Skip to main content

Melirik Alam Bawah Laut Pulau Menjangan




Dermaga Pulau Menjangan 


"Mau ikut ke Pulau Menjangan, nggak?"

Kira-kira begitu kalimat penawaran saya pada beberapa teman--yang tak terhitung berapa jumlahnya. Ditolak, sudah pasti. Tapi saya nggak patah arang. Namanya juga kepingin jalan tapi nggak punya duit buat sewa kapal sendirian. Ya, harus lebih agresif buat ajak-ajak.

Ini selalu jadi kendala saya kalau lagi pingin ngilang dari Surabaya, one day trip. Gimana nggak? Hari libur saya nyeleneh. Mana ada yang mau nemenin liburan tiap Jumat. Emangnya pengajian.

Total ada 16 orang akhirnya ikut one day trip di Pulau Menjangan. Kebetulan, kala itu hari Jumat, tanggal merah. Pas hari buruh. Yang lain demo, saya liburan hore.

Pulau Menjangan dipilih karena eksotisme bawah laut nan keren dan cukup dinikmati dalam satu hari libur. Singkat.

Syahdu

Bening

Pulau Menjangan adalah bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Banyak catatan perjalanan maupun berita mengatakan keindahan bawah laut Menjangan tidak ada duanya. Selalu membuat decak kagum. Setidaknya begitulah kali pertama yang saya lihat begitu sampai di permukaan laut. Hamparan bebatuan karang aneka bentuk dan warna berpadu. Barisan ikan warna-warni ikut menari. Amboy! Kece nian.


Hamparan karang
 
 
Bunga karang
 

Karang-karang
 
Semakin kece ketika saya menyadari bahwa untuk mencapai Pulau Menjangan tidak lagi perlu menyebrang lewat Ketapang-Gilimanuk lalu berkendara menuju Labuan Lalang, Bali. Tetapi bisa juga ditempuh lewat Desa Bengkak, Banyuwangi, Jawa Timur. Artinya, tidak akan butuh waktu lama untuk menikmati Pulau Menjangan. Sebab, selama ini yang membuat lama adalah menyebrang di Ketapang-Gilimanuk yang ditera antara 40 menit sampai 1 jam. Itu jika tidak long weekend.

Tak butuh waktu lama untuk menyebrang dari Desa Bengkak, Banyuwangi ke Pulau Menjangan. Sekira 30 menit saja. Sayang, jadwal yang ditaksir pagi sudah sampai Menjangan harus molor. Wajarlah, kami terjebak banjir di Kraton, Pasuruan dan harus berhenti sambil hopeless selama tiga jam.

 
Karang otak

Karang otak merah

Semua terbayar ketika kecantikan bawah laut Menjangan yang memesona. Kerapatan karang membuat sejauh mata memandang hanya karang terbentang. Sungguh lupa dengan apa saja yang terjadi di atas sana.

 
Mudah hancur

 
Bentuk lain karang

Semakin sering saya berenang, semakin paham Tuhan menciptakan keindahan bawah laut juga untuk manusia. Maka menjadi ironi jika populasi terumbu karang harus hancur dan habis untuk memenuhi sebagian perut manusia. Ragam biota laut semakin menyadarkan saya jika alam sangat indah. Indonesia sangat kaya.

Finding nemo!

Patrick!
 
Barisan ikan hias

Nudibranch

 
Ikan layar

 
Anemon
 
Saya pikir, Menjangan memang sangat cantik. Sama cantik dengan Belitung dan Karimun Jawa. Biotanya kaya. Karangnya beragam. Tapi Pulau Menjangan bukan hanya soal keindahan bawah laut. Di Pulau Menjangan, juga ada patung Ganesha dan pura yang biasa menjadi jujukan para umat Hindu. Saat saya ke sana, ada jejeran kapal umat sembahyang di pura.

 
Kapal

 
Ganesha

Sebagai pemungkas, jika singgah ke Pulau Menjangan jangan lupa foto underwater dengan pose kekinian. Melek di dalam laut!

 
Kekinian :)))

Kalau saya, sih, cukup pakai snorkle gear kalau mau eksis. Nggak kuat nahan perih. Hidup sudah perih, masa iya ditambah harus merasakan perihnya air laut di mata :)).

 
Hup!

Buat saya, alam bawah laut Menjangan indah sekali. Semakin indah karena saya tahu, sewaktu-waktu bisa menghabiskan libur sehari untuk menikmati pemandangan alamnya yang cantik. Apalagi, saya tahu, tarif yang dihabiskan  nggak sebanding dengan pengalaman yang didapat. MURAH! 

Jadi, kalau mau one day trip ke Pulau Menjangan, bolehlah ajak saya. Bisa diaturkan jadwal dengan harga bersahabat, ntar *malah jualan :))*.

 Ingat! Jadilah pejalan yang bertanggungjawab. However, we don't leave anything for others, except scenery.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…