maupun travel writer, itu tergantung bagaimana cara penulis memposisikan diri, bersikap di depan narasumber, dan cerdik memancing jawaban.
Post a Comment