Skip to main content

Review Hotel Surya Belitung


 
Hotel Surya
 
Berlibur ke Belitung, hal pertama saya pikirkan adalah, berapa harga hotel permalamnya? Jauh-jauh hari, saya bahkan surfing di situs yang secara khusus menawarkan penginapan. Empat-lima situs saya buka bersamaan, harganya masih sama: di atas seratus ribu! Saya pikir, harga segitu mahal. Sebab, saya akan bermalam selama tiga hari tiga malam di sana.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi Iwan, bertanya penginapan ala backpacker kere seperti saya. Tentunya, penginapan di bawah seratus ribu rupiah permalam.

 
Lobby Hotel Surya

Kata Iwan, ada sebuah hotel di tengah kota, Tanjungpandan, yang harganya miring. Namanya, Hotel Surya di Jalan Depati Endek (0719) 21550. Saya tergiur dan langsung booking untuk tiga malam. Harga permalamnya 100.000 rupiah bisa untuk dua orang. Harga segitu sudah naik dari harga yang dikatakan Iwan. Kalau ingin ekstra bed, tinggal nambah 50.000 rupiah permalam. See? Selama tiga hari tiga malam otomatis saya hanya mengeluarkan uang untuk penginapan 150.000 rupiah!

Sementara untuk single bed, harganya 90.000 rupiah permalamnya. Kalau mau yang kamar mandi dalam, harganya 200.000 rupiah permalam. Itu sudah termasuk sarapan telur rebus, roti atau lemper, dan teh hangat. Lumayan.

 
Bagian dalam Hotel Surya 

Kondisi Hotel Surya memang berada di tengah kota. Lebih tepatnya di jantung kota Tanjungpandan. Yakni di lantai dua bangunan yang menyatu dengan toko emas. Kebayang nggak gimana ramainya hotel kami? Jelas ramai, dong!  Karena ternyata, Hotel Surya bukan hanya untuk menginap wisatawan kere seperti kami. Tapi juga untuk ngekos para pekerja di sekitar Tanjungpandan. Isinya lelaki semua. Hanya kami bertiga yang cewek :))).

Di tengah pasar tua Tanjungpandan, dekat pelabuhan, dekat tempat pelelangan ikan, dekat alun-alun, dan dekat pusat oleh-oleh. Heaven.

Double bed
Untuk ukuran penginapan murah, Hotel Surya bersih sekali. Kamarnya banyak. Ada lebih dari 15 kamar. Ada ruang tengah untuk menonton tivi bersama. Untuk kamar mandi, ada di dalam dan tiga kamar mandi luar. Kamar mandi luarnya bersih kok. Yang lebih endes, resepsionisnya ramaaah! Kali pertama bertemu, saya bahkan serasa sudah akrab dan kenal sedari lama. Menyenangkan!

Oh, iya! Nada bicara orang Belitung memang agak keras. Tapi mereka ramah pada wisatawan. Seperti sudah tahu bahwa kami datang untuk berkunjung melihat kota kelahiran mereka. Saking ramahnya, Hotel Surya juga akan membantu wisatawan meminjamkan mobil atau motor. Tentu, meminjam motor di sini tanpa jaminan apapun. Asal pinjam saja, mereka sudah percaya :D. Harganya juga murah kok. Kalau saya membawa harga lebih murah dari yang mereka tawarkan, malah mereka mau mengalah mengikuti harga kami. Asyiiik!

Pemandangan dari lantai dua
Sebegitu asyiknya kami menginap di Hotel Surya, tentu masih ada kelemahannya.

Sayang seribu sayang, kamar kami terletak di paling ujung dekat balkon. Artinya dekat jalan raya. Setiap pukul satu-dua saya terbangun. Rutin. Karena sering kaget dengan hentakan motor kencang. Saya menduga, mereka adalah nelayan dan pedagang ikan yang baru pulang melaut dan mengambil hasil tangkapan. Jalan satu arah Depati Endek pun jelas ramai. Banget. Ini juga yang membuat saya tidur tidak nyenyak meski selalu tidur lebih cepat :)).

Balkon di depan kamar

Tetapi, setiap pagi, akan ada alunan suara merdu dari bangunan di depan hotel. Yang saya duga adalah tempat penangkaran walet. Ramaaai sekali. Merdu nian. Seolah ada musik Kitaro mengiringi :D.

Jadi, gimana? Menurut kalian, Hotel Surya rekomended nggak? Buat saya, sih, rekomen selama nggak tidur di kamar dekat balkon:)).

Menu sarapan

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…