Skip to main content

Masuk Jawa Pos Lagi! :))

"Kamu kalau cari suami kayaknya pingin yang punya hobi sama, deh," beberapa teman bertutur pada saya, suatu waktu.

Saya ngakak. "Kok bisa?"

"Iya, kamu kan suka jalan. Nggak kebayang kalau kamu dapat suami yang sukanya diam di rumah. Pasti kamu nggak betah."

HAHAHA. Sebenarnya itu terlalu jauh. Kejauhanlah ngomongin suami. Di kehidupan saya saat ini, sejatinya memang begitu. Gampang bosan kalau hidup di satu tempat saja.

Makanya, saya selalu punya rencana agar bisa pergi ke satu tempat hanya untuk mengusir bosan. Makanya juga, saya harus membagi tabungan untuk meladeni hal itu.

Beberapa hari terakhir saya menghitung bulan hingga Desember. Cuti tahunan saya sudah habis. Saya bingung, selama empat bulan ke depan mau ke mana *seriusamatpokoknyakalaumikirjalanjalan:))*.

Nah, biasanya, kalau sedang bermuram durja demikian, saya punya obat tersendiri. Yaitu menulis. Hitung-hitung sebagi terapi.

Rabu pagi, saya ngebut menulis cerita tentang Amed, Bali. Satu tempat yang memberikan saya kesan mendalam. Tentang pelarian saya dari keseharian. Niatnya, saya kirimkan ke media cetak tetangga. Masuk untung. Nggak masuk ya sudahlah.

Lucunya, Jumat pagi kemarin, saat koran tiba di rumah, saya menemukan tulisan tersebut di media cetak. Saya ngakak. Senanglah, tentu saja. Ini sebagai obat penyembuh hati yang luka *pret:))*.

Ini tulisan kedua saya yang dimuat di koran yang sama. Yang pertama tentang solo backpacking ke Dieng.

Bedanya, dulu rubrik Traveling hanya dikhususkan bagi perempuan dengan mengirimkan cerita ke her_journey@jawapos.co.id. Kalau sekarang, men and woman allowed dengan mengirimkan naskah dan foto ke traveling@jawapos.co.id. Hadiahnya sama, suvenir.

Mayan ya, yang penting bisa menyembuhkan hati yang luka:)).

Jawa Pos For Her edisi 27 November 2014

Jawa Pos For Her edisi 11 September 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…