Tuesday, January 27, 2015

Mencicip Budaya Ngopi Warga Belitung

Bicara Belitung, tentu kita ingat cerita novel dan film laris Laskar Pelangi. Tapi, apa yang tenar dari pulau yang dikenal memiliki latar pantai ciamik soro itu? Ngopi! Ya, Belitung bukan hanya soal pantai. Ngopi juga.

Belum sehari di Belitung, saya sudah mencicip budaya asik warga lokal. Saya dan tiga teman mencoba gaul dengan ngopi. Setelah cuti ngopi lima bulan, akhirnya... saya ngopi juga. Asik banget!

Budaya ngopi di Belitung ternyata sudah mengakar. Apa-apa hampir selalu ada di warung kopi. Maksudnya, semua pembicaraan baik kecil maupun berita heboh pasti diramu di warung kopi.

Malam ini, kami ngopi asik di warung kopi legendaris di pusat kota Belitung, Tanjung Pandan. Tepatnya di Jalan Sriwijaya gang 60. Tempatnya nyempil sekali, tapi warga lokal yang nongkrong asik banget. Umumnya bapak-bapak berumur yang kerap menghabiskan malam sambil nongkrong. Salah satu pengunjung yang saya temui adalah Pak Muhammad.

Di warung Koh A Tiam, kami berbincang cukup panjang. Mulai dari riwayat penamaan gang 60 sampai kenapa harus ngopi?

Gang 60 dulunya merupakan wilayah perumahan warga Tionghoa. Cina semua. Menghuni enam puluh rumah di gang di tengah kota. Sekarang, keberadaan warga Tionghoa di gang 60 sudah bercampur dengan warga Melayu. Mereka tetap bersatu padu menempati bangunan lama yang tak banyak berubah.

Sementara budaya ngopi sudah kental meski Babel bukan daerah penghasil kopi.

Di gang 60, ada beberapa warung yang menjual kopi seduh. Semuanya lama sejak 1945. Namun Koh A Tiam adalah pedagang baru. Dia baru membuka warung kopi pada 2004. Namun dia satu-satunya warung kopi yang buka di gang 60 kala malam tiba.

Bertandang ke tempat legendaris dengan arsitektur superoldiest memberikan rasa tersendiri. Teman ngobrol bapak-bapak asik, tempatnya nyaman, suasana bersahabat. Apalagi yang dicari selain ketenangan? Malam pertama di Belitung menyenangkan. Menghabiskan malam hanya dengan segelas kopi hitam seharga tiga ribu rupiah. Bercanda sampai puas dengan warga lokal. Membicarakan sejarah warga dan kebiasaan lokal.

Ngopi di Belitung ternyata asik. Besok pagi, setelah berenang, rencananya kami mau balik ngopi lagi. Lalu sehari ke Manggar, mau ngopi lagi. Aihhh... ngopi yang membudaya!

Post a Comment