Skip to main content

Menyapa Bromo dari Puncak B-29


Minggu lalu, saya menepati janji untuk main ke rumah Haryani di Lumajang. Haryani ini teman SMA yang sudah klop dari awal kenal. Sama nakal :)).

Jumat pagi, selepas salat Subuh, saya langsung tancap gas ke Bungurasih dengan bis kota seharga 5.000 rupiah. Motor saya titipkan parkiran kantor karena gratis *asli, kere maksimal :))*. Sampai Bungurasih, saya oper ke bis AKDP menuju Ambulu, Jember turun di perempatan Klojen, Lumajang dengan biaya 30.000 rupiah yang ditempuh selama 5 jam perjalanan. Di perempatan inilah saya akan dijemput oleh Haryani.

Tujuan saya ke Lumajang tak lain adalah ingin ke puncak songolikur atau banyak dikenal dengan sebutan B-29. Tempat yang lagi booming semena-mena. Jarak Klojen sampai Argosari bisa ditempuh sekira 1,5 jam mengendarai motor. Sebelum sampai Argosari saya mampir isi perut dengan harga 17.000 rupiah di pasar yang saya lupa nama daerahnya.

Perjalanan panjang nggak akan berasa di sini karena kanan-kiri pemandangan hijau. Aroma pegunungan kental terasa. Sayup-sayup semilir angin mulai merasuki tulang. Padahal hari sudah siang.



Hari itu adalah hari Jumat. Kawasan wisata B-29 sepi sekali. Wisatawan tak sampai dua puluh orang. Di tengah perjalanan menuju gerbang selamat datang, tukang ojek biasa menawarkan jasanya. Tawar saja semaksimal mungkin. Kalau perlu kasih alasan kenapa kalian menawar dengan harga rendah.

Alasan saya kala itu enggan mau melepas 80.000 rupiah untuk perjalanan ke puncak hanya satu: perjalanan masih panjang, sementara saya harus super duper hemat agar bisa pulang ke Surabaya dengan memutar ke Bali terlebih dulu.

Saya dapat harga 60.000 rupiah perorang untuk ojek yang mengantarkan sampai puncak. Harga segitu PP. Kenapa saya mau ngojek? Karena jarak dari tempat parkir ke puncak bisa ditempuh dengan jalan kaki sekira 2-3 jam. Sementara kalau naik ojek bisa 20-25 menit. Itu sudah sangat lama mengingat jalanan yang ditempuh nggak manusiawi.

Tiket masuk kawasan wisata B-29 sebesar 5.000 rupiah perorang, begitu juga biaya parkirnya. Tetapi, saat saya ke sana semuanya gratis. Motor dititipkan di rumah tukang ojek, tiket masuk gratis karena nggak ada penjaganya.

Kontak ojek yang bisa ditawar semena-mena: Agus (0856-4528-2879). Biasanya tukang ojek menawarkan harga selangit saat liburan sebesar 100.000-120.000 rupiah PP.



Di puncak, saya disuguhi dengan pemandangan apik. Perkebunan Suku Tengger membentang luas. Warna-warni. Pemandangan ini mengingatkan saya kala kali pertama ke puncak Bromo dua tahun lalu menggunakan motor. Satu perjalanan yang insyaallah nggak mau saya ulang lagi. Badan remuk! :)).

Nggak hanya Bromo, dari tempat saya berdiri, saya juga bisa melihat bukit sabana serta bukit teletubbies. Eh, apakah keduanya adalah sinonim?

Tapi yang jelas, B-29 bukan tempat tertinggi yang bisa digunakan untuk melihat Bromo. Masih ada B-30. B-29 sendiri baru populer kira-kira lima tahun lalu. Sebelumnya, Suku Tengger di sini banyak bertani. Namun, ketika wisatawan menemukan tempat ini, pelan-pelan mata pencaharian mereka berubah. Kadang bertani kala sepi, tapi juga ngojek dan menyewakan kamar seharga 40.000 rupiah permalamnya tanpa makan.




Yang paling saya suka di sini adalah kedamaian. Bukan bermaksud lebay. Tapi memang saat saya ke sana rasanya damai sekali. Mungkin karena sepi jadi syahdu banget rasanya. Bebas juga mau foto-foto model apa saja. Nggak pernah kebayang kalau ke sini saat long weekend, pasti banyak sampah. Mau motret pun juga bakalan antre. Ckck.



Ada satu sisi yang membuat saya betah. Yaitu sisi semak-semak. Di sini pemandangannya ciamik juga. Beberapa bekas ban sepeda terukir, menandakan jika kawasan pasir ini masih bisa dilewati motor. 


Tak jauh dari semak belukar, pemandangan lain yang disuguhkan adalah puncak Semeru. Cantik juga dilihat dari tempat saya berada. Puncak yang kini makin digandrungi sejak ada film 5 cm. As we know, masyarakat kita banyak latah. Ada film tentang gunung, jadi ikut ramai-ramai ke gunung.

Termasuk saya juga, sih.


Dulu saya pikir, Lumajang bukanlah tempat asyik untuk dijelajah. Tapi ternyata saya salah. Keunikan Suku Tengger yang hampir selalu pakai sarung tenun mahal membuat saya meralat, ternyata Lumajang oke juga dikunjungi. Apalagi, jika ditempuh dari Surabaya, Lumajang tidak begitu jauh. Seolah hanya sepelemparan uang logam saja. Biaya yang dihabiskan juga nggak mahal kalau ingin ke B-29. Total untuk ke B-29 dari Surabaya hanya 112.000 rupiah saja.

Jadi, tertarik juga nggak ke puncak B-29 untuk menyapa Bromo dari kejauhan? Selamat berlibur hemat ya!

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…