Skip to main content

Berani Nggak Nyoba Marine Bridge?

 
Marine bridge

"Apa, sih, yang ada di Semarang?" Tanya saya suatu waktu pada Navis, teman asal Semarang.

Kala itu, saya hendak memutuskan untuk berlibur singkat di Semarang. Yang saya tahu, Semarang adalah kota budaya. Ada beberapa spot menarik nan kece di kota Semarang yang wajib dikunjungi. Tapi setelah saya browsing, saya hampir tidak menemukan rental motor di Semarang. Apalagi Navis mendadak tidak bisa mengantarkan saya berkeliling. Saya putar otak.

"Jadi menurutmu, lebih baik ke kota atau ke kabupaten?" Saya masih bertanya. Memastikan saya bisa berlibur ke kota lumpia.

Jawaban Navis selalu singkat. Tapi banyak. He's not simply at all, haha.

Katanya, kalau saya suntuk, Kabupaten Semarang cocok untuk berwisata karena konturnya pegunungan. Saya pun akhirnya memutuskan untuk ke Kabupaten Semarang sesuai saran Navis.

Ada apa saja memangnya? Selain Candi Gedong Songo ternyata di Kabupaten Semarang ada juga wahana wisata yang baru dibangun pada 2007. Namanya Wisata Umbul Sidomukti, Bandungan.

Sabtu pagi itu, selepas turun dari Candi Gedong Songo, saya diantar ojek terusan yang biayanya sangat terjangkau. Ini bekal dari pengalaman solo backpacking sebelum-sebelumnya, bisa menawar seenak jidat, hehe. Biayanya hanya 25.000 rupiah dari candi ke Umbul Sidomukti. Padahal jaraknya jauh, naik turun plus ngepot-ngepot.

Biasanya, kalau nggak pakai jasa ojek terusan dan nggak nawar seenak jidat, jatuhnya mahal sekali. Sebelumnya, tukang ojek yang mengantar saya naik candi menawari saya 50.000 untuk terusan. Waaah, saya sih mikir-mikir.

Kalau tidak naik ojek terusan, pengunjung bisa naik ojek dari candi turun ke Sumowono dilanjut angkot ke Pasar Jimbaran lalu naik ojek lagi ke Umbul Sidomukti. Di sepanjang perjalanan akan ada banyak sekali anak kecil yang mengarahkan jalan dan meminta sumbangan. Kalau tukang ojek yang mengantar saya, tahu medan banget. Jadi, nggak lewat wilayah anak-anak. Tapi lewat perkampungan.

Pagi itu hujan rintik membasahai pegunungan Ungaran. Saya sudah memakai jaket parasut. Bapak ojek santai tanpa jas hujan. Sementara jalanan pegunungan makin basah. Ban motor gembos. Jalan masih panjang. Saya jadi mikir, segininya yaa saya nyari hiburan? Hahaha.

Untuk masuk wisata Umbul Sidomukti, pengunjung diharuskan membeli tiket seharga 10.000 rupiah. Tiket itu bisa digunakan untuk berenang. Tetapi, kalau mau main outbound, beda lagi harganya.

Umbul Sidomukti adalah wisata alam dengan outbound dan pemandian air sumber mata air yang dingin. Pemandangan dari kolam bagus sekali. Lepas ke arah lereng gunung. Namun, hari itu hujan, saya yang ingin berenang pun batal. Nggak kebayang dinginnya.

Kolam renang dengan pemandangan pegunungan berkabut
 
Saya pun memilih menaklukkan nyali dengan mencoba wisata outbound.

Sebenarnya, saya tidak tertarik dengan wisata outbound, tapi saya tergiur dengan satu wahana yang mulai banyak digandrungi teevisi swasta untuk diliput. Namanya, wahana wisata marine bridge.

Wahana tersebut mengharuskan pengunjung untuk melintasi jembatan jaring di atas ketinggian 30 meter dengan panjang lintasan 50 meter, dan lebar 4 meter. Kanan-kiri jangan ditanya, tebing dong. Biayanya sangat amat murah, hanya 15.000 rupiah sekali jalan. Bayangkan, nyawa dihargai seremeh itu. Saya membeli tiket flying fox (18.000) dan marine bridge.


Wisata outbound penguji nyali
 
Banyak wanita bahkan ibu-ibu yang mencoba marine bridge. Saya pikir, masa saya kalah? 

Berbekal nyali, saya menitipkan kamera dan tas ke mas-mas penjaga. Kamera saya titipkan biar saya bisa difotoin, gitu. Mayan, kan, solo backpacking masih bisa narsis :)).

Sensasi yang saya rasakan begitu mencoba marine bridge adalah takut. Jelas dong, saya takut jatuh. Mana cuma pakai harness. Memangnya bisa ada jaminan selamat gitu? Tapi, show must go on. Nggak mungkinlah arek Suroboyo takut sama beginian, malu sama Bung Tomo! Hahaha.

Selangkah-dua, nyaman. Langkah berikutnya mulai keder. Kaus saya mulai basah. Ini namanya liburan beneran. Boro-boro mikir kerjaan, apalagi tugas kuliah, yang kepikiran cuma dua; Allah dan nyawa. Jatuh memang takdir, selamat Alhamdulillah. Ini nggak berlebihan, loh:p.

Arek Suroboyo yoo kudu wani nyoba, Rek! :))
 
Bukan hanya untuk outbound, Umbul Sidomukti ternyata juga menerima pesanan bumi perkemahan di tepi lereng. Juga ada berkuda, naik ATV, dan kedai makanan. Saya yang langsung lapar setelah uji adrenalin pun bergegas mengisi perut. Harga makanan standar, 10.000-30.000 rupiah saja.

Selepas berwisata di Umbul Sidomukti, Kalau mau pulang, bisa banget naik ojek ke Pasar Jimbaran, harganya 15.000. Ini sih, mahal banget. Tapi daripada saya nggak bisa pulang, siapa yang mau tanggung jawab? Lalu dilanjut naik angkot hijau ke Bandungan seharga 3.000 rupiah saja.

Berwisata di Umbul Sidomukti dan Candi Gedong Songo cocok untuk one day trip di kala weekend. Jadi, tertarik juga mencicip sensasi uji adrenalin marine bridge?

Kemping di tepi lereng

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…