Sunday, April 19, 2015

Liburan Kilat di Omah Kayu

Gunung Banyak

Ini bukan trip yang direncanakan matang. Tapi serbamendadak. Itulah sebab, judulnya fast trip. Karena, serbamendadak, serbacepat, dan serbapasrah.

Pilihan trip kali ini adalah Omah Kayu, sebuah penginapan di atas pohon dengan bangunan serbakayu. Saya dan teman tentu saja tidak menginap. Hanya mampir, numpang eksis di tempat yang lagi happening.

Terletak di Pegunungan Banyak Kota Wisata Batu, Omah Kayu berada. Letaknya jadi satu dengan wisata dirgantara paragliding--yang sampai sekarang saya hanya bisa gigit jari karena belum sempat. Cuaca Batu hari itu cukup bersahabat. Maksudnya, nggak panas dan nggak mendung. Tapi, saat di puncak, ternyata langit mendung. Setetes-dua air mulai turun, tapi tertahan.

Untuk mencapai Omah Kayu tidaklah sulit. Hari itu, kami memutuskan untuk ngeteng. Naik turun angkot dari Malang. Rutenya begini:

Naik angkot AL (Arjosari-Landungsari): 5.000 rupiah (angkot tersedia sampai maghrib saja PP)
Landungsari-Bis Puspa Indah jurusan Jombang, Kediri, Tuban: 8.000 rupiah (bis tersedia sampai jam 21.00)

Lalu turun di Pandesari atau katakan saja Paralayang, kenek bis pasti tahu. Kami turun di pertigaan Pandesari, di depan masjid besar dan bagus. Dari tempat itu, jarak menuju Gunung Banyak hanya 1,5 kilometer saja. Dekat sekali.

Sayang, kami nyasar. Niat awal jalan kaki batal karena kami berjalan lurus ke arah jalanan curam. Bukan mengikuti rambu ke arah Gunug Banyak, keasyikan nggosip. Kami sempat mencoba hitchhiking, nebeng mobil boks, tapi gagal. Iyalah gagal wong mobil yang saya hentikan justru bilang, "Mbak, salah arah. Kalau mau ke paralayang bukan sini jalannya."

Hahaha. Namanya juga jalan nggak jelas tanpa konsep. Ya begini lucunya :)).

Jalanan yang nggak mungkin dilewati sambil jalan kaki
 
Akhirnya kami ngojek. Sebenarnya tak ada tukang ojek. Hanya saat kami bertanya, salah seorang petugas sekuriti pabrik benang menawari untuk membonceng kami. Kepalang hopeless karena nyasar. Ya sudah, kami iyakan mengojek dengan harga 10.000 rupiah perorang. MAHAAAL!

Nggak apa, daripada nggak sampai?

Untuk masuk wisata paralayang, wisatawan harus membayar tiket masuk 5.000 rupiah perorang dan 5.000 rupiah permotor. Karena saya ngojek, biaya tiket masuk pun gratis. Alasannya, yang ngojekin adalah orang asli daerah Pandesari, jadi lewat aja.

Ground untuk paralayang dibuka 24 jam. Tapi aktivitas paralayang hanya dibuka sampai pukul 16.00. Itu pun tergantung cuaca. Seperti hari itu, tak ada angin, sehingga tidak memungkinkan untuk terbang. Tak ada aktivitas paralayang. Yang ada hanya foto-foto dan duduk-duduk di tepian bukit.

Gunungnya banyak
 
Narsis

Ini juga narsis :p
 
Puas foto-foto nggak jelas, wisatawan pasti langsung mampir ke Omah Kayu. Semacam Kalibiru di Jogjakarta, gitu. Bisa foto-foto di atas rumah dengan pemandangan hamparan pegunungan. Pengunjung diharuskan membayar 5.000 rupiah jika mau numpang eksis di sini. Omah Kayu buka dari pukul 08.00-16.00. Kalau mau menikmati keindahan bintang-bintang bertaburan kala malam tiba, bisa juga menginap semalam dengan biaya 350.000 rupiah. Bisa juga menenda, yang biayanya saya tak tahu.

Omah Kayu

Karena sifatnya adalah numpang eksis, jadi setiap pengunjung di sini harus bersabar menunggu antrean. Iya, kalau mau foto di Omah Kayu harus antre. Karena masing-masing bangunan kayu maksimal 3-4 orang saja. Kalau lebih, bisa-bisa fondasinya roboh. Gitu, katanya.

Sayang, karena antre inilah yang membuat saya sebal. Kebetulan saya antre lama karena mau eksis, sabar-sabar aja. Eh, begitu baru beberapa jepret, ada gitu yang antre setelah saya nggak terima karena menganggap dia terlalu lama menunggu. Umumnya yang begitu adalah laki-laki. Sigh! :@

Omah Kayu view Kota Wisata Batu
Omah dan papan kayu

Lanskap Omah Kayu 

Di sepanjang jalan menuju Omah Kayu, akan ditemukan bunga terompet dan tanaman-tanaman lain dengan penanda nama. Itu adalah nama pengunjung yang menginap di Omah Kayu. Fasilitasnya setelah check out adalah menanam tanaman. Ada juga dudukan kayu di tepi bukit yang langsung menghadap hamparan pemandangan kota.

Bunga Terompet

Duduk santai di sini juga bisa

Dari Omah Kayu, tentu saja lanskap kota Batu bisa jelas terlihat. Ditambah angin semilir membuat wisatawan betah berlama-lama di sana. Tapi ingat, antre! :)))

Dari bawah Omah Kayu

Kota Batu dari Omah Kayu
 
Selain rumah kayu di atas pohon, ada juga rumah kayu di tepian tebing. Sayang, nggak difungsikan. Padahal, rumahnya kece dan artistik.

Bagus tapi nggak fungsi

Untuk urusan perut, nggak usah khawatir. Ada beberapa toko yang menyediakan makanan dan minuman. Tetep saja, desainnya kekayuan. Enak juga kalau nongkrong di sini malam-malam.

Tongkrongan kafe

Omah Kayu ini happening banget belakangan. Enak, sih. Nyaman buat menghilangkan penat. Apalagi, Batu dekat sekali dengan Surabaya. Jadi, cocok banget buat yang hanya ingin bersantai tapi cuma punya waktu sehari. Saran, sih, jangan ke sana pas weekend. Karena ramai. Tapi kalau cuma punya waktu pas weekend, yaaa selamat berlibur!

Numpang eksis :)))

Post a Comment