Monday, December 1, 2014

Sarangan: Telaga di Kaki Gunung Lawu

 
Gunung Lawu dari Telaga Sarangan
 
Pernah ke Magetan? Jujur saja, saya baru kali pertama ke Magetan September lalu. Sebelumnya, hanya numpang lewat. Kali pertama ke Magetan lantaran saya ikut dalam Kelas Inspirasi sebagai relawan pengajar. Dua kali saya ke Magetan, dua kali pula saya mendapat sambutan hangat dari teman-teman baru *sungkem*.

Minggu pertama ke Magetan, saya ngotot sekali ingin ke Telaga Sarangan. Iya, maskot wisata yang dipunya kabupaten yang dikenal dengan budidaya jeruk pamelo. Saya kenal Telaga Sarangan sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Saat itu, di buku Bahasa Inggris ada materi bacaan tentang Telaga Sarangan, penginapan, speed boat, dan sewa kuda. Sejak saat itulah saya penasaran dengan Telaga Sarangan. Norak? Biarin aja.

Pagi itu, setelah sarapan Tepo Pecel, saya dan 4 teman (Mbak Sasa, Mas Andian, Mbak Eka, dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--) berangkat menggunakan motor. Jalanan Magetan pagi super sepi, sejuk, dan menenangkan. Yakin, saya betah berlama-lama di sana--asalkan ada mal, kafe, bioskop, bolehlah sebulan-dua:p. Inilah bedanya Magetan dan Surabaya. Sekitar pukul 8 pagi, jalanan masih adem ayem. Beda banget sama Surabaya yang padat dan penuh polusi.

Berkendara sekitar 30 menit, kami sampai di Telaga Sarangan, Plaosan. Tidak ada tiket masuk di sini. Layaknya daerah wisata lain yang saya jumpai, Telaga Sarangan menerapkan asas warga asli Magetan monggo masuk gratis. Kira-kira begitu. Sebabnya, Mas Andian dan Mas--yang saya nggak tahu namanya--asli Magetan. Jadi, langsung menerobos pintu masuk, hehe.

Awal parkir di telaga yang berada di kaki Gunung Lawu hal yang saya takjubkan adalah; ini tempat wisata apa? Kok susunan daerah wisatanya berantakan? Maklum saja, sekilas saya melihat, mobil dan sepeda motor ada dimana-mana, nggak ada aturan. Tata wisatanya jelek. Serius. Bukan saya menghina atau apa, tapi saya sebagai wisatawan domestik kaget begitu melihat pertokoan ada di tengah jalan dengan ketumpah-ruahannya.  How come?


Semrawutnya tatanan wisata Telaga Sarangan

Lupakan kesemrawutan di depan. Kami menjejakkan kaki tepat di bibir telaga. Melihat-lihat pengunjung lain tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Menawar dagangan, naik kuda, menawar speed boat, makan Tepo Sate Kelinci. Ramai. Mbak Eka mengajak kami naik speed boat seharga 50 ribu rupiah sekali putaran telaga perkapal. Saya menolak karena enggak minat. Tapi akhirnya luluh dengan wajah iba Mbak Eka yang serius sekali menawarkan naik speed boat gratis *muka gratisan*



Bisa naik boat atau pun kereta kayuh

Awalnya, saya ingin sekali ke Air Terjun Tirtosari. Tapi, melihat saya dikejar waktu dan kondisi teman-teman kelelahan, maka ditunda. Agenda berikutnya hanya duduk manis di tepi telaga. Ada buanyak sekali penjaja minuman hangat mengitari telaga seluas 30 hektar lengkap dengan gelaran tikar dan angin semilir. Minuman dan jajanan hangat siap disantap dengan harga standar. Bagi yang tidak ingin lelah, sampai di Sarangan bisa banget hanya duduk di tepi telaga sambil memakan bekal dan sharing. Suasananya tenang dan tentram membuat saya lupa akan penatnya Surabaya. Saya senang di sini. Di sepanjang mata memandang, hamparan pepohonan hijau mengelilingi. Tenaaang. Tertarik buat ke Telaga Sarangan?

Bisa naik kuda juga, 40.000 rupiah sekali putaran 

Tatanan penginapan di lekuk pegunungan 

Telaga Sarangan bisa ditempuh dari Surabaya menggunakan bis ekonomi jurusan Jogja turun di Terminal Maospati. Dari Maospati bisa naik ojek atau sewa motor ke Sarangan. Karena sepanjang pengamatan saya, nggak ada angkot menuju Sarangan. Nggak usah bawa uang saku banyak-banyak, di sana harga apa-apa murah. Jadi, kapan dong kalian ke Magetan?
Post a Comment