Skip to main content

Tips Menabung untuk Backpacking

Tidak sedikit teman mengira saya adalah pekerja bergaji besar. Hal ini dilihat dari kebiasaan saya jalan-jalan hampir setiap bulan.

Biasanya, saya menjawab dengan jawaban, "Ini juga nabung, kok."

Memang begitu. Pada dasarnya, saya bukan pekerja bergaji besar, kok. Gaji standar dan pas buat mencukupi kebutuhan bulanan wanita single seperti saya. Lalu kok bisa saya jalan-jalan hampir setiap bulan?

Tipsnya cuma satu: menabung.

Saya punya tiga jenis tabungan berbeda. Saya membaginya berdasarkan kebutuhan; untuk jajan sehari-hari, tabungan masa depan, dan jalan-jalan. Pembagian tabungan 30:40:30.

Setiap gajian, dengan senang hati, hal pertama yang saya lakukan adalah menyisihkan berdasarkan pembagian di atas. Misal, gaji bulanan saya 2.000.000. Berarti masing-masing 600.000 untuk jajan dan tabungan jalan, serta 800.000 untuk tabungan masa depan.

Nah, karena hampir setiap bulan saya jalan, maka saya harus mengatur seirit mungkin agar 600.000 tidak habis sekali jalan. Lalu sisanya bisa diakumulasikan untuk membeli tiket pesawat perjalanan yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, bulan April saya pergi ke Gili Labak, Madura, menghabiskan uang 239.000 artinya masih ada sisa 361.000 yang bisa saya tabung lagi. Nah, sisa ini saya gunakan mengisi tabungan untuk pergi ke Pulau Komodo. Begitu pula sisa dari uang jalan di bulan-bulan berikutnya.

As simple as that. Sebenarnya, mudah saja kok membagi tabungan ini. Yang nggak mudah cuma satu: sebisa mungkin menahan hasrat belanja yang sewaktu-waktu kumat biar tabungan nggak jebol:))).

Jadi, buat yang mengira gaji saya segambreng gegara suka jalan, bisa dilihat dari rincian di atas yaa. Makanya, yuk nabung!

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…