Friday, January 2, 2015

One Day Trip di Sumenep

Awal November lalu, saya pergi ke Sumenep bersama teman baru. Rencana ini super mendadak dipicu oleh teman yang mau pulang kampung ke Pamekasan. Tanpa rencana, saya pun nyeletuk, "Gimana kalau aku main ke rumahmu? Atau yang lain mau ikutan juga?" tak disangka, tak dinyana, lima teman lain langsung setuju. Inisiator yang baik yaa :)).

Kami berangkat Sabtu sore selepas saya dan Mas Yudi kerja, sementara Silvi tes CPNS. Saya dijemput di kantor dan langsung menuju Pulau Garam melewati Jembatan Suramadu. Rencananya, kami akan menginap di rumah Silvi, sedangkan keluarga Mas Yudi di hotel *yaa iyalah, tahu diri :p*.

Minggu pagi, kami bersiap menuju Sumenep. Sebenarnya, kami mau ke Gili Labak, namun batal dengan pertimbangan Mas Yudi membawa bocah berusia dua tahun. Kasihan kalau harus terombang-ambing di lautan. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke seputar Sumenep.

Jarak rumah Silvi dan Sumenep sekira satu jam. Sebelum benar-benar ke Sumenep, kami menjemput pemandu, dua teman Silvi lain asal Pamekasan. Guide yang merangkap jadi *ehemnya Silvi* salah satunya.

Tujuan pertama kami adalah Museum dan Kraton Sumenep. Pas hari itu sebetulnya Sumenep dan Pamekasan tengah berulang tahun. Persiapan pawai pun dan bazaar makanan pun dimana-mana. Anak-anak, mas-mas, dan mbak-mbak bermake up di jalan-jalan, belajar menari. Wah, riuh.

Museum dan Kraton Sumenep laiknya museum kebanyakan. Menyimpan benda peninggalan sejarah. Di museum--yang hanya bertiket 2.000 rupiah perkepala--kami diajak guide museum untuk berkeliling merangkap ke Keraton. Peninggalan kerajaan Sumenep dipajang di sana. Mulai kereta kencana, al-quran raksasa, almari setinggi tiga meter, dan sejumlah barang peninggalan lain.

Guide bercerita, barang peninggalan kerajaan Sumenep ada yang bersifat magis. Salah satunya kereta kencana yang kini tidak lagi dibuat untuk pawai hari jadi Kabupaten Sumenep. Sebabnya, kereta kencana sempat membuat kuda dan pak kusir sakit saat diajak berkeliling. Konon, itu terjadi karena kereta kencana tidak didoakan terlebih dahulu.
 
Selain kereta kencana, bangunan Kraton Sumenep juga memiliki cerita magis tersendiri. Masih kata guide museum, barangsiapa yang melihat ke dalam Kraton mendapati seseorang ada di dalamnya, maka tidak lama lagi akan dirundung duka. Entah sakit atau bahkan meninggal. Hehe, saya yang parno sama hal semacam itu pun hanya senyum mendengarnya.

Tak lain dan tak bukan, di tempat Potrehkoneng (putri Sumenep), juga ada cerita mistisnya. Hanya saja, saya lupa. Yang jelas, setahu saya, Pulau Garam kalau urusan mistis itu juara, hehe.

Kereta kencana kerajaan Sumenep
 
Usia boleh berumur, selfie jalan terus :))

Rumah Potrehkoneng

Penari pawai berpose di depan Kraton Sumenep

Dari Museum dan Kraton Sumenep, kami berjalan menuju Pantai Lombang. Pantai Lombang terkenal dengan gugusan pohon cemara udang yang konon hanya satu-satunya di Indonesia. Tanaman ini endemik dan meneduhkan karena tajuk tumbuh berhimpitan. Awal saya ke sana, kesan pertama yang saya dapat adalah, pantai berpasir putih dan air laut berwarna biru. Mirip Lombok! Tapi beda. Saya berpikir kira-kira apa yang berbeda. Ternyata berbeda dari jarak pandang. Jika pantai di Lombok umumnya memiliki fore atau background bebatuan, maka di sini tidak. Justru lepas, seperti pantai sepanjang atau pantai dengan garis pantai tidak terbatas. Di pantai ini, pengunjung hanya diwajibkan membayar tiket sebesar 4.000 rupiah. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati sensasi berkuda di tepi pantai--yang saya nggak tahu ongkosnya berapa.

Melompat di Pantai Lombang
 
Berkuda di tepi pantai 

Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Slopeng. Kata Ari--teman baru, anunya Silvi--Pantai Lombang dan Slopeng berdekatan. Saya, sih, enggak tahu, manut saja. Ternyata benar lho! Nggak jauh sama sekali. Tapi jauuuh banget. Satu jam perjalanan sendiri. Tahu apa sebab? Ternyata, kami nyasar:)). Untungnya, sepanjang nyasar, pemandangan di sisi kanan kami disuguhi dengan deburan ombak kecil, tanah gersang, dan pepohonan yang tak lebat. Perpaduan yang ciamik di tengah panasnya Sumenep siang itu. Kami juga mampir ke Batu Putih, tempat yang sebenarnya bukan kawasan wisata. Jadi, Batu Putih merupakan kawasan penambangan gunung kapur yang digunakan sebagai bahan bangunan. Saat kami ke sana, tampak truk dan beberapa pekerja tengah menambang batu putih berbentuk persegi.

Kawasan Batu Putih

Pantai Slopeng siang itu panaaas luar biasa. Kami tidak bermain pasir atau pun air. Kami hanya memesan air kelapa muda, duduk di tepi pantai, lalu salat, dan segera beranjak. Nggak kuat dengan panasnya, cyiiin.

Sendiri di Slopeng

Full team

Perjalanan kami ditutup dengan makan Rujak Selingkuh. Total perjalanan selama satu hari penuh tak sampai seratus ribu rupiah exclude oleh-oleh. Murah yaa? Bangeeet. Ya gitu kalau share cost, biaya lebih murah. Beda dengan solo backpacking. Tapi, saya suka apapun jenisnya selama sama-sama menyenangkan :D. Selamat berlibur!
Post a Comment