Skip to main content

Ketagihan Hoping Island di Belitung

Ciamik!
 
Indonesia itu indah. Saya baru menyadari belakangan. Saat pemerintah mulai gencar-gencarnya promosi pariwisata. Kemana saja selama ini? Entahlah.

Keindahan Indonesia banyak saya dapatkan dari literatur internet dan foto-foto ciamik. Ditambah liputan di televisi swasta dan media cetak. Membuat saya ingin tahu kepastian akan keindahannya. Betulkah ada?

Salah satu keindahan yang banyak dipuja orang adalah Belitung.

 
Belitung team.
 
Belitung. Mendengarnya saja sudah tergambar hamparan laut jernih dengan pasir putih menggelikan kaki. Letaknya jelas jauh dari Surabaya. Dari atlas kelihatan. Tapi, ketika sudah menjejakkan kaki di sana, ternyata jarak tidak penting. Rasanya dekat sekali.

Sebenarnya, rencana awal ke Belitung April tahun lalu. Tapi batal. Berhubung, saya tipikal orang yang tidak suka hal yang diinginkan dibatalkan. Maka, jadilah saya berangkat bareng teman-teman lain ke sana. Berempat.

Apa yang kalian inginkan ketika sampai ke tanah Belitung? Melihat replika sekolah Laskar Pelangi? Atau ke Museum Kata Andrea Hirata? Atau mencicipi kuliner Mie Belitung?

Kalau saya, tidak muluk. Saya hanya ingin bermain air di jernihnya laut. Itu saja.

 
Main air!! 

Maka Belitung adalah sebagian dari surga dunia. 

Perairan Belitung amatlah luas. Wilayah perairan adalah tempat yang dijual oleh Bupati setempat. Keindahan panoramanya memanjakan mata. Apalagi hati. Jangan ditanya. Sudah lupa rencana ke Belitung dengan siapa, awalnya. Haha.

Pagi kedua di Belitung. Kami memutuskan untuk berkeliling pulau dengan kapal sewaan 610.000 untuk berempat. Ini mahal. Maka, jangan ditiru. Kalau ingin murah, bisa kontak 081-9492-03600. Namanya, saya lupa.

Wilayah perairan Belitung yang kami kunjungi cukup banyak. Tapi masuk kategori standar hoping island. Kami ke Batu Garuda, Pulau Burung, Pulau Lengkuas, Pulau Pasir, Pulau Batu Berdaun, dan Pulau Batu Berlayar.

Adalah Batu Garuda. Yakni bebatuan yang menyerupai burung garuda menjadi tujuan pertama kami. Di tempat ini, kapal tidak bisa bersandar. Kami pun hanya bisa memotret kemegahan batu granit berbentuk garuda dari jarak sekira sepuluh-dua belas meter.

 
Mirip burung garuda. Anggaplah begitu :D 

Pulau Burung adalah tempat persinggahan kami berikutnya. Pulau ini terdiri atas batuan granit yang menyerupai burung. Di sini, kami singgah untuk main air cukup lama. Lumayan, serasa pulau sendiri saking sepinya. Tak ada penjaga pulau atau penghuni di sini. Wisatawan hanya kami. Private.

 
Pulau Burung
 
Tak jauh dari Pulau Burung, kami langsung menuju ikon Belitung, Pulau Lengkuas. Pulau yang dikelilingi bebatuan ini menjadi magnet bagi kami. Snorkling dengan ikan dan terumbu warna-warni. Sepi dan indah. Saya puas snorkling di sini. Terlebih ketika ikan-ikan berputar tanpa komando. Tanpa biskuit. Menyenangkan.

 
Dancing queen
 
Ikon Pulau Lengkuas tersohor adalah mercusuarnya. Dari lantai 18, wisatawan bisa melihat kepulauan Belitung yang ciamik dan nggak bakal bikin kecewa. Malah nagih. Duuuh.

 
Pulau Lengkuas
 
Kalau Karimun Jawa punya Pulau Gosong, Belitung punya Pulau Pasir. Sama persis. Pulau ini hanya ada ketika air laut sedang surut. Maka akan tampak pasir putih berserak di tengah laut. Hanya saja, ukuran Pulau Pasir jauh lebih besar dibandingkan Pulau Gosong. Yang saya suka dengan pulau ini, saya bisa gulung-gulung tiduran di bauran pasir dan air laut. Meski hanya berupa pasir berserak, kami benar-benar menikmati bergulung di pasir. Aaaak! Saya jatuh cinta sama Belitung!

 
Main air, gegoleran, foto-foto, seru-seruan. Kurang nikmat apalagi? :p
   
Adalah Pulau Batu Berdaun. Sebuah pulau yang kami singgahi dengan tujuan mengambil biota laut jenis starfish. Pulau ini tak berpenghuni, tentu saja. Karena memang hanya terdiri dari batuan granit dan sedikit daratan menjorok. Dikatakan Batu Berdaun lantaran ada beberapa pepohonan tumbuh di atas batu. Sekira lima bintang laut diambil untuk menjadi properti foto. Pret! :p

 
Ini pulau apa coba?
 
Lima bintang laut serupa sisinya dikembalikan sesampai di Pulau Batu Berlayar. Benar-benar seperti batu di tengah laut, sedang berlayar. Granit abu-abu besar.

 
Bintang laut 
 
Batu Berlayar, granitnya gedeee banget!

Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya bisa move on dari Belitung. Asli indaaah banget! Yaa, meskipun ada satu-dua hal yang nggak berkenan di hati, namanya juga jalan-jalan, teteup seru ceritanya! Tertarik juga ke Belitung? Murah kok! Jangan lupa, luruskan garis pantai kalau mau ambil foto. Lurus! *ngakak*

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…