Skip to main content

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.

Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.

1. Mie Belitung Atep

Mie Atep

Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pesan Nasi Sum-Sum harus merelakan porsinya berkurang untuk dicicip. Sudah hukum alam begitu, kan ya, kalau makan bareng?:)).

Rasa Mie Atep ini sebenarnya nendang semena-mena. Mienya lentur, ada potongan tahu, taoge, kentang, mentimun, udang, dan melinjo. Ditambah kuah yang segar, sedikit asam dan sangat manis. Mirip kuah pempek. Sayang, bagi saya yang suka pedas, sedikit kecewa karena sambalnya pun rasa manis. Mau dikasih berapa sendok pun tetap aja manis. Sedangkan Nasi Sum-Sum rasanya biasa saja, masih lebih asyik Nasi Kaldu di Alun-Alun Magelang.

Kalau ke Belitung nggak lengkap kalau nggak mencicipi Es Jeruk Kunci. Rasanya segeeer! Serius. Rasanya mau lagi, mau lagi. Apalagi diminum siang hari. Alamak!

Harga perporsi Mie Atep dan Nasi Sum-Sum Rp 13.000 sedangkan Es Jeruk Kunci Rp 5.000. Kuliner enak yang beneran harus dicoba.

Nasi Sum-sum 

2. Rujak Tahu
Makanan khas Belitung lainnya adalah Rujak Tahu. Saya kira, nama rujak adalah menu makanan yang dicampur beragam buah ditambah tahu banyak-banyak. Ternyata, Rujak Tahu ini beda. Isinya, potongan tahu cukup banyak, taoge, mentimun, dan melinjo plus kuah mirip pempek. Nggak pedas juga. Kenyang? Yaa enggaklaaah! Emang enak makan tahu doang? Bisa ajaib kenyang gitu? Nooo.

Meski lumayan enak, Rujak Tahu kurang nendang. Porsinya terlalu sedikit. Harga perporsinya Rp 12.000. Masih lebih nendang Es Jeruk Kunci, Sodaraaa!:))

Rujak Tahu 

3. Berego
"Iwan, makanan khas Belitung apa, sih? Cari dimana?" begitu Whastapp saya kirim ke Iwan, teman asli Belitung yang kerja di Jakarta. 

"Kalau mau lengkap, coba cari di Restoran Timpo Duluk. Lengkap banget makanannya."

Saya nelan ludah. Restoran.

"Guys, yakin mau makan malam pakai baju bau apek sedikit basah dan banyak pasir di restoran?" Saya bertanya ke teman.

"Hajaaar."

Pesanan kami
 
Well, Restoran Timpo Duluk adalah restoran dengan dekorasi yang asyik gila. Saya suka. Kami senang. Interiornya catchy abis. Didesain dengan segala macam perabotan tempo dulu yang memang keren. Misal saja, tempat isi air berbahan aluminuim yang digunakan sebagai tempat tisu. Asyiklah!

Timpo Duluk

Tempat tisu 
 
Kami mampir ke resto dengan masih berbaju apek, mata separuh teler, perut lapar parah. Begitu membuka menu, yang terpapar benar-benar adalah makanan khas Belitung. Berego salah satunya. Makanan ini terbuat dari tepung beras putih berbentuk seperti mie pipih agak besar yang dililitkan. Adonan Berego ditambahkan dengan ikan yang dihaluskan. Berego biasa disajikan dengan kuah santan. Perporsinya dipatok Rp 12.000.

Rasanya? Nah, karena saya kurang suka makanan bersantan, jadi bagi saya, rasanya biasa aja. Kenyal-kenyal kayak Cimol!:)))

Berego
 
4. Nasi Gemok
Masih di Timpo Duluk, Nasi Gemok bisa menjadi pilihan untuk mencicip kuliner khas Belitung. Nasi Gemok adalah nasi empuk yang disantap dengan ikan bulus kecil yang digoreng renyah dengan kuah santan gurih bercampur belimbing. Biasanya, nasi ini dimakan saat sarapan. Bagi saya, rasanya biasa juga. Ya, gara-garanya cuma satu, pakai santan. Perporsinya dipatok Rp 13.000.

Nasi Gemok 

5. Tahu Bungkus Simpor
Kalau di Jawa, makanan ini disebut Brengkesan Tahu atau Pepes Tahu. Makanan olahan tahu yang dicampur dengan bumbu lalu dikukus. Ya, mirip begitulah. Sejenis tahu Belitung dibumbu rempah dibungkus daun simpor (tanaman endemik Belitung yang dominan digunakan sebagai pembungkus makanan tapi juga berkhasiat dalam menyembuhkan luka. Beda lagi kalau luka di hati ya) lalu dibakar. Rasanya... jauh lebih enak dibandingkan makanan berkuah santan. Harganya Rp 5.000 saja. Isinya hanya sebiji tahu:)).

Tahu bungkus simpor
 
6. Gangan Ikan
Percaya saya deh, hampir semua makanan di Belitung berkuah santan. Apalagi makanan paling populer sealam raya seperti Gangan Ikan. Gangan Ikan ini biasanya disajikan dengan kuah santan bercampur irisan nanas dan bumbu rempah. Untuk penyajiannya, Gangan disuguhkan rapi di buah kelapa muda. Harga perporsinya Rp 38.000 untuk dua orang. Kalau kata teman saya, rasanya gurih. Kalau saya, sih, lupa rasanya:D.

Gangan ikan 
 
7. Sayur Asam Belitung
Antimainstream. Makanan sejuta umat ternyata ada di Belitung juga. Sayur Asam Belitung adalah menu makanan yang saya pesan. Rasanya segeeeer banget. Serius, pecah! Asam dan manisnya pas, ditambah agak pedas gitu. Isinya kacang panjang, kubis, dan beberapa sayuran yang saya lupa namanya. Sayur Asam ditambah gorengan tahu tempe sudah nikmat dunia beneran. Harganya sekitar Rp 15.000 kayaknya, lupa.

Sayur Asam Belitong 

8. Suto Mak Jannah
"Iwaaaan, Suto Mak Jannah dimana, sih? Katanya enak gitu. Aku cari di dekat Gedung Nasional kok enggak ada?" saya sudah stres putar-putar Gedung Nasional dekat lapangan tenis lebih dari tiga kali cuma buat makan Suto Mak Jannah yang katanya tenar, lezat, dan nagih. 

"Ini warungnya dimana, Tik? Emang wajib makan di situ?" teman yang nyopir mulai kesel.

Errr. Saya juga enggak ngerti. Naik turun buat nanya juga enggak ada yang tahu. Yasyudlah, kami lewati Suto Mak Jannah yang katanya endes ini. 

Jadi, Suto Mak Jannah itu warung kecil yang jualan Suto khas Belitung. Rasanya katanya enak banget. Kuahnya nendang kemana-mana. Bahannya dari air rebusan iga sapi, ditambah santan, irisan lontong, bihun, kentang, dan melinjo. Nggak tahu juga harganya berapa. Nggak mampir, sih.

Tapi, menurut pedagang gorengan setempat, Suto Belitong biasa dijual pagi sampai siang hari saja. Lepas jam dua siang sudah bubaran. Pantesan... saya nyari jam lima sore.

9. Klepon dan gorengan
Jadi, di pasar Tanjung Pandan itu ada banyak sekali pedagang (iyalah namanya juga pasar). Salah satunya pedagang gorengan. Pedagang gorengan ini laris banget. Makanan yang paling menarik minat saya adalah Klepon yang gedenya nggak wajar. Harganya Rp 1000 saja. Tapi muncratnya kemana-mana. Ternyata enak! Lebih enak lagi ternyata Kleponnya bisa dimakan sampai besok pagi di pesawat. Hemaaat, Beeeb.

Klepon jumbo banyak muncrat
 
10. Kopi-O
Tahu, kan, kalau Belitung adalah kota penghasil timah? Tahu juga kan, pekerja timah biasanya minum apa? KOPI! 

Serius, nggak lengkao rasanya ke Belitung tanpa nyicipin kopinya. Meski kopi mereka diimpor dari Lampung, tapi racikannya enak. Beneran. Saya yang tobat ngopi saja bisa sampai habis lima gelas kopi selama di sana. Tiap hari saja ngopi. Saking enggak tahannya sama enaknya. Apalagi, suasana ngopi di Belitung syahdu sekali. Lirik, deh, Gang 60 di Tanjung Pandan. Yang nongkrong Bapak-bapak bermata sipit nan ramaaah banget. Mereka setiap hari nongkrong di sini. Katanya, warung kopi adalah tempat pertama berita datang sebelum menyebar ke masyarakat luas.

Gang 60

Atau tengok kota 1001 Warung Kopi di Manggar, Belitung Timur. Tiap jengkalnya pasti ada saja warung kopi. Tiap warung pula buanyak pengunjungnya. Saya sampai heran, mereka kerjanya apa ya, kira-kira? Tapi, semua kopi di Belitung itu enak! Mereka biasa menggiling dan meraciknya sendiri lalu ditambahkan krimer. 

Warung Kopi Atet, Manggar, Belitung Timur 

Kalau mau beda rasa, kopi cita rasa pekerja timah ada di Museum Kata Andrea Hirata. Karena dimasak menggunakan tungku, rasanya agak sepat. Tapi tetap enak. Harga perporsi kopi sama, Rp 5.000.

Kopi enak
 
Sebenarnya masih banyak makanan khas Belitung, tapi kami kurang waktu untuk mencicipinya.
Jadi, tertarik nggak buat icip-icip masakan Belitung?

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…