Saturday, May 2, 2015

Ketika Anak Mengintip Video Porno

Pagi itu, seperti sebelumnya. Saya mengantar adik ke sekolah. Namun, menjadi berbeda ketika adik saya mulai bercerita, "Mbak, teman-teman cowokku kemarin habis lihat video porno". Begitu katanya, bocah yang bulan ini genap berusia sepuluh tahun. Saya memegang kendali sambil terngaga.
###

Cerita bergulir. Alkisah, enam orang teman laki-laki adik saya sedang bermain games di ponsel pintar. Tidak ada guru karena sedang jam kosong. Memang, di sekolah adik saya, peraturan membawa ponsel sangat longgar. Memudahkan siswa berkomunikasi dengan keluarga ketika jam belajar usai.

Ponsel pintar milik salah satu dari mereka dibuat bergilir. Hingga ponsel sampai pada seorang siswa--yang dikenal nakal (dalam perspektif adik saya dan teman-temannya) dan suka mendapat nilai jelek. Bocah laki-laki itu lalu membuka you tube dan mengakses video porno dengan kata kunci yang tak diketahui adik saya dan teman-temannya. Si pemilik ponsel diajak serta. Begitu pula teman laki-laki lain. Kegiatan itu dilakukan berulang saat guru tidak ada dan saat ketua kelas tidak masuk sekolah.

Hingga, sang ketua kelas mendapat laporan dari siswi-siswi adanya tindakan menjijikkan di dalam kelas empat sekolah dasar itu. Sang ketua kelas marah. Makin marah ketika tahu sahabatnya juga diajak serta melihat video persetubuhan orang dewasa. Sang ketua kelas itu melapor ke kepala sekolah dan langsung membangkitkan amarah.

Esoknya, orang tua dari siswa laki-laki ditelepon. Beberapa di antaranya dipanggil ke sekolah, termasuk orang tua si pemilik ponsel yang tentu saja komplain karena anaknya disalahkan membawa ponsel pintar yang kemudian dirampas. Sehari setelahnya, adik saya kembali bercerita. "Kata kepala sekolah, Andi (nama samaran) akan dikeluarkan dari sekolah, Mbak. Kok bisa ya, cucunya bupati kayak gitu?".
###

Dikeluarkan. Saya hanya mengernyit ketika tahu cerita itu. Benarkah begitu? Sedangkal itukah pemikiran sekolah ketika tahu siswa didiknya kedapatan mengakses video porno? Dimana kendali sekolah sebagai pendidik? Kenapa justru membiarkan jam belajar kosong? Gurunya kemana saja? Masih kurangkah tunjangan profesi guru sehingga memungkinkan guru bolos tanpa adanya pengganti? Terus terang, saya malu. Apalagi, sekolah adik saya adalah sekolah islam yang cukup terpandang.

Fungsi guru dan sekolah seolah lumpuh. Ketika siswa membutuhkan didikan di luar didikan keluarga, kenapa sekolah justru akan mengeluarkan siswa yang berbuat salah? (Bisa saja ini juga terjadi di sekolah lain). Mengembalikan kepada keluarga yang mungkin saja tak bisa mendidik seperti sekolah. Lalu, salah siapa jika keluarga tidak bisa mendidik keras dan anak berlari pada jalanan? Bukankah generasi penerus digodok di sekolah? Atau kini sekolah hanya menjadi tempat keluar masuk dan singgah bagi siswa, tanpa perlu proses menjadi pintar? Sekolah bukan lagi tempat memperbaiki moral siswa, tapi justru memberikan dampak traumatis. Begitukah?
###

Keluarga saya cukup strict dalam mendidik anak-anaknya. Bagaimanapun, agama terus disisipkan sebagai bekal kehidupan. Meski sekali-dua mungkin saja di antara kami sering lalai terhadap apa yang diajarkan. Internet, bagi ayah dan ibu saya adalah racun. Internet adalah musuh. Semua jenis kejahatan bersumber dari internet. Itulah sebab, adik bungsu saya dilarang keras bermain internet. Ponselnya pun menjadi ponsel satu-satunya di kelas yang hanya bisa digunakan sms dan telepon, berbentuk candy bar.

Tapi itu terlalu berlebihan, menurut saya.

Saya dan kakak adalah generasi tahun 90-an. Kami menikmati masa-masa bermain permainan tradisional. Sementara anak masa kini justru tak tahu menahu tentang permainan tradisional. Mereka hanya tahu internet dan teknologi. Wajar, zaman sudah berubah. Sebagai orang (yang mungkin sudah) dewasa, mantan generasi 90-an, internet tidak selalu jahat. Adalah salah besar jika saya justru memperlakukan adik saya layaknya anak di era 90-an.

Zaman sudah sangat berubah. Internet harus digunakan. Si bungsu kini kerap bermain internet. Tentunya, harus didampingi. Mana mungkin saya tega membiarkan adik saya bermain internet sendirian tanpa pendampingan? Internet itu kejam. Tapi positifnya jauh lebih banyak. Mana mungkin saya tega membiarkan adik saya ketinggalan zaman? Apa kabar dunia teknologi? Apa kabar dunia pendidikan masa kini?
###

Saya sedih melihat kabar dari sekolah adik--yang saya yakin juga dialami beberapa siswa di sekolah lain. Dikeluarkan dari sekolah adalah diskriminasi yang berat dan sangat parah. Kabarnya, Surabaya enggan melihat anak usia sekolah tidak sekolah. Tapi, faktanya, ternyata masih banyak anak Surabaya yang putus sekolah.

Data Dinas Pendidikan Surabaya tahun 2012 menyebutkan, sedikitnya enam ribu siswa usia sekolah yang kini tak sempat mencicipi serunya bangku sekolah. Putus sekolah. Penyebabnya tentu beragam. Ekonomi bawah, siswa dianggap nakal, malas, bermasalah, yang berujung pada drop out. Mungkin sekolah mulai lelah mendidik mereka...

Hari Pendidikan Nasional sejatinya harus menjadi momentum berbalik bagi sekolah dan pendidik. Sudahkah kita memberikan pelayanan maksimal bagi generasi penerus bangsa? Atau justru pendidik benar-benar disibukkan dengan urusan sertifikasi dan TPG.

Mungkin saja pendidik juga lupa ajaran Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayan. Semoga kita, orang dewasa, guru, dan sekolah tidak hanya saling menuding pada kelanjutan nasib anak. Tapi juga introspeksi. Sudah sesibuk apa kita menyiapkan bekal masa depan mereka? Semoga kita paham, pendidikan adalah penting...

Post a Comment