Saturday, June 13, 2015

Cerita Lain dari Jalan-jalan

Sejak saya tahu dunia bukan soal hidup di kantor dan rumah PP, jujur saja saya makin penasaran dengan kehidupan di luar sana. Ada banyak cerita yang saya dapat dari jalanan begitu memutuskan untuk jalan kemana pun arah dan kesempatan yang ada.

Dibandingkan dengan pergi keroyokan, small groupie, dan berdua, saya lebih suka jalan seorang diri. Bukan apa-apa, dengan jalan sendiri, saya bisa lebih banyak bertemu dengan orang baru dan tahu cerita mereka. Maklum saja, saya sengaja menjadikan mereka sebagai objek pembelajaran bagi kehidupan ke depan.

Di dunia nyata, mungkin saya kurang gaul dan tidak punya banyak teman. Prinsip saya, untuk belajar tidak hanya bisa didapat dari teman yang sudah dikenal, tapi juga orang-orang baru. Nggak jarang, saya belajar dan semakin bersemangat setiap pulang sambil membawa cerita baru.

Seperti saat ini. Di perjalanan dari Lumajang menuju Pulau Dewata, saya bertemu dengan seorang janda beranak satu. Kami bicara banyak hal. Banyaaak sekali. Sampai saya tahu kehidupan masa lalu dia. Padahal saya tidak banyak tanya seperti seorang wartawan. Dia saja yang cerita mengalir begitu saja. Dari ceritanya, saya mensyukuri kehidupan sampai detik ini. Saya tahu, saya bukan orang yang mudah bersyukur. Tapi jika melihat orang lain berada di posisi yang jauh di bawah kehidupan saya dan keluarga, kok kufur nikmat sekali saya ini.

Dia seorang janda beranak satu yang belum pernah bekerja sama sekali. Cerai sejak dua tahun lalu. Bekerja di Denpasar sejak empat bulan lalu dengan gaji 1,5 juta rupiah perbulan. Tidak ada uang bonus, apalagi hari libur. Sebulan hanya dua hari libur. Gaji pas-pasan dibagi untuk keluarga di Jember sejuta, sisanya untuk menghidupi dirinya sendiri. Hanya lima ratus ribu rupiah.

"Mbak nggak capek kerja begitu?" tanya saya.

Dia tersenyum kecut. "Apalah daya, Mbak? Daripada anak dan ibu saya nggak bisa makan? Saya harus mengubah kehidupan keluarga saya. Kalau nggak kabur begini bisa miskin terus, Mbak."

DEG!

Saya kaget. Lalu di keluarga saya, apa yang perlu diubah jika semuanya tampak jauh dari kehidupan Si Mbak ini? Astaghfirullah. Sedih...

Di Selat Bali, saya mendapatkan kabar dari rumah. Tentang satu kehidupan lain yang tampak normal dan bahagia. Tetapi di sisi lain, satu kondisi berbalikan dengan kebahagiaan. 180 derajat.

Nggak ada yang sempurna di dunia ini :'(

Begitu tulis sms Ibu yang mengabarkan keadaan saudara yang sedang menikah tetapi ayahnya opname di rumah sakit.

Saya berkaca, apa sih yang kurang dari keluarga saya? Kok saya jadi sering menghilang begini? Ibu paham, saya jalan begini untuk belajar. Untuk tahu banyak hal baru sebelum menikah. Tapi entahlah kenapa cerita dari orang-orang lain hampir selalu mengharukan.

Mungkin dengan begitu saya menjadi lebih banyak bersyukur.

Alhamdulillah...

*ditulis di Selat Bali

Post a Comment