Skip to main content

Cerita Lain dari Jalan-jalan

Sejak saya tahu dunia bukan soal hidup di kantor dan rumah PP, jujur saja saya makin penasaran dengan kehidupan di luar sana. Ada banyak cerita yang saya dapat dari jalanan begitu memutuskan untuk jalan kemana pun arah dan kesempatan yang ada.

Dibandingkan dengan pergi keroyokan, small groupie, dan berdua, saya lebih suka jalan seorang diri. Bukan apa-apa, dengan jalan sendiri, saya bisa lebih banyak bertemu dengan orang baru dan tahu cerita mereka. Maklum saja, saya sengaja menjadikan mereka sebagai objek pembelajaran bagi kehidupan ke depan.

Di dunia nyata, mungkin saya kurang gaul dan tidak punya banyak teman. Prinsip saya, untuk belajar tidak hanya bisa didapat dari teman yang sudah dikenal, tapi juga orang-orang baru. Nggak jarang, saya belajar dan semakin bersemangat setiap pulang sambil membawa cerita baru.

Seperti saat ini. Di perjalanan dari Lumajang menuju Pulau Dewata, saya bertemu dengan seorang janda beranak satu. Kami bicara banyak hal. Banyaaak sekali. Sampai saya tahu kehidupan masa lalu dia. Padahal saya tidak banyak tanya seperti seorang wartawan. Dia saja yang cerita mengalir begitu saja. Dari ceritanya, saya mensyukuri kehidupan sampai detik ini. Saya tahu, saya bukan orang yang mudah bersyukur. Tapi jika melihat orang lain berada di posisi yang jauh di bawah kehidupan saya dan keluarga, kok kufur nikmat sekali saya ini.

Dia seorang janda beranak satu yang belum pernah bekerja sama sekali. Cerai sejak dua tahun lalu. Bekerja di Denpasar sejak empat bulan lalu dengan gaji 1,5 juta rupiah perbulan. Tidak ada uang bonus, apalagi hari libur. Sebulan hanya dua hari libur. Gaji pas-pasan dibagi untuk keluarga di Jember sejuta, sisanya untuk menghidupi dirinya sendiri. Hanya lima ratus ribu rupiah.

"Mbak nggak capek kerja begitu?" tanya saya.

Dia tersenyum kecut. "Apalah daya, Mbak? Daripada anak dan ibu saya nggak bisa makan? Saya harus mengubah kehidupan keluarga saya. Kalau nggak kabur begini bisa miskin terus, Mbak."

DEG!

Saya kaget. Lalu di keluarga saya, apa yang perlu diubah jika semuanya tampak jauh dari kehidupan Si Mbak ini? Astaghfirullah. Sedih...

Di Selat Bali, saya mendapatkan kabar dari rumah. Tentang satu kehidupan lain yang tampak normal dan bahagia. Tetapi di sisi lain, satu kondisi berbalikan dengan kebahagiaan. 180 derajat.

Nggak ada yang sempurna di dunia ini :'(

Begitu tulis sms Ibu yang mengabarkan keadaan saudara yang sedang menikah tetapi ayahnya opname di rumah sakit.

Saya berkaca, apa sih yang kurang dari keluarga saya? Kok saya jadi sering menghilang begini? Ibu paham, saya jalan begini untuk belajar. Untuk tahu banyak hal baru sebelum menikah. Tapi entahlah kenapa cerita dari orang-orang lain hampir selalu mengharukan.

Mungkin dengan begitu saya menjadi lebih banyak bersyukur.

Alhamdulillah...

*ditulis di Selat Bali

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…