Skip to main content

Sabtu Pagi di Candi Gedong Songo

Hijaunya Kompleks Percandian
Langit masih gelap saat bus antar kota antar provinsi melaju pelan. Terminal Solo pagi itu tidak sunyi. Belasan tukang ojek menawarkan jasa. Tidak tampak layu di wajahnya. Hanya harapan jasanya laris di pagi buta. Bahkan, pagi sebelum ayam berkokok.

Saya bukan satu-satunya penumpang yang turun dari bus dan mendapatkan tawaran mereka. Namun, saya menolak. Saya butuh toilet dan bus menuju Bawen, Semarang. Tidak ada bus pagi buta pukul 3.15. Menunggu subuh di musalla adalah rencana awal saya.

Bis menuju Bawen, Semarang megah sekali. Bagaimana tidak? Hanya 15.000 rupiah, saya bisa naik bis kelas ekskutif, ber-AC, dan empuk plus nyaman. Mirip sedang berdarmawisata. Bis pertama sekitar pukul 4.30. Jalanan Solo-Semarang Sabtu pagi lengang luar biasa. Mungkin masih terlalu pagi atau mungkin memang sepi. Yang jelas, saya menyukainya.

The twin brother, Sindoro-Sumbing
 
Sekitar 90 menit perjalanan, saya tiba di Terminal Bawen, Semarang. Tujuan perjalanan kali ini adalah Candi Gedung Songo. Mungkin sudah terlalu mainstream, tapi tidak mengapa. Kapan lagi?

Untuk menuju Candi Gedung Songo, dari Terminal Bawen, Semarang, bisa oper angkot dan ojek.

- Angkot dari Terminal Bawen-Ambarawa (Pertigaan Pauline) biayanya 3.000 rupiah (10 menit).
- Ambarawa (Pertigaan Pauline)-Sumowono (SPBU Sumowono) biayanya 6.000 rupiah (20-25 menit).
- Sumowono-Candi Gedong Songo naik ojek 10.000 (10 menit).

Candi Gedong Songo Sabtu pagi luar biasa sepi. Saya pengunjung ketiga yang masuk tempat wisata tersebut. Loket belum buka dan saya masuk dengan gratis. Tiket normalnya 7.500 rupiah.

Merapi-Telomoyo di antara kabut

Candi Gedong Songo merupakan komplek percandian yang dibangun berderet dari bawah hingga puncak perbukitan. Candi ini dibangun di antara Gunung Telomoyo, Ungaran, Merapi, Sumbing, dan Sindoro. Karakter ini menunjukkan perpaduan antardua kepercayaan; animisme atau memuja roh nenek moyang dan Hindu yang menganggap gunung adalah tempat tinggal para dewa. Kedua kepercayaan tersebut mampu hidup berdampingan seiring dengan perubahan arti baru. Yakni tempat atau persembahan roh nenek moyang yang telah menjadi dewa dan ritus dilakukan di dalam candi.

Dari namanya, dulunya komplek percandian ini terdapat sembilan bangunan. Namun saat ini hanya tersisa lima bangunan candi. Yakni Gedong I-V yang bisa ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda berbiaya 70.000 rupiah. Saya memilih berjalan kaki di Sabtu pagi supersejuk di kompleks percandian. Hemat kantong dan sehat.

Berkuda di perbukitan

Gedong I adalah bangunan candi pertama yang paling mudah dicapai. Letaknya tepat di depan setelah pintu masuk. Candi ini terdiri dari satu bangunan kokoh persis dengan Gedong II. Yang membedakan hanya dari bagian ujung candi. Dari Gedong I ke Gedong II jalan setapak mulai menanjak. Lokasi yang sepi dan berjalan sendiri membuat saya mengira salah jalan. Beruntung saya bertemu ibu pemilik warung kopi yang tengah bersiap menjajakan dagangan. Wisatawan yang datang sendiri seperti saya tidak perlu risau. Sebab, jalanan menuju percandian ternyata hanya satu dan sudah cukup jelas.

Candi Gedong I

Candi Gedong II 

Dibandingkan dengan Gedong I dan II, Gedong III adalah candi yang paling bagus. Bahkan, saya menghabiskan waktu lebih lama di sini hanya untuk berpose nggak jelas :)). Ada tiga bangunan candi di sini dan tampak nyata di kejauhan Gunung Merapi dan Telomoyo berbalut kabut. Aih, cantik! Apalagi saya menikmati saat pagi nan sepi. Wah, syahdunya dapet banget.

Candi Gedong III dengan sekumpulan awan

Ada pemandian air hangat bersumber belerang 

Perjalanan ke Gedong IV dan Gedong V saya lewati dengan senyum cengengesan saking senangnya di tempat ini. Dingin, sejuk, dan sepi. Mirip saat saya ke Dieng tahun 2013 lalu.

Bangunan Gedong IV dan V sebenarnya ada banyak. Namun yang tersisa masing-masing hanya satu. Sisanya adalah reruntuhan yang berpetak-petak. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya bertemu dengan penduduk lokal membawa dagangan cemilan ringan. Mereka ramah. Ramah sekali. Bahkan takjub ketika tahu saya datang sendiri dari Surabaya.

Gedong IV

Gedong V 
 
Semula, teman saya bilang, butuh waktu dua jam untuk berkeliling kompleks Candi Gedong Songo. Memang betul. Tapi, seandainya saya nggak banyak berfoto dan berdiam sambil senyum-senyum menikmati pemandangan, perjalanan berkeliling candi hanya butuh waktu satu jam dengan berjalan kaki.

Sabtu pagi pertengahan Desember lalu bagi saya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Mungkin, bagi sebagian orang buat apa mengunjungi candi? Buat apa city tour ke sana? Tapi buat saya yang sedang jenuh, berkeliling candi di perbukitan itu menyenangkan. Hijaunya pemandangan dipadu angin semilir menyejukkan. Penduduk ramah, tempat wisata yang sepi, menambah kesan nyaman menenangkan pikiran. Sangat menyenangkan.

Teteup eksis dimana-mana :))

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…