Thursday, February 19, 2015

Kisah dari Kampung Nelayan Tanjung Binga


Perkampungan nelayan Tanjung Binga 
 
Sore itu, banyak kapal bersandar di Tanjung Binga. Ombak sedang tinggi. Tak banyak nelayan melaut. Hanya satu-dua kapal yang berani berangkat. Apalagi kalau bukan soal perut. Sisanya memilih untuk melihat dari tepian. Bercengkrama dengan anak muda. Atau hanya sekadar duduk. Maklum, musim penghujan. Ombak tinggi, angin kencang, risiko terlalu besar.

Tapi sore itu menjadi berbeda bagi Degi, bocah sepuluh tahun. Bersama sepeda kecilnya, dia menunggu di dermaga. Sambil menatap lurus ke arah laut.

"Saya sedang menunggu Bapak," ungkapnya.

Bagi Degi, sore bukan waktu untuk mengaji. Tapi untuk bermain sambil menunggu bapak pulang melaut. Mengaji dan belajar dilakukan saat petang tiba. Setiap hari siklusnya begitu. Bapak berangkat melaut sebelum pagi, pulang bersama angin laut kala sore. Tidak ada hari libur. Ibu Degi seorang ibu rumah tangga. Kesibukannya di rumah laiknya ibu-ibu yang lain. Mengurusi keperluan rumah sambil menjaga kedua anaknya. Degi anak pertama, sekolah di SDN 02 Sijuk.

Kapal bersandar 
 
Degi kecil tidak pernah ikut melaut. Kata bapak, Degi harus sekolah. Belum boleh bekerja.

Saat musim ombak tinggi, Degi selalu khawatir. Khawatir ayahnya tidak pulang. Terombang-ambing di kapal. Itulah sebab, dia selalu menunggu di dermaga. Merelakan waktu bermain untuk bapak. Ternyata semua anak dimanapun berada, sama. Menunggu bapak saat sore tiba.

Di ujung, beberapa orang mulai bersorai. Tak terkecuali Degi. Dia bersiap mengayuh sepedanya bersemangat. Kapal bapak akan menepi.

"Saya tahu itu bapak. Warna kapalnya biru." Degi berlalu sambil tersenyum. Bapaknya tiba. Hasil tangkapan berlimpah.
***

"Warga Belitung biasa berkuliah di Bandung dan Jogja, Mbak." Pagi di hari berikutnya, sopir travel berujar tentang adat warganya. Katanya, masyarakat Belitung kini berlangkah-langkah lebih maju. Mereka ingin pintar seperti masyarakat tanah Jawa. Bahkan, demi itu semua, mereka rela merogoh kocek lebih dalam.

Mobil dikemudikan santai. Jalanan Tanjungpandan sepi. "Anak saya nanti mau saya kuliahkan di sekolah perhotelan paling bagus di Jogja. Kalau enggak, ya di Bandung. Biar bisa ikut mengelola pariwisata di sini. Mbak, dulu kuliah dimana?" Sopir bertanya antusias. Wajahnya makin semringah mendapati penumpangnya masih berkuliah.

"Di sini sudah ada PTN, Universitas Bangka Belitung, gabungan dari tiga kampus swasta. Tapi, apa ada jaminan anak saya pintar di sini? Lagipula, daripada ke Bangka dengan kualitas biasa saja, mending merantau. Pengalamannya banyak. Bisa makin pintar."

Potesi pariwisata Bangka Belitung memang sangat besar. Saya salut dengan kedua orang yang saya temui di Belitung. Sosok ayah Degi yang tidak mengizinkan anaknya ikut melaut demi sekolah. Sosok sopir travel yang menginginkan anaknya pandai dirawat di tanah orang. Apalagi kalau tidak ingin memajukan diri sendiri dan tanah kelahirannya?

"Saya yakin, nanti anak saya bisa bekerja dengan baik meningkatkan pariwisata Belitung. Potensinya besar. Warga lokal harus lebih pintar, Mbak, kalau nggak mau diambil warga asing." Bapak sopir optimis gila-gilaan. Saya berhasil dibuat merinding dengan harapan masuk akalnya.

Semoga, apa yang diharapkan ayah Degi dan sopir travel pada anaknya tercapai. Demi kemajuan generasi bangsa...

Saya dan Degi
Post a Comment