Sunday, November 23, 2014

Rujak Selingkuh, Kuliner Khas Sumenep

Apa yang kalian pikirkan tentang selingkuh? Mendua atau nggak setia? Hmmm, kalau saya, sih, mikirnya begitu. Tapi, tahukah kalian kalau selingkuh bukan hanya dialami oleh manusia dan hewan--secara hewan nggak berakal, nggak ada hukumnya, selingkuh sama anak pun nggak dosa--? Di Sumenep, perselingkuhan dialami oleh makanan.

Awal November lalu, saya mampir ke Sumenep untuk main-main. Salah satu hal yang wajib dilakukan saat jalan-jalan adalah mencicipi kuliner khasnya. Saya pun mencicipi kuliner yang bikin penasaran. Namanya, Rujak Selingkuh.

Usai jalan-jalan, Minggu siang itu, tour guide kami mengantarkan untuk mencicipi makanan khas Sumenep di daerah Pejagalan, dekat alun-alun. Saya nggak tahu persis nama jalannya, karena memang dari awal perjalanan sampai akhir, saya susah mengingat nama-nama dan lajur jalannya. Katanya Ari--teman baru yang menjadi tour guide--tempat makan yang menjorok ke dalam gang itu legendaris. Kami--tepatnya saya--sih, manut saja. Keburu lapar.

Ada tiga menu makanan yang ditawarkan; Rujak, Soto Babat, dan Rujak Selingkuh. Awal membaca menu, saya langsung tertarik dan memesannya.

Rujak Selingkuh adalah makanan serupa Soto Rujak dari Banyuwangi. Yakni, percampuran antara rujak dan soto dalam satu wadah. Isinya, separuh porsi Soto Babat dan separuh porsi Rujak Sumenep. Babat sapi, bumbu rujak petis, irisan buah, tauge, tahu, tempe, lontong, dan satu tambahan bahan unik; irisan singkong rebus!

Jadi, Sumenep ini memang dikenal dengan produksi singkong. Nggak heran, oleh-oleh paling banyak dicari dari Sumenep adalah keripik singkong!

Jangan tanya rasa perselingkuhan rujak dan soto. Sebab, sampai akhir, indra pengecap saya sulit membedakan rasanya. Mana rasa rujak, mana rasa soto. Mungkin, karena saat itu saya agak flu, jadi rasanya pun nggak kentara di lidah. Yang paling saya ingat, perselingkuhan rujak dan soto memberikan rasa manis berlebihan di lidah dan pedas--mending sambal, karena saya nggak suka makanan manis, tentunya--juga efek kenyang luar biasa. Seporsi Rujak Selingkuh hanya dihargai 11.000 rupiah, sama persis dengan harga Soto Babat. Murah? Standarlah ya. Di Surabaya harga makanan seporsi juga segitu. Jadi, kalau ke Sumenep, bisa banget incip-incip Rujak Selingkuhnya. Lalu, ceritakan pada saya bagaimana rasa aslinya, hehe.

Btw, lepas makan siang itu sampai sekarang saya penasaran dengan satu hal; jadi, awal mula perselingkuhan di muka bumi ini diawali oleh rujak atau manusia? Rujak menginspirasi manusia untuk berselingkuh atau manusia menginspirasi rujak untuk mendua? Ini permasalahan serius.

Post a Comment