Monday, December 1, 2014

Gara-gara Prewedding

Kami sama-sama penyuka traveling. Suka sekali. Kemanapun, jika sedang sama longgar, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Entah dengan teman-temannya, atau temanku, atau berdua saja. Tidak di Surabaya, tentunya. Di luar kota.

Saking sukanya kami dengan jalan-jalan, hampir setiap bertemu, setiap berkomunikasi, materi yang dibahas adalah; kemana liburan kita selanjutnya? Selalu.

Hanya saja, kesukaan kami berbeda. Aku suka sekali dengan pantai. Deburan ombaknya yang menenangkan, pasir putih halus menggelitik telapak kaki, angin semilir menentramkan, semua lepas. Melepaskan hampir seluruh penat di tiap-tiap persendian.

Sementara dia, penyuka gunung tingkat dewa. Jangan tanya berapa kali kami berdebat memutuskan tempat tujuan liburan. Berkali-kali dan selalu. Alhasil, jalan keluarnya kami sama-sama mengalah.

Seperti bulan lalu, saat kami memutuskan untuk ke Gunungkidul, Jogjakarta. Sehari kami ke belasan pantai selatan, sehari berikutnya kami naik Merapi, sehari sisanya kami ke Gua Pindul. Perpaduan antara pantai dan gunung. Ada air dan bebatuan. Klise.

Sebagai anak gunung sejati, persiapannya komplit luar biasa meski hanya sehari dan tanpa mendirikan tenda. No besar. Awal perjanjian begitu. Kalau memang mau adil, kami tidur di hotel, bukan membuka tenda hanya karena urusan selera tempat liburan. Aku tahu persis, kalau sudah membuka tenda, dia nggak bakal mau cepat pulang. Kebiasaan.
***

Hari ini kami ribut, lagi. Alasannya lagi-lagi masalah selera. Menentukan tempat prewed yang cantik dan eksotis. Kami ribut. Mau gunung atau pantai?

Seperti biasa, aku ngotot ke pantai. Alasannya, sunset atau sunrise di pantai itu romantis. Cewek banget, kan, ya? Sementara dia juga ngotot berat mau ke gunung. Tujuannya ke Bromo. Lengkap dengan motor vespa bututnya.

Plislah, masa iya ke gunung naik vespa? Lagipula, ini Bromo, gunung pasir. Masa iya, sih? Berkali-kali aku tanya ke dia, "Are you crazy or what?"

Coba dipikir, Bromo memang eksotis. Sunrise di sana dikenal cantik. Tapi menuju ke sana nggak harus penuh perjuangan juga, kan? Apalagi buatku yang nggak begitu suka gunung, nggak suka capek, apalagi ribet. Kalau ada yang mudah, kenapa harus ribet?

Belum lagi dia ingin foto dengan latar penuh Bromo. Yang artinya, vespa butut-warna-oranye-ngejreng-yang-katanya-sesuai-selera-warna-kesukaanku-padahal-nggak-juga-itu dibawa sampai ke lautan pasir. Yang artinya lagi, kami harus menuruni kelokan 45 derajat untuk sampai ke sana. Kelokan tajam dan bikin sesak napas. Lalu, lautan pasir harus ditempuh untuk benar-benar berada di puncaknya. Nggak kebayang. Aku pernah sekali ke Bromo menggunakan motor, itu capek sekali. Perlu tenaga ekstra mengingat roda motor nggak secanggih mobil off road. Lah, ini malah pakai vespa. Dia masih waras, kan?

Sebenarnya, aku nggak masalah dia menggunakan vespa sebagai properti wajib untuk prewed. Tapi, mbok ya dia lihat situasi dan kondisi. Iya, aku tahu kalau vespa ngejreng itu cinta sejatinya. Tapi... ah, sudahlah.

Kupikir, pantai memang satu-satunya tempat paling aman untuk liburan. Tenang, nyaman, dan damai. Ya ampun, apalagi yang diragukan dari pantai, sih? Kalau ada orang tenggelam di pantai, masa iya salah pantai? Kalau ada pantai jorok dan kotor, masa iya aku pilih pantai itu? Di pantai, semua bisa dilogika. Nggak susah dijangkau dan membebaskan pikiran.

"Jadi, sampai hari ini kalian masih ribut?" Gista, temanku yang juga temannya, bertanya padaku. Wajahnya tampak nggak habis pikir dengan kelakuan kami. Aku maklum saja. Gista, kan, nggak merasakan sebagai aku. Sebagai partner in crime pemuda yang nggak mau ngalah. Wajar.

Aku mendengus saja.

"Sudah, seminggu nggak komunikasi, kan? Itu lama banget, loh, buat ukuran wanita yang mau menikah. Apalagi tinggal satu kota." Gista masih nyerocos. Biarin sajalah, terserah dia menganggap hubungan kami semacam apa. Toh, dia nggak ikut menjalankan peran.

"Eh, tapi, memangnya prewed itu perlu banget ya? Wajib gitu?" Tiba-tiba nada kalimat Gista berubah nggak yakin. Aku apalagi.

Tanganku mencubit pipi kanannya. "Kamu pikir, kalau prewed nggak penting, bisa bikin kami gondok-gondokan selama seminggu gitu?"
***

Rasanya aneh, tanggal pernikahan sudah ditentukan tapi kami malah berantem. Ada gitu lebih dari dua minggu. Meeen, dua minggu! Bayangpun, dua minggu berantem hanya karena menentukan latar prewed. Demi masa. Apa kabar gedung, catering, dan riasan manten ya?

Aku mematut diri di cermin. Memanyunkan mulut sesekali melihat hape. Nihil. Dia masih keukeuh nggak menghubungi aku. Kok dia bisa kuat, sih? Aku gemas sendiri. Laki-laki payah.

"Mau sampai kapan kalian berantem begini, heh?" Tara, sepupuku yang merangkap menjadi fotografer pesananku muncul tiba-tiba. Di pundaknya menggantung kamera mahal properti wajib yang harus dibawa.

Fiuuuh. Aku menghela. Bergeming. Hanya melihatnya sekilas lalu abai.

"Oh iya, dia punya usul baru. Mau ke Pantai Merah atau ke Ijen Crater?" Tara melempar tanya. "Nggak harus pakai vespa, sih."

Heh? Serius, kalimat tambahan Tara langsung membuatku kaget. Prewed? Tanpa vespa bututnya? Kok bisa gitu? Aku memainkan bola mata, berpikir. Sejenak-dua, hapeku sudah menempel di telinga.

"Kenapa, sih, menikah harus ribet dengan prewed?" Aku bertanya pada suara di seberang. Rasanya tenang begitu mendengar kabarnya baik saja. Aku kangen.

Dia tertawa.

"Memangnya, menikah dengan prewed itu perlu?"

Di sana, lelakiku masih tertawa.

"Kenapa kita nggak melupakan semua tentang prewed lalu berbaikan? Aku kangen tau." Aku gemas sendiri. Sial. Harga diriku bisa tiba-tiba jatuh begini di depannya.

Dua detik, ada senyap di antara kami. "Ya sudah, kutunggu di Stasiun Semut sekarang. Ajak Tara juga." Dia menutup kalimatnya dengan tersenyum. Aku tahu itu.

Seketika aku teringat, bahwa kami juga memiliki kesukaan lain. Bangunan tua dan kereta api. Semuanya ada di Stasiun Semut. Ah, kenapa aku bisa lupa. Seandainya menikah nggak perlu ribet.

Aku berkemas kegirangan. "Kita berangkat ke Semut. Pemotretan di sana." Sahutku senang pada Tara.

Post a Comment