Saturday, October 4, 2014

Reporter Mengajar di Kelas Inspirasi

Relawan pengajar, fotografer, dan fasilitator Kelas Inspirasi Magetan

Menjadi bagian dari dunia pendidikan sudah pernah saya alami, bahkan hingga kini. Entah sebagai siswa, guru, atau reporter pos pendidikan. Ada banyak hal yang ingin saya komparasi. Mulai dari metode pengajaran efektif, medan menuju tempat belajar, guru pengajar, hingga fasilitas penunjang pendidikan di antarsekolah.

Selama sekolah, saya banyak menghabiskan waktu di Surabaya dan tiga tahun di Singosari Kabupaten Malang. Selebihnya, hanya informasi melalui surat kabar dan televisi yang bisa menggambarkan kondisi menyedihkan pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia. Menyedihkan? Ya, tentu saja. Ada banyak hal yang perlu dikupas tuntas jika mulai bicara pendidikan. Dan itu tidak sebentar. Tapi biarlah perubahan kecil dunia pendidikan dimulai dari saya sendiri.

Sebutlah Kelas Inspirasi. Sudah dua tahun Kelas Inspirasi diselenggarakan. Namun, masih sangat banyak orang tidak tahu menahu tentang kegiatan ini. Kelas Inspirasi (anggaplah sebagai) turunan dari Indonesia Mengajar, gerakan mengajar setahun di tempat dengan akses terbatas. Gerakan ini didominasi oleh mahasiswa baru lulus dengan IPK sebagai hard skill fantastis dan kemampuan organisasi sebagai soft skill mumpuni. Bedanya, Kelas Inspirasi hanya mengajar satu hari saja oleh pekerja dengan minimal dua tahun bekerja di bidangnya. Misalnya saya, sebagai reporter televisi lokal Jawa Timur, JTV.

Relawan pengajar Kelas Inspirasi Magetan

Saya bergabung Kelas Inspirasi pada 29 September lalu. Kabupaten Magetan menjadi pilihan. Kontur pegunungan, tidak ada tempat wisata menarik, supersepi, daerah dengan UMK paling rendah di Jatim, dan belum pernah mampir, menguatkan saya untuk memilih dan membandingkan secara langsung.

Jalanan menuju SDN Sukowidi 2, dekat Gunung Lawu

Sebelum masuk sekolah, siswa membersihkan halaman sekolah

Di SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan atau pos ketiga Gunung Lawu saya ditempatkan. Berbagai persiapan seadanya-sebisanya saya lakukan. Mulai dari menyiapkan peraga berupa televisi dan microphone berbahan sterofoam, materi bernyanyi, dan ice breaking, juga doorprize berupa majalah dan buku. Doorprize sepenuhnya disumbang oleh adik saya yang masih berusia sembilan tahun, Tita. Dia mau menyumbang buku setelah saya menceritakan kondisi sekilas dan foto tentang siswa SD yang akan saya ajar. Merasa iba pada teman sebaya, Tita menyumbangkan buku dan majalah yang menjadi benda favoritnya:’). Sementara televisi dan microphone dibuat untuk memudahkan cerita tentang profesi saya.

Peraga sebisanya. Televisi dan microphone

Doorprize dari Tita buat teman sebayanya

Saat mengajar, kelas dibagi menjadi dua, masing-masing 45 menit. Kelas 1-3 dan kelas 4-6. Metode pengajaran antarkelas dibuat berbeda. Di kelas dengan usia siswa lebih kecil, 7-9 tahun, saya lebih banyak bernyanyi, bertepuk tangan, ice breaking, dan sedikit memaparkan materi. Materi yang saya ajarkan di kelas hanya membandingkan antara film kartun dan berita. Saya juga memberikan candu bahwa menjadi reporter bisa keliling Indonesia, bahkan dunia. Peraga televisi dan microphone serta handycam dibawa serta untuk meyakinkan bahwa pekerjaan saya menarik :p. Doorprize saya berikan bagi siswa yang mau maju dan menceritakan cita-citanya atau mau menerangkan kembali tentang profesi reporter.

Berpindah ke kelas yang lebih tinggi membuat saya lebih nyaman. Sebabnya, hampir semua murid sama konyol dengan Tita. Jadi, saya menghadapi mereka seperti berbicara dengan adik bungsu. Menyenangkan!

Materi mengajar juga saya buat sama sederhana dengan sedikit modifikasi. Yakni mendeskripsikan pekerjaan reporter melalui tanya jawab, membandingkan berita dengan film kartun, lalu memeragakan layaknya reporter di depan kelas, serta mengajarkan nilai positif saat bekerja nantinya. Saya terinspirasi di kelas ini. Jika saya pernah grogi saat bicara di depan kamera, maka anak-anak ini tidak. Mereka dengan santai dan cengengesan melaporkan kebakaran dan banjir bandang lengkap dengan wawancara teman sebagai narasumber. Saya tidak banyak bernyanyi di kelas ini. Hanya lebih sering melakukan tepuk diam untuk mendiamkan kelas jika sedikit gaduh sementara saya harus berbicara.  Mengakhiri kelas, saya berikan ice breaking yang diajarkan fasilitator (panitia Kelas Inspirasi Magetan) saat briefing.

Di kedua kelas, saya awali dengan pola reportase. Saya masuk seolah-olah sedang melaporkan kejadian di kelas dengan siswa pandai. Dengan pola seperti itu, siswa bisa langsung fokus pada saya. Kalau pun tidak paham, pasti cuma melihat tapi memperhatikan :)).

Mengendalikan kelas

Belajar reportase

Siswa sebagai narasumber

Selesai materi dan istirahat, siswa diajak menuliskan harapan di kain putih. Harapan ditulis dengan menempelkan tangan menggunakan cat warna-warni lalu menuliskan nama dan cita-citanya. Tidak hanya siswa, fasilitator, relawan pengajar, dan fotografer juga ikut menuliskan cita-citanya. Bukan tanpa alasan, menuliskan cita-cita sejak dini bisa membuat siswa merasa terpacu untuk meraihnya. Saya hanya satu hari berinteraksi dengan mereka. Bisa saja apa yang saya sampaikan tidak sepenuhnya diserap. Mereka memang tidak ada yang ingin jadi reporter, tapi semoga apa yang saya sampaikan tersimpan—baik sedikit ataupun banyak—dan memberikan semangat tersendiri agar mereka mau belajar lebih tinggi. Karena penutup ilmu hanya berada di liang lahat.

Menulis cita-cita di tongkat impian

Bersama guru di SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan

Relawan pengajar, fotografer, dan fasilitator SDN Sukowidi 2, Panekan, Magetan

Saya bersama Taufik, murid yang persis dengan Tita
Post a Comment