Friday, February 20, 2015

Berkawan Senja Tanjung Pendam



 
Mangrove Tanjung Pendam
 
Entah sejak kapan pastinya, saya menyukai senja dan fajar. Bagi saya, keduanya memiliki arti yang menyenangkan. Fajar selalu berarti cita-cita kembali ada. Sementara senja adalah saat perenungan.

Senja itu, saya menghabiskan waktu di satu pantai di tengah kota Tanjungpandan,Belitung. Pantai Tanjung Pendam, namanya. Letaknya persis di tengah kota. Dekat sekali dengan hotel kami. Bahkan kami bisa mencapainya dengan jalan kaki, jika mau.Butuh 2.000 rupiah perorang jika ingin masuk kawasan Pantai Tanjung Pendam.
 
Menunggu senja

Sekilas, Tanjung Pendam mirip dengan Pantai Kenjeran di Surabaya. Tapi tidak kotor. Suasananya ramai. Banyak warga lokal yang menghabiskan waktu di sini sekadar bersantai. Laut sedang surut. Tumben saja, tentu.
 
Lanskap Tanjung Pendam meski ramai, amat syahdu. Ada beberapa pohon mangrove di sisi tengah. Seperti favorit para fotografer yang berlalu lalang di Instagram. Tepian plengsengan dibuat jauh dari bibir pantai. Mungkin, saat pasang tiba, air bisa sampai sana. Tapi bagi saya, terlalu jauh menunggu senja tidak nikmat.

Liburan warga lokal 
 
Di sekitar bibir pantai, riuh semakin kentara. Anak, bapak, dan ibu-ibu satu persatu menyunggingkan senyum. Ada pula yang berjongkok sambil membawa keranjang dan plastik.

“Cari kerang,” salah satu ibu yang berjongkok menjawab pertanyaan saya.

Kerang dari kelas bivalvia adalah salah satu kekayaan yang dipunya Belitung. Siapa saja yang ingin memasak kerang sebagai lauk, bisa mengambilnya gratis di bibir pantai. Berjongkok, melangkah maju, mengerahkan tangan berisi kayu atau gelas plastik kecil, dan mengorek pasir. Akan ada banyak sekali kerang. Sulit bagi saya mencontohkan apa yang mereka lakukan.

“Sulit ya, Bu? Kok saya nggak dapat-dapat,”  ujar saya sambil terkekeh.

Mencari kerang untuk lauk

Para pencari kerang

Warga sekitar Tanjung Pendam punya cara unik untuk menghabiskan hari. Salah satunya memang mencari kerang. Kerang yang didapat amat banyak. Sekitar satu kilogram. Menariknya, para pencari kerang bukan hanya ibu-ibu. Tapi juga bapak, anak, dan remaja. Di sini, tidak ada gengsi bagi remaja untuk membaur mencari kerang. Beda dengan remaja perkotaan.

Yang lebih menyenangkan, remaja bermata sipit ada di dalamnya. Di sini, lekat sekali dengan toleransi antarsuku. Tidak ada perbedaan. Apapun warna kulitnya dan seberapa lebar matanya. Mereka rukun.

Ibu pencari kerang menuturkan, cara memasak kerang amatlah sederhana. “Hanya pakai garam direbus dengan air. Lalu dimakan dengan nasi hangat. Gurih, kok.”

Saya tersenyum. Seandainya posisi sedang bekerja atau solo backpacking, tentu saya bisa meminta izin untuk tahu cara memasak kerang.
Remaja mencari kerang

Kerang

Senja selalu punya cerita. Senja yang saya lewatkan di Tanjung Pendam ini amat menarik. Melihat lebih dekat kebiasaan warga lokal. Menilik kerukunan antarsuku persis seperti saat bertandang ke warung kopi gang 60.

Senja menyuguhkan beragam cerita. Selalu. Itulah alasan saya selalu menyukainya. Menyukai senja di kota lain.

Senja kali ini, saya belajar untuk lebih menghargai orang. Belajar menghargai etnis lain yang berbeda. Sebab, Indonesia amatlah kaya ragam budaya.

Senja cantik Tanjung Pendam
Post a Comment