Wednesday, January 28, 2015

Primata Langka Dunia Ada di Belitung

Coba tebak, apa yang unik dari Belitung, selain budaya ngopi?

Kata Iwan, teman saya asli Belitung, yang unik dari Belitung adalah Tarsius di Batu Mentas. Apa coba Tarsius?

Adalah Tarsius bancanus saltator primata langka di dunia yang hanya ada di Belitung. Keberadaan genus Tarsius di Indonesia sebenarnya ada dua--yang lazim ditemui--yakni di Sulawesi dan Belitung. Bedanya, Tarsius di Sulawesi ukurannya lebih kecil, sementara di Belitung sebesar kepalan tangan orang dewasa. Setidaknya, itu yang dijelaskan Mas Tarmidzi, guide dadakan kami saat datang ke Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas, Badau, Belitung Barat, kemarin.

Tarsius memiliki fisik yang hampir sama dengan primata lain. Bedanya, dia adalah hewan nocturnal yang aktif di malam hari. Tetapi, saat kami ke sana, Tarsius jantan tidak sedang tidur. Malah matanya terbuka lebar-lebar. Ini yang membuatnya tampak lucu. Badannya kecil, matanya selebar piring. Serangga menjadi makanan pokoknya.

Di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas ini, Tarsius hanya ada dua. Satu jantan dan satu betina. Keduanya diletakkan di kandang yang berbeda. Kata Mas Tirmidzi, mereka adalah hewan setia yang nggak bisa sembarangan kawin. Itulah sebab, keberadaannya kini semakin menipis di Bumi Timah. Kesetiannya pada pasangan persis merpati.

Menurut cerita, Tarsius di Belitung dulunya adalah sebagai simbol kesialan warga setempat, pemburu babi hutan. Barangsiapa yang berburu bertemu dengan Tarsius maka dia tidak akan bertemu dengan hewan buruan. Tarsius pun dibunuh dengan alasan agar tidak mengganggu perburuan. Tak jarang setelah dibunuh, Tarsius dimasak untuk dimakan ramai-ramai.

Keberadaan Tarsius yang kian menipis, membuat Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dibangun pada 2011. Letaknya persis di perbukitan, yang jamak disebut Gunung Tajam.

Dua kandang Tarsius sebagai tempat konservasi, edukasi, dan penelitian. Tetapi di perbukitan sekeliling, Tarsius masih beberapa ditemukan. Pembangunan Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemda akan keberadaan primata langka dunia. Tentulah ini sebagai sarana edukasi masyarakat lokal dan wisatawan. Bahwa Tarsius bukanlah hewan pembawa sial. Tetapi justru hewan yang perlu dilindungi karena populasinya yang terbatas.
Tarsius di Kawasan Konservasi Hutan Batu Mentas memang langka dan dilindungi. Namun, siapa bisa menjamin keberadaannya, jika masyarakat dan wisatawan enggan untuk peduli pada satwa asli Indonesia dan satu-satunya di dunia? Apalagi dengan harga tiket masuk yang hanya 10.000 rupiah.

Tarsius Belitung
Post a Comment