Skip to main content

Menjemput Mentari di Punthuk Setumbu

  
Menjemput mentari di Punthuk Setumbu 

Minggu pagi itu menjadi hari berbeda bagi saya. Beberapa jam saya terlelap tidak sadar diri di rumah Mbak Endah. Pagi sekitar pukul 3.30 saya bangun bersiap menjemput matahari di Bukit Punthuk Setumbu. Perlu waktu 30 menit dari rumah Mbak Endah untuk sampai ke Punthuk Setumbu yang berada di Kabupaten Magelang. Udara subuh, jalanan lengang, kecepatan motor tinggi, membuat saya cukup menggigil. Magelang subuh sepi.

Bukit Punthuk Setumbu merupakan  lokasi perbukitan yang jaraknya berkisar lima kilometer dari Candi Borobudur. Tempat ini menjadi alternatif wisatawan yang ingin menyaksikan matahari terbit dengan latar magis Candi Borobudur. Lokasinya dekat, biaya murah, dan pemandangannya bagus—meski kata sebagian besar weblog, pemandangan matahari terbit dari Candi Borobudur tetap paling memukau. Tapi bagi saya, di Punthuk Setumbu sudah cukup. Sebab hanya berbiaya 15.000 rupiah, pemandangan apik sudah bisa memanjakan mata.

Seolah menjejak
 
Berbeda jauh jika ingin menyaksikan matahari terbit dari Candi Borobudur. Biayanya mahal karena harus masuk lewat Manohara Hotel, satu-satunya hotel yang berada di kompleks candi. Perlu 250.000 rupiah (wisatawan domestik) dan 380.000 rupiah (wisatawan asing—harga pertengahan Desember 2014) untuk bisa menikmati sunrise dari Candi Borobudur—including tea/ coffee morning, souvenir, dan light snack.

Bagi saya, itu mahal sekali.

Memasuki wilayah Borobudur, rambu menuju Punthuk Setumbu sudah cukup membantu perjalanan petang saya dan Mbak Endah. Sayang, jalanan begitu gelap. Tidak ada penerangan di sepanjang perjalanan. Ada, hanya beberapa. Itu pun lampu jalan milik rumah warga.

Selepas memarkir motor dan membeli tiket, wisatawan diharuskan treking sekitar 10-15 menit. Lumayan ngos-ngosan buat saya yang mulai jarang jalan, apalagi menanjak. Di sepanjang jalan treking, sudah terpasang beberapa penerangan juga masyarakat lokal yang berjaga di sekitar. Namun tetap saja bagi saya masih gelap. Untung saya membawa senter, meski pijarnya tidak sebenderang lampu jalan.

 
Berkas cahaya matahari 
 
Jika di Penanjakan Bromo kala weekend akan terasa sesak, maka ini berbeda. Sebab, di Punthuk Setumbu Minggu pagi tak begitu ramai. Beberapa turis lokal dan mancanegara mulai berjaga di tepian. Tripod dipasang menghadap perbukitan. Pelan-pelan berkas cahaya tampak menyingsing. Oranye. Jingga. Ada harapan di sana. Itu yang selalu saya suka setiap pagi datang.

Sentuhan kabut memenuhi lensa. Langit memang tampak kotor. Semalam hujan deras di Magelang. Namun, itu tidak mematikan daya magis kolaborasi Candi Borobudur dari kejauhan, rimbunan pohon tertutupi tebalnya kabut, serta serakan cahaya metari, membuat pagi itu terasa kian syahdu. Seolah saya menjejakkan kaki di atas awan.

Borobudur dan daya magis 

Ini baru menjemput mentari di Punthuk Setumbu. Entah dimana lagi saya akan menjemputnya.

Lalu, manakala keindahan ada di depan mata, maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Saya menyukainya. Suka sekali. 

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…