Skip to main content

Mengenal Pantai Bingin dari Dekat

 

Tersebutlah satu pantai bernama Pantai Bingin. Letaknya tak jauh dari Pura Uluwatu, daerah Pecatu, Bali Selatan.

Awalnya, niat saya adalah ke Pantai Padang-padang dan Pandawa selepas dari Pura. Tapi semua berubah ketika saya melihat papan petunjuk yang mengarah ke Pantai Bingin. Dari namanya, sangat asing. 

Tapi saya salah.




Letak Pantai Bingin ini sejajar dengan Pantai Padang-padang, Pantai Pandawa, dan satu pantai lagi yang saya lupa namanya. Ini bisa dilihat dari garis pantai dan tipikal tebing yang sama. Sama-sama di balik bukit.

Saya tertarik dengan Pantai Bingin karena namanya asing. Dan lagi, ternyata pantai ini tidak banyak diminati oleh warga lokal. Alasannya, bukan pantai beralas pasir dan hanya penuh batu karang terjal.


Letak Pantai Bingin bisa dikatakan tersembunyi dan sulit dijangkau. Butuh perjuangan ekstra untuk benar-benar bisa mencapainya. 

Jalanan yang dilalui menjadi tidak biasa karena hanya jalanan batu dan setapak.

Nggak cuma setapak, jalanan menuju pantai harus melewati bagian dalam rumah penduduk dan perkebunan. Nggak ada papan penunjuk. Kalau memang niat, harus sering-sering bertanya.

Dua orang turis yang datang di waktu yang sama dengan saya bolak-balik bertanya, "Sorry, where's the beach?"

Sementara saya, "Bu, jalanan pantai kemana ya?"

Sama saja. Ribet dan cukup melelahkan. Naik turun tangga bebatuan cukup terjal.

Tapi, kabarnya itu seni. Gitu ya.



Selepas capek berjalan, saya disuguhi pemandangan yang nggak biasa. Cuaca siang yang terik semakin menambah daya tarik Pantai Bingin. 

Langitnya biru, awannya menggumpal empuk. Santai sekali. 

Pantai Bingin ramai dengan bule bermain surfing. Tapi nggak seramai Pantai Padang-padang. Di sini lebih tenang.

Saya menjadi satu-satunya pribumi berjilbab yang datang siang itu. Dan melakukan hal nggak penting.

Cuma motret. Gitu aja.



Bisa dipastikan, Pantai Bingin merupakan pantai favorit bagi bule untuk surfing. Sejauh mata memandang, selain bersantai, semua bule cuma surfing. 

Nggak ada yang kayak saya, datang dengan tujuan nggak jelas :)).

Memang ombaknya bagus. Pantai Selatan tapi nggak segalak di deretan pantai di Gunung Kidul atau Malang Selatan. Malah mirip Pantai Seger di Lombok. Ombaknya bersahabat. 

Wajar, bule suka.



Dan, nggak cuma satu-dua keluarga yang mengajak anak-anak untuk belajar surfing. Tapi banyak! Mereka rela mengajak anak kecilnya untuk belajar surfing. 

Kecelah. 

Sementara anak kecil warga lokal bermain pasir di tepi pantai, yang ini bermain ombak.


 Sayang, lensa kamera nggak memadai. Manalah bisa lensa kit motret surfer jauh di tengah pantai. Yang ada malah semacam keroyokan semut :)).

Tapi yang jelas, Pantai Bingin ini rekomen sekali buat menyepi. Asal mau capek jalan kaki, bisa kok jadi tempat tujuan liburan gratis di Bali.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…