Skip to main content

Gili Labak: Pulau Kecil di Utara Madura

Gili Labak

Sudah lama saya ingin pergi ke Gili Labak. November lalu, saat saya ke Sumenep, mulanya ingin ke sana. Namun, karena teman membawa anak berusia dua tahun, jadi ditunda. Maka, ketika kesempatan itu datang, saya merencanakan untuk pergi ke Gili Labak awal April.

Kamis malam, kami berangkat dengan Travello pukul 23.00 dan sampai di Masjid Raya Sumenep tepat saat azan Subuh--setelah beberapa insiden, akhirnya!:))). Setelah salat, tanpa mandi, kami langsung berangkat menuju rumah Pak Riri untuk parkir mobil. Kapal diparkir tak jauh dari rumah beliau.
Masjid Raya Sumenep 

Gili Labak merupakan bagian dari Pulau terluar Madura, masuk dalam Kabupaten Sumenep, Kecamatan Talango. Butuh waktu 2,5-3 jam perjalanan kapal dari Pelabuhan Kalianget bergantung cuaca di lautan. Pulaunya cukup kecil dan hanya dihuni oleh 35 kepala keluarga migrasi dari Talango. Saking kecilnya, berdasarkan googling cepat di peta Kabupaten Sumenep, hampir tak ada yang menyebutkan keberadaan Gili Labak.
 
Pelabuhan Kalianget 

Kapal bersandar di Kalianget
 
2,5 jam perjalanan untuk sampai di Gili Labak. Cuaca cukup cerah. Lautan dipenuhi dengan keramba kepiting dan rumput laut lengkap dengan bendera warna-warni penunjuk identitas pemilik.

Tak ada air tawar di Gili Labak. Rumahnya dari kekayuan. Dan hampir seluruh warganya bekerja sebagai nelayan. Di tepi pulau, akan ada banyak sekali ikan teri dijemur. Kata salah satu warganya, ikan akan dikirim ke Sumenep untuk dijual.

Memilah teri

Teri dimana-mana
 
Seharusnya, kondisi Gili Labak bersih. Karena penduduk sangat sedikit. Tapi saat saya ke sana, pulaunya sudah kotor. Mungkin, karena Gili Labak sudah terjamah wisatawan tak bertanggungjawab. Sampah berserakan dimana-mana. Terbukti, banyak sekali botol kaca berserak di satu tempat.

Botol berserak
 
Untuk mencapai Gili Labak, wisatawan bisa menyewa kapal dari Pelabuhan Kalianget. Sekitar 600.000-1.200.000, bergantung besar kecilnya kapal. Tapi, karena saya mendapat nomor kapal dari Niar (teman dari BPI Surabaya), kapal besar kuota 50 orang pun didapat dengan harga murah! Hanya 700.000 rupiah. Padahal, saya ke sana hanya berempatbelas. (Kontak kapal murah dan menyenangkan: Pak Riri 0819-3943-6616).

Pak Riri

Awalnya, kami akan berangkat berduapuluhtiga. Namun, beberapa jam sebelum keberangkatan, delapan orang batal berangkat. Syok, pasti. Harga kapal sudah dapat 900.000 rupiah, kala itu. Setelah tawar menawar kembali, harga kapal dinego menjadi 700.000 rupiah, dan tetap pakai kapal besar. Alhamdulillaaah! Karena terlanjur pakai kapal besar, sementara rombongan sedikit, keluarga Pak Riri pun diajak serta. Ini, sih, nggak masyalaaah!

Kapal kecil atau jukung
 
Pak Riri bukan seorang nelayan. Beliau adalah penambang pasir di perairan sekitar Situbondo. Selasa lalu, beliau baru pulang untuk bersiap mengantar kami. Bapak beranak satu itu mengajak serta keluarga besarnya lantaran belum pernah ke Gili Labak.

Saat salah satu dari mereka menjawab, "Kami belum pernah tahu Gili Labak. Tapi orang-orang di luar Madura malah lebih tahu duluan," katanya sambil tersenyum.

Keluarga Pak Riri liburan

Gili Labak tampak ganas selepas kami sarapan. Ombak di tepian lumayan kencang. Saya snorkling pun sempat merasa sudah berenang menuju tepi malah terseret kembali ke tengah. Ada juga sudah berenang tapi nggak gerak-gerak, saking kuatnya arus:))). Belum lagi di sana hujan-cerah-hujan-cerah. Kata teman saya, pemandangan bagusnya nggak kelihatan. Ya udah, sih, yang penting sudah tahu Gili Labak :D.
Snorkling di tepian saja

Reuni tipis-tipis

Sesi curhat dimulai...

Yang saya sayangkan, hampir nggak ada foto underwater yang bagus. Sebab, arus kencang membuat partikel pasir ikut terangkat. Padahal, beberapa teman saya pingin banget dijepret pas sedang snorkling.

Pasir Gili Labak putih bersih. Tapi karena faktor cuaca dan banyaknya kunjungan wisata--saat kami ke sana ada belasan kapal wisata bersandar--tampak kotor. Biasanya, tepian pantai dangkal. Sehingga memungkinkan wisatawan bisa snorkling di area karang. Sayang, saat ke sana sedang pasang. Tapi, buat saya, yang penting bisa main air ngerendam kepala, Alhamdulillah!:))).

Aksi merendam kepala :p

Nggak usah khawatir untuk masalah perut. Ada toko yang baru dibuka plus persewaan snorkling di sana.Tapi, kalau mau hemat, bisa juga membawa perlengkapan snorkling dari rumah. Kalau kami, menyewa snorkel gear dan life jacket 50.000 rupiah di Desta Surabaya, tempatnya di depan House of Sampoerna (Dadang 082131174684).

Sebagian tim Gili Labak

Semakin siang, cuaca Gili Labak tak bersahabat. Angin kencang, air pasang surut. Pukul 13.00 kami memutuskan untuk balik kanan.

Pulang

Cuaca semakin buruk saat di tengah lautan. Angin kencang, ombak ganas, langit gelap. Beruntung, kami menggunakan kapal besar. Goncangan ombak pun tak seberapa terasa. Nggak kebayang kalau pakai jukung, deh.
 
 Mulai gelap

Jadi, gimana? Tertarik nggak buat ke Gili Labak?  Murah kok, kami bersebelas total menghabiskan 239.000 rupiah perorang jika plus snorkel gear. Tapi ingat, jadilah wisatawan bertanggungjawab. Nggak malu sama Tuhan? Sudah dikasih pemandangan bagus, oksigen gratis, kok buang sampahnya sembarangan :D.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…