Sunday, May 17, 2015

Senja dalam Elegi



Say something I’m giving up on you...

Senja, begitu biasa namaku dipanggil. Aku lahir kala hari mulai memburam, menjelang malam. Tak lain juga, kedua orang tuaku menyukai waktu senja—membuat namaku benar-benar Senja. Seperti mereka, aku juga tamat dengan senja. Waktu senja selalu membuatku lebih hidup. Semua hal yang kulakukan kala pagi, terkumpul dalam satu elegi. Aku selalu menyukai senja. Apalagi kala menghirup aroma pasir pantai yang menguar, diiringi deburan ombak kecil. Riuh yang menenangkan. Seperti senja ini.

Semua berkumpul menjadi satu. Jingga berpacu waktu bergabung dengan gumpalan kapas awan. Tari-tarian masa lalu seolah reuni dalam pikiran. Sementara degup jantung berlarian. Senja ini adalah pelarian kali kesekian. Membuatku bosan dengan ingar bingar. Selalu rindu kala surya memudar.

Pasir putih pantai seolah tahu apa yang berkelebat bergantian. Kepalaku tengah sesak. Kenangan masa lalu mengudara saling merusak. Silih berganti harum pantai dengan menyan dari Pura Batu Bolong, tak jauh dari tempatku duduk. Mereka mulai turun, seiring matahari yang meredup, hilang. Perkakas disunggih, gelak tawa menyertai.

“Langit sudah gelap, sampai kapan mau menyendiri, Senja?”

Namanya Langit, dia yang paling tahu isi kepala juga hatiku senja ini. Dia juga yang paling tahu 27 tahun kebiasaanku sepanjang hidup. Termasuk gundah yang sedang berkejaran dengan waktu.

Aku hanya diam. Tanpa ekspresi, masih menatap pantai. Hari sudah menjelma malam. Tak ada cahaya di sekitar Senggigi. Hanya kedai jagung bakar di tepian yang mulai ramai. Satu persatu mereka datang, menikmati syahdunya nyanyian ombak bergulung pelan. Apa kubilang, pantai selalu tenang.

“Mungkin bukan aku yang kamu butuhkan saat ini. Tapi aku selalu ada di sepanjang kamu membutuhkan teman untuk bercerita,” Langit duduk di sisiku. Membiarkanku tenggelam dalam lamunan.

Kami sama diam. Menanggalkan ego masing-masing. Langit selalu paham apa kata senja. Memahami kala banyak orang mengutuk senja datang seiring sisa waktu yang menipis. Langit tahu, senja tak selalu disuka.

Kepalaku mulai terasa sesak dengan kenangan. Kini semua berkumpul di pelupuk mata. Sekuat hati aku menahannya, agar tak jatuh dalam perih yang kian menjadi. Langit, seperti biasa hanya diam ketika aku masih bungkam. Tapi dia selalu menungguku. Apapun yang senja lakukan, selalu saja langit tahu.

“Senja selalu punya cara untuk mendongeng tentang kisahnya, kan?” nada suara pelan bercampur getar keluar. Sebisanya kutahan agar terlihat tegar.

Ombak berlarian ke tepi, di malam yang seharusnya sunyi dengan dirinya sendiri. Langit tak lagi gelap, bintang bertabur baur satu-dua. Bulan di ujung tak sempurna menambah terang pada malam yang harusnya bahagia.

Nyanyian dan petikan gitar pengunjung kedai jagung samar terdengar. Hari sudah malam, sementara aku masih membisu.

“Seharusnya hari ini aku bahagia dengan caraku. Bukan duduk di sini melarung kenangan,”

Pepatah menyebutkan diam adalah emas. Begitu saja Langit berlaku. Dia diam namun tak mati. Hanya menunggu dongeng yang tak kunjung usai kuceritakan.

Tapi Langit tidak dungu. Dia lebih dari sekadar tahu isi hatiku.

Pandanganku mengudara menutupnya dengan hati. Menghirup angin malam dalam-dalam. Membuangnya pelan-pelan.

“Dia hadir dan pergi tanpa bisa dikendalikan. Apa begitu laki-laki yang kamu katakan baik untuk hidupmu?” 

Sisa waktuku hanya sedikit. Mungkin tak sampai sepenggal galah. Napas yang kubuang bisa saja candu nikmat Tuhan yang paling akhir. Langit bahkan tahu kapan aku harus berhenti menyesali masa lalu.

Langit akan selalu sama dimanapun aku ada. Menaburkan bintang kala gelap. Memberikan warna kala jalanan penuh derap.
***

Di puncak kota Batu, Bintang berpadu Bulan. Meninggalkan senja yang larut pada langit.

Say something I’m giving up on you,
I’ll be the one if you want me too...




*ditulis karena rindu senja saat pagi. Juga rindu bercengkrama dengan imaji.
Post a Comment