Thursday, February 5, 2015

Berkata-kata di Museum Kata Andrea Hirata

Mari bermimpi!
  
Do I inspire you?  
 
Beberapa orang yang saya jumpai sesaat sampai di Belitung berucap, "Belitung sekarang ramai karena Laskar Pelangi."

Ternyata sebegitu dahsyatnya efek novel dan film Laskar Pelangi di tanah Belitung. Ya, wajar, perekonomian mereka juga semakin mengeliat pascafilm diputar 2008 silam.

Beberapa orang yang saya jumpai juga berkata, "Dulu, Belitung sepi. Ada, sih, wisatawan, tapi nggak seramai sekarang. Dulu penerbangan hanya 1-2 kali sering juga batal. Sekarang bisa 10-11 kali dalam sehari. Maskapai juga banyaklah."

Ternyata banyak orang penasaran dengan Pulau Laskar Pelangi, termasuk saya. Kecantikan alam yang memesona membius alam sadar.

Salah satu hal yang dimanfaatkan untuk menggaet wisatawan adalah replika sekolah untuk syuting Laskar Pelangi. Selain itu, penulis Andrea Hirata juga turut andil menambah tempat wisata di Gantung, Belitung Timur. Yakni dengan membangun Museum Kata atau Indonesia First Literary Museum sejak 2010.


Museum Kata Andrea Hirata 
 
Memasuki Museum Kata Andrea Hirata, pengunjung akan disambut dengan foto-foto dan kata-kata yang inspiratif. Ada sensasi menyenangkan dan terinspirasi ketika saya masuk ke dalam museum.

Museum Kata Andrea Hirata ini cukup luas. Terdiri dari ruang-ruang inspiratif penuh dengan coretan kata-kata. Tidak lupa dekorasi cantik ditempelkan bersama barisan kata. Foto-foto pemeran Laskar Pelangi saat syuting dipajang apik, membuat pengunjung seolah merasakan keaslian cerita tersebut. Belum lagi pajangan epik yang ada menambah kesan roman klasik masa lalu. Ada pula panggung ekspresi. Ada juga ruangan yang menggambarkan rumah tua milik keluarga Ikal. Belum lagi ruangan warna-warni penuh jendela, mengisyaratkan bahwa buku adalah jendela dunia. Aduhai! 

Ruang inspiratif 
Bagian rumah keluarga Ikal
Pernik pendukung syuting Laskar Pelangi
 
Yang paling menyayat hati adalah adanya foto Lintang dan Ikal saat Lintang memutuskan untuk kembali ke rumah, mengakhiri sekolah, lantaran ayahnya tidak lagi pulang dari melaut. Sedih. Kebayang kalau cerita tersebut benar adanya. Jalan untuk pintar memang sulit. Perlu perjuangan.

Ikal berteriak memanggil Lintang di hari terakhir
 Lintang dan sepeda usai ayahnya tak kembali
 
Banyak sekali pajangan apik dan kreatif yang ada di Museum Kata ini. Ada sampul dan beberapa lembar buku Laskar pelangi yang diterjemahkan di berbagai bahasa. Lengkap dengan foto sang editor.
Laskar Pelangi International Editions

Bangunan museum juga diperkaya dengan pojok kantor pos yang didesain minimalis semi-vintage. Pengunjung bisa menulis kartu pos untuk dikirim ke handai taulan. Cukup membayar 15.000 untuk jurusan di seluruh Indonesia dengan waktu sampai sekira tiga minggu. Atau 40.000 untuk jurusan luar negeri dengan durasi sampai sedikitnya tiga bulan.

Sudut kantor pos
Menulis kartu pos untuk handai taulan
 
Yang membuat museum lebih keliatan asik adalah adanya pojok Kopi Kuli. Iya! Kopi lagi. Pantaslah kenapa Andrea Hirata kerap menuliskan tentang kopi di buku-bukunya. Memang tradisi di Belitung, tepatnya Bangka Belitung, adalah ngopi. Tak ketinggalan juga di Museum Kata.

Kupi Kuli

Lalu, apa beda Kopi Kuli dan Kopi-O yang ada di Belitung?

Dari percakapan saya dengan Mbak Desi--penjaga museum--Kopi Kuli merupakan kopi khas pekerja timah. Kopi Kuli berbeda dengan Kopi-O. Baik dari segi rasa dan cara pembuatan. Saya yang dulunya kerap mencicip aneka macam kopi, jadi tergiur untuk mencicipinya.

Jika pembuatan Kopi-O hampir sama dengan kopi-kopi lain di tanah Jawa--dituang air mendidih pada gelas--maka Kopi Kuli berbeda. Cara pembuatannya, bubuk kopi ikut diseduh di kuali sampai mendidih baru disajikan. Rasanya lebih epik. Buat saya, rasa Kopi Kuli lebih nendang. Ada perpaduan asam, sepat, dan pahit yang bercampur. Kalau mau tambah gula silakan, kalau tidak itu lebih baik. Harganya nggak mahal, hanya 5.000 rupiah.

Dapur tradisional
Saya dan Mbak Desi 
Kupi Kuli 

Rasanya, saya hampir sepenuhnya setuju dengan isi dari Museum Kata ini. Ya, apalagi kalau bukan tentang mimpi, membaca, menulis, lalu keliling dunia. Saya ingin semuanya.

Untuk masuk Museum Kata Andrea Hirata pengunjung hanya dikenai biaya 2.000 rupiah saja. Itu pun kalau ikhlas. Kalau enggak, ya nggak usah. Di museum ini, saya terinspirasi untuk tetap bermimpi. Tetap berjalan, belajar, dan membuka wawasan.

Belajar, belajar, dan belajar!
Post a Comment