Sunday, April 5, 2015

Gili Labak: Pulau Kecil di Utara Madura

Gili Labak

Sudah lama saya ingin pergi ke Gili Labak. November lalu, saat saya ke Sumenep, mulanya ingin ke sana. Namun, karena teman membawa anak berusia dua tahun, jadi ditunda. Maka, ketika kesempatan itu datang, saya merencanakan untuk pergi ke Gili Labak awal April.

Kamis malam, kami berangkat dengan Travello pukul 23.00 dan sampai di Masjid Raya Sumenep tepat saat azan Subuh--setelah beberapa insiden, akhirnya!:))). Setelah salat, tanpa mandi, kami langsung berangkat menuju rumah Pak Riri untuk parkir mobil. Kapal diparkir tak jauh dari rumah beliau.
Masjid Raya Sumenep 

Gili Labak merupakan bagian dari Pulau terluar Madura, masuk dalam Kabupaten Sumenep, Kecamatan Talango. Butuh waktu 2,5-3 jam perjalanan kapal dari Pelabuhan Kalianget bergantung cuaca di lautan. Pulaunya cukup kecil dan hanya dihuni oleh 35 kepala keluarga migrasi dari Talango. Saking kecilnya, berdasarkan googling cepat di peta Kabupaten Sumenep, hampir tak ada yang menyebutkan keberadaan Gili Labak.
 
Pelabuhan Kalianget 

Kapal bersandar di Kalianget
 
2,5 jam perjalanan untuk sampai di Gili Labak. Cuaca cukup cerah. Lautan dipenuhi dengan keramba kepiting dan rumput laut lengkap dengan bendera warna-warni penunjuk identitas pemilik.

Tak ada air tawar di Gili Labak. Rumahnya dari kekayuan. Dan hampir seluruh warganya bekerja sebagai nelayan. Di tepi pulau, akan ada banyak sekali ikan teri dijemur. Kata salah satu warganya, ikan akan dikirim ke Sumenep untuk dijual.

Memilah teri

Teri dimana-mana
 
Seharusnya, kondisi Gili Labak bersih. Karena penduduk sangat sedikit. Tapi saat saya ke sana, pulaunya sudah kotor. Mungkin, karena Gili Labak sudah terjamah wisatawan tak bertanggungjawab. Sampah berserakan dimana-mana. Terbukti, banyak sekali botol kaca berserak di satu tempat.

Botol berserak
 
Untuk mencapai Gili Labak, wisatawan bisa menyewa kapal dari Pelabuhan Kalianget. Sekitar 600.000-1.200.000, bergantung besar kecilnya kapal. Tapi, karena saya mendapat nomor kapal dari Niar (teman dari BPI Surabaya), kapal besar kuota 50 orang pun didapat dengan harga murah! Hanya 700.000 rupiah. Padahal, saya ke sana hanya berempatbelas. (Kontak kapal murah dan menyenangkan: Pak Riri 0819-3943-6616).

Pak Riri

Awalnya, kami akan berangkat berduapuluhtiga. Namun, beberapa jam sebelum keberangkatan, delapan orang batal berangkat. Syok, pasti. Harga kapal sudah dapat 900.000 rupiah, kala itu. Setelah tawar menawar kembali, harga kapal dinego menjadi 700.000 rupiah, dan tetap pakai kapal besar. Alhamdulillaaah! Karena terlanjur pakai kapal besar, sementara rombongan sedikit, keluarga Pak Riri pun diajak serta. Ini, sih, nggak masyalaaah!

Kapal kecil atau jukung
 
Pak Riri bukan seorang nelayan. Beliau adalah penambang pasir di perairan sekitar Situbondo. Selasa lalu, beliau baru pulang untuk bersiap mengantar kami. Bapak beranak satu itu mengajak serta keluarga besarnya lantaran belum pernah ke Gili Labak.

Saat salah satu dari mereka menjawab, "Kami belum pernah tahu Gili Labak. Tapi orang-orang di luar Madura malah lebih tahu duluan," katanya sambil tersenyum.

Keluarga Pak Riri liburan

Gili Labak tampak ganas selepas kami sarapan. Ombak di tepian lumayan kencang. Saya snorkling pun sempat merasa sudah berenang menuju tepi malah terseret kembali ke tengah. Ada juga sudah berenang tapi nggak gerak-gerak, saking kuatnya arus:))). Belum lagi di sana hujan-cerah-hujan-cerah. Kata teman saya, pemandangan bagusnya nggak kelihatan. Ya udah, sih, yang penting sudah tahu Gili Labak :D.
Snorkling di tepian saja

Reuni tipis-tipis

Sesi curhat dimulai...

Yang saya sayangkan, hampir nggak ada foto underwater yang bagus. Sebab, arus kencang membuat partikel pasir ikut terangkat. Padahal, beberapa teman saya pingin banget dijepret pas sedang snorkling.

Pasir Gili Labak putih bersih. Tapi karena faktor cuaca dan banyaknya kunjungan wisata--saat kami ke sana ada belasan kapal wisata bersandar--tampak kotor. Biasanya, tepian pantai dangkal. Sehingga memungkinkan wisatawan bisa snorkling di area karang. Sayang, saat ke sana sedang pasang. Tapi, buat saya, yang penting bisa main air ngerendam kepala, Alhamdulillah!:))).

Aksi merendam kepala :p

Nggak usah khawatir untuk masalah perut. Ada toko yang baru dibuka plus persewaan snorkling di sana.Tapi, kalau mau hemat, bisa juga membawa perlengkapan snorkling dari rumah. Kalau kami, menyewa snorkel gear dan life jacket 50.000 rupiah di Desta Surabaya, tempatnya di depan House of Sampoerna (Dadang 082131174684).

Sebagian tim Gili Labak

Semakin siang, cuaca Gili Labak tak bersahabat. Angin kencang, air pasang surut. Pukul 13.00 kami memutuskan untuk balik kanan.

Pulang

Cuaca semakin buruk saat di tengah lautan. Angin kencang, ombak ganas, langit gelap. Beruntung, kami menggunakan kapal besar. Goncangan ombak pun tak seberapa terasa. Nggak kebayang kalau pakai jukung, deh.
 
 Mulai gelap

Jadi, gimana? Tertarik nggak buat ke Gili Labak?  Murah kok, kami bersebelas total menghabiskan 239.000 rupiah perorang jika plus snorkel gear. Tapi ingat, jadilah wisatawan bertanggungjawab. Nggak malu sama Tuhan? Sudah dikasih pemandangan bagus, oksigen gratis, kok buang sampahnya sembarangan :D.
Post a Comment