Skip to main content

Ketika Anak Mengintip Video Porno

Pagi itu, seperti sebelumnya. Saya mengantar adik ke sekolah. Namun, menjadi berbeda ketika adik saya mulai bercerita, "Mbak, teman-teman cowokku kemarin habis lihat video porno". Begitu katanya, bocah yang bulan ini genap berusia sepuluh tahun. Saya memegang kendali sambil terngaga.
###

Cerita bergulir. Alkisah, enam orang teman laki-laki adik saya sedang bermain games di ponsel pintar. Tidak ada guru karena sedang jam kosong. Memang, di sekolah adik saya, peraturan membawa ponsel sangat longgar. Memudahkan siswa berkomunikasi dengan keluarga ketika jam belajar usai.

Ponsel pintar milik salah satu dari mereka dibuat bergilir. Hingga ponsel sampai pada seorang siswa--yang dikenal nakal (dalam perspektif adik saya dan teman-temannya) dan suka mendapat nilai jelek. Bocah laki-laki itu lalu membuka you tube dan mengakses video porno dengan kata kunci yang tak diketahui adik saya dan teman-temannya. Si pemilik ponsel diajak serta. Begitu pula teman laki-laki lain. Kegiatan itu dilakukan berulang saat guru tidak ada dan saat ketua kelas tidak masuk sekolah.

Hingga, sang ketua kelas mendapat laporan dari siswi-siswi adanya tindakan menjijikkan di dalam kelas empat sekolah dasar itu. Sang ketua kelas marah. Makin marah ketika tahu sahabatnya juga diajak serta melihat video persetubuhan orang dewasa. Sang ketua kelas itu melapor ke kepala sekolah dan langsung membangkitkan amarah.

Esoknya, orang tua dari siswa laki-laki ditelepon. Beberapa di antaranya dipanggil ke sekolah, termasuk orang tua si pemilik ponsel yang tentu saja komplain karena anaknya disalahkan membawa ponsel pintar yang kemudian dirampas. Sehari setelahnya, adik saya kembali bercerita. "Kata kepala sekolah, Andi (nama samaran) akan dikeluarkan dari sekolah, Mbak. Kok bisa ya, cucunya bupati kayak gitu?".
###

Dikeluarkan. Saya hanya mengernyit ketika tahu cerita itu. Benarkah begitu? Sedangkal itukah pemikiran sekolah ketika tahu siswa didiknya kedapatan mengakses video porno? Dimana kendali sekolah sebagai pendidik? Kenapa justru membiarkan jam belajar kosong? Gurunya kemana saja? Masih kurangkah tunjangan profesi guru sehingga memungkinkan guru bolos tanpa adanya pengganti? Terus terang, saya malu. Apalagi, sekolah adik saya adalah sekolah islam yang cukup terpandang.

Fungsi guru dan sekolah seolah lumpuh. Ketika siswa membutuhkan didikan di luar didikan keluarga, kenapa sekolah justru akan mengeluarkan siswa yang berbuat salah? (Bisa saja ini juga terjadi di sekolah lain). Mengembalikan kepada keluarga yang mungkin saja tak bisa mendidik seperti sekolah. Lalu, salah siapa jika keluarga tidak bisa mendidik keras dan anak berlari pada jalanan? Bukankah generasi penerus digodok di sekolah? Atau kini sekolah hanya menjadi tempat keluar masuk dan singgah bagi siswa, tanpa perlu proses menjadi pintar? Sekolah bukan lagi tempat memperbaiki moral siswa, tapi justru memberikan dampak traumatis. Begitukah?
###

Keluarga saya cukup strict dalam mendidik anak-anaknya. Bagaimanapun, agama terus disisipkan sebagai bekal kehidupan. Meski sekali-dua mungkin saja di antara kami sering lalai terhadap apa yang diajarkan. Internet, bagi ayah dan ibu saya adalah racun. Internet adalah musuh. Semua jenis kejahatan bersumber dari internet. Itulah sebab, adik bungsu saya dilarang keras bermain internet. Ponselnya pun menjadi ponsel satu-satunya di kelas yang hanya bisa digunakan sms dan telepon, berbentuk candy bar.

Tapi itu terlalu berlebihan, menurut saya.

Saya dan kakak adalah generasi tahun 90-an. Kami menikmati masa-masa bermain permainan tradisional. Sementara anak masa kini justru tak tahu menahu tentang permainan tradisional. Mereka hanya tahu internet dan teknologi. Wajar, zaman sudah berubah. Sebagai orang (yang mungkin sudah) dewasa, mantan generasi 90-an, internet tidak selalu jahat. Adalah salah besar jika saya justru memperlakukan adik saya layaknya anak di era 90-an.

Zaman sudah sangat berubah. Internet harus digunakan. Si bungsu kini kerap bermain internet. Tentunya, harus didampingi. Mana mungkin saya tega membiarkan adik saya bermain internet sendirian tanpa pendampingan? Internet itu kejam. Tapi positifnya jauh lebih banyak. Mana mungkin saya tega membiarkan adik saya ketinggalan zaman? Apa kabar dunia teknologi? Apa kabar dunia pendidikan masa kini?
###

Saya sedih melihat kabar dari sekolah adik--yang saya yakin juga dialami beberapa siswa di sekolah lain. Dikeluarkan dari sekolah adalah diskriminasi yang berat dan sangat parah. Kabarnya, Surabaya enggan melihat anak usia sekolah tidak sekolah. Tapi, faktanya, ternyata masih banyak anak Surabaya yang putus sekolah.

Data Dinas Pendidikan Surabaya tahun 2012 menyebutkan, sedikitnya enam ribu siswa usia sekolah yang kini tak sempat mencicipi serunya bangku sekolah. Putus sekolah. Penyebabnya tentu beragam. Ekonomi bawah, siswa dianggap nakal, malas, bermasalah, yang berujung pada drop out. Mungkin sekolah mulai lelah mendidik mereka...

Hari Pendidikan Nasional sejatinya harus menjadi momentum berbalik bagi sekolah dan pendidik. Sudahkah kita memberikan pelayanan maksimal bagi generasi penerus bangsa? Atau justru pendidik benar-benar disibukkan dengan urusan sertifikasi dan TPG.

Mungkin saja pendidik juga lupa ajaran Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayan. Semoga kita, orang dewasa, guru, dan sekolah tidak hanya saling menuding pada kelanjutan nasib anak. Tapi juga introspeksi. Sudah sesibuk apa kita menyiapkan bekal masa depan mereka? Semoga kita paham, pendidikan adalah penting...

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…