Skip to main content

Kisah dari Kampung Nelayan Tanjung Binga


Perkampungan nelayan Tanjung Binga 
 
Sore itu, banyak kapal bersandar di Tanjung Binga. Ombak sedang tinggi. Tak banyak nelayan melaut. Hanya satu-dua kapal yang berani berangkat. Apalagi kalau bukan soal perut. Sisanya memilih untuk melihat dari tepian. Bercengkrama dengan anak muda. Atau hanya sekadar duduk. Maklum, musim penghujan. Ombak tinggi, angin kencang, risiko terlalu besar.

Tapi sore itu menjadi berbeda bagi Degi, bocah sepuluh tahun. Bersama sepeda kecilnya, dia menunggu di dermaga. Sambil menatap lurus ke arah laut.

"Saya sedang menunggu Bapak," ungkapnya.

Bagi Degi, sore bukan waktu untuk mengaji. Tapi untuk bermain sambil menunggu bapak pulang melaut. Mengaji dan belajar dilakukan saat petang tiba. Setiap hari siklusnya begitu. Bapak berangkat melaut sebelum pagi, pulang bersama angin laut kala sore. Tidak ada hari libur. Ibu Degi seorang ibu rumah tangga. Kesibukannya di rumah laiknya ibu-ibu yang lain. Mengurusi keperluan rumah sambil menjaga kedua anaknya. Degi anak pertama, sekolah di SDN 02 Sijuk.

Kapal bersandar 
 
Degi kecil tidak pernah ikut melaut. Kata bapak, Degi harus sekolah. Belum boleh bekerja.

Saat musim ombak tinggi, Degi selalu khawatir. Khawatir ayahnya tidak pulang. Terombang-ambing di kapal. Itulah sebab, dia selalu menunggu di dermaga. Merelakan waktu bermain untuk bapak. Ternyata semua anak dimanapun berada, sama. Menunggu bapak saat sore tiba.

Di ujung, beberapa orang mulai bersorai. Tak terkecuali Degi. Dia bersiap mengayuh sepedanya bersemangat. Kapal bapak akan menepi.

"Saya tahu itu bapak. Warna kapalnya biru." Degi berlalu sambil tersenyum. Bapaknya tiba. Hasil tangkapan berlimpah.
***

"Warga Belitung biasa berkuliah di Bandung dan Jogja, Mbak." Pagi di hari berikutnya, sopir travel berujar tentang adat warganya. Katanya, masyarakat Belitung kini berlangkah-langkah lebih maju. Mereka ingin pintar seperti masyarakat tanah Jawa. Bahkan, demi itu semua, mereka rela merogoh kocek lebih dalam.

Mobil dikemudikan santai. Jalanan Tanjungpandan sepi. "Anak saya nanti mau saya kuliahkan di sekolah perhotelan paling bagus di Jogja. Kalau enggak, ya di Bandung. Biar bisa ikut mengelola pariwisata di sini. Mbak, dulu kuliah dimana?" Sopir bertanya antusias. Wajahnya makin semringah mendapati penumpangnya masih berkuliah.

"Di sini sudah ada PTN, Universitas Bangka Belitung, gabungan dari tiga kampus swasta. Tapi, apa ada jaminan anak saya pintar di sini? Lagipula, daripada ke Bangka dengan kualitas biasa saja, mending merantau. Pengalamannya banyak. Bisa makin pintar."

Potesi pariwisata Bangka Belitung memang sangat besar. Saya salut dengan kedua orang yang saya temui di Belitung. Sosok ayah Degi yang tidak mengizinkan anaknya ikut melaut demi sekolah. Sosok sopir travel yang menginginkan anaknya pandai dirawat di tanah orang. Apalagi kalau tidak ingin memajukan diri sendiri dan tanah kelahirannya?

"Saya yakin, nanti anak saya bisa bekerja dengan baik meningkatkan pariwisata Belitung. Potensinya besar. Warga lokal harus lebih pintar, Mbak, kalau nggak mau diambil warga asing." Bapak sopir optimis gila-gilaan. Saya berhasil dibuat merinding dengan harapan masuk akalnya.

Semoga, apa yang diharapkan ayah Degi dan sopir travel pada anaknya tercapai. Demi kemajuan generasi bangsa...

Saya dan Degi

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…