Skip to main content

Mencicip Budaya Ngopi Warga Belitung

Bicara Belitung, tentu kita ingat cerita novel dan film laris Laskar Pelangi. Tapi, apa yang tenar dari pulau yang dikenal memiliki latar pantai ciamik soro itu? Ngopi! Ya, Belitung bukan hanya soal pantai. Ngopi juga.

Belum sehari di Belitung, saya sudah mencicip budaya asik warga lokal. Saya dan tiga teman mencoba gaul dengan ngopi. Setelah cuti ngopi lima bulan, akhirnya... saya ngopi juga. Asik banget!

Budaya ngopi di Belitung ternyata sudah mengakar. Apa-apa hampir selalu ada di warung kopi. Maksudnya, semua pembicaraan baik kecil maupun berita heboh pasti diramu di warung kopi.

Malam ini, kami ngopi asik di warung kopi legendaris di pusat kota Belitung, Tanjung Pandan. Tepatnya di Jalan Sriwijaya gang 60. Tempatnya nyempil sekali, tapi warga lokal yang nongkrong asik banget. Umumnya bapak-bapak berumur yang kerap menghabiskan malam sambil nongkrong. Salah satu pengunjung yang saya temui adalah Pak Muhammad.

Di warung Koh A Tiam, kami berbincang cukup panjang. Mulai dari riwayat penamaan gang 60 sampai kenapa harus ngopi?

Gang 60 dulunya merupakan wilayah perumahan warga Tionghoa. Cina semua. Menghuni enam puluh rumah di gang di tengah kota. Sekarang, keberadaan warga Tionghoa di gang 60 sudah bercampur dengan warga Melayu. Mereka tetap bersatu padu menempati bangunan lama yang tak banyak berubah.

Sementara budaya ngopi sudah kental meski Babel bukan daerah penghasil kopi.

Di gang 60, ada beberapa warung yang menjual kopi seduh. Semuanya lama sejak 1945. Namun Koh A Tiam adalah pedagang baru. Dia baru membuka warung kopi pada 2004. Namun dia satu-satunya warung kopi yang buka di gang 60 kala malam tiba.

Bertandang ke tempat legendaris dengan arsitektur superoldiest memberikan rasa tersendiri. Teman ngobrol bapak-bapak asik, tempatnya nyaman, suasana bersahabat. Apalagi yang dicari selain ketenangan? Malam pertama di Belitung menyenangkan. Menghabiskan malam hanya dengan segelas kopi hitam seharga tiga ribu rupiah. Bercanda sampai puas dengan warga lokal. Membicarakan sejarah warga dan kebiasaan lokal.

Ngopi di Belitung ternyata asik. Besok pagi, setelah berenang, rencananya kami mau balik ngopi lagi. Lalu sehari ke Manggar, mau ngopi lagi. Aihhh... ngopi yang membudaya!

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…