Friday, January 16, 2015

Menjemput Mentari di Punthuk Setumbu

  
Menjemput mentari di Punthuk Setumbu 

Minggu pagi itu menjadi hari berbeda bagi saya. Beberapa jam saya terlelap tidak sadar diri di rumah Mbak Endah. Pagi sekitar pukul 3.30 saya bangun bersiap menjemput matahari di Bukit Punthuk Setumbu. Perlu waktu 30 menit dari rumah Mbak Endah untuk sampai ke Punthuk Setumbu yang berada di Kabupaten Magelang. Udara subuh, jalanan lengang, kecepatan motor tinggi, membuat saya cukup menggigil. Magelang subuh sepi.

Bukit Punthuk Setumbu merupakan  lokasi perbukitan yang jaraknya berkisar lima kilometer dari Candi Borobudur. Tempat ini menjadi alternatif wisatawan yang ingin menyaksikan matahari terbit dengan latar magis Candi Borobudur. Lokasinya dekat, biaya murah, dan pemandangannya bagus—meski kata sebagian besar weblog, pemandangan matahari terbit dari Candi Borobudur tetap paling memukau. Tapi bagi saya, di Punthuk Setumbu sudah cukup. Sebab hanya berbiaya 15.000 rupiah, pemandangan apik sudah bisa memanjakan mata.

Seolah menjejak
 
Berbeda jauh jika ingin menyaksikan matahari terbit dari Candi Borobudur. Biayanya mahal karena harus masuk lewat Manohara Hotel, satu-satunya hotel yang berada di kompleks candi. Perlu 250.000 rupiah (wisatawan domestik) dan 380.000 rupiah (wisatawan asing—harga pertengahan Desember 2014) untuk bisa menikmati sunrise dari Candi Borobudur—including tea/ coffee morning, souvenir, dan light snack.

Bagi saya, itu mahal sekali.

Memasuki wilayah Borobudur, rambu menuju Punthuk Setumbu sudah cukup membantu perjalanan petang saya dan Mbak Endah. Sayang, jalanan begitu gelap. Tidak ada penerangan di sepanjang perjalanan. Ada, hanya beberapa. Itu pun lampu jalan milik rumah warga.

Selepas memarkir motor dan membeli tiket, wisatawan diharuskan treking sekitar 10-15 menit. Lumayan ngos-ngosan buat saya yang mulai jarang jalan, apalagi menanjak. Di sepanjang jalan treking, sudah terpasang beberapa penerangan juga masyarakat lokal yang berjaga di sekitar. Namun tetap saja bagi saya masih gelap. Untung saya membawa senter, meski pijarnya tidak sebenderang lampu jalan.

 
Berkas cahaya matahari 
 
Jika di Penanjakan Bromo kala weekend akan terasa sesak, maka ini berbeda. Sebab, di Punthuk Setumbu Minggu pagi tak begitu ramai. Beberapa turis lokal dan mancanegara mulai berjaga di tepian. Tripod dipasang menghadap perbukitan. Pelan-pelan berkas cahaya tampak menyingsing. Oranye. Jingga. Ada harapan di sana. Itu yang selalu saya suka setiap pagi datang.

Sentuhan kabut memenuhi lensa. Langit memang tampak kotor. Semalam hujan deras di Magelang. Namun, itu tidak mematikan daya magis kolaborasi Candi Borobudur dari kejauhan, rimbunan pohon tertutupi tebalnya kabut, serta serakan cahaya metari, membuat pagi itu terasa kian syahdu. Seolah saya menjejakkan kaki di atas awan.

Borobudur dan daya magis 

Ini baru menjemput mentari di Punthuk Setumbu. Entah dimana lagi saya akan menjemputnya.

Lalu, manakala keindahan ada di depan mata, maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan? Saya menyukainya. Suka sekali. 
Post a Comment