Saturday, September 12, 2015

Nge-Gojek Asyik ke Batu Belig

Selat Bali penceng di pagi hari :))

Ini adalah perjalanan kali kesekian saya ke Bali. Kali kesekian pula seorang diri alias nggembel. Tapi Bali bukan tujuan utama. Sebab, saya hanya membutuhkan Bali untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, NTT, keesokan harinya. Tidak ada flight langsung dari Surabaya maupun Jakarta. Semua penerbangan menuju Labuan Bajo hanya melalui Bali.

Balik lagi ke Bali. Trip menuju Bali sengaja saya pilih melalui jalur darat. Ngirit. Yakni menggunakan kereta api Mutiara Malam tujuan Surabaya-Denpasar seharga 190.000 rupiah. Tiket itu sudah termasuk biaya bis dari Stasiun Banyuwangi Baru sampai Ubung, Denpasar. Plus tiket kapal penyebrangan Ketapang-Gilimanuk.

Dari Gilimanuk, saya diangkut menggunakan elf Damri yang nyaman tiada tara dan diturunkan di Ubung. Nah, dari sini perjalanan dimulai. Karena penginapan yang saya pesan ada di pusat Legian, tepatnya di sebelah Monumen Bom Bali, maka rute angkotnya begini:
  
 1. Cari angkot menuju Terminal Tegal: Rp 7.000 (ini harga didapat setelah sopir gondok berat gegara saya tawar. Padahal ini harga normal sesuai petunjuk petgas Dishub setempat).

2. Dari Terminal Tegal, ganti angkot menuju Legian: Rp 6.000 (sopirnya baik hati banget. Pakai acara curhat tentang keluarganya di Banyuwangi juga. Teteuplah Bali rasa Jawa :D).

Hanya saja, karena jalanan Legian satu arah dan angkot nggak bisa masuk, jadilah saya diturunkan di Jalan Kuta lalu jalan kaki. Nggak jauh kok. Sepanjang jalan banyak pertokoan. Jadi nggak berasa capek. Apalagi hostel yang saya pesan nggak begitu jauh. 

Saya sampai hostel (CX Hostel Ground Zero Rp 99.000 permalam bunk bed isi empat orang) tepat pukul 13.00 WITA. Setelah mendapatkan kamar dan beberes, saya memilih untuk mencari rental motor. Niatnya mau rental setengah hari saja atau paling nggak seharilah. Meskipun fungsinya nggak sampai setengah hari juga.
  
CX Hostel. Hostel mewah bagi saya:))

Tapi saya apes. Nggak ada rental motor yang mau melepas motor untuk disewa barang sehari. Apalagi setengah hari. Jalan sampai pantai, lobi sana-sini, nggak nemu juga. Tetiba saya punya ide cemerlang gegara selama jalan kaki bertemu Gojek seliweran. Yasyudlah. Saya download aplikasinya dan mulai menggunakan kredit vouchernya. WUAH!

Tujuan pertama saya ngeGojek adalah ke Perum Damri. Remeh sekaliii. Hanya untuk mengambil botol minuman yang tertinggal di mobil. Mumpung transportasi gratis, kan, yaa?:)). Mas Putu aka Sopir Gojek ini ramaaah sekali (atau karena saya banyak nanya ya? jadinya ditanggapin:p).
  
Nyengir geje pakai Gojek:p

Dari Perum Damri, saya ngeGojek lagi dong buat ke Pantai (bukan sama Mas Putu lagi gegara sinyal dia angot-angotan kurang cepat approved pesanan saya). Saya tanya ke Mas—yang saya lupa namanya tapi tetap Bali rasa Jawa:))— pantai apa yang ada di Canggu, yang sunsetnya cantik? Dijawablah sama Mamang Gojek, “Mbak, Canggu itu panjang. Mbak mau pantai yang mana? Lagian kalau, Mbak mau jalan kaki dari Kuta juga pasti sampai Canggu.”

Hahaha. Makasih banyak!

Batu Belig saya pilih atas saran Mas Gojek. Katanya ramai dan menyenangkan. Saya, sih, oke-oke saja. Daripada bengong saja, kan, ya?
  
Batu Belig

Eeeh, beneran loh, Batu Belig ini ramai syekali. Meski nggak seramai Kuta, Legian, dan Jimbaranlah ya. Nggak cuma ramai sama manusia. Tapi juga anjingnya keliaran semena-mena. Saya nggak suka tempat ini. Mau main air takut anjing. Mau duduk-duduk jauh dari air anjingnya keliaran -______-”.

Sebenarnya, suasana sunsetnya ini ngena banget. Tapi lagi-lagi gegara anjing menggonggong di sekeliling saya, jadi ilfeel parah. Bingung mau bawa diri. Mau balik ke hostel nggak mungkin juga. Kepalang tanggung.

Anjingnya bobo-bobo cantik 

Sambil berdiri mematung, sesekali jalan merepet-merepet, saya menunggu sunset. Saya sempat bertanya pada satpam yang berjaga di Hotel mewah view pantai. Katanya, “Mbak, kalau ke arah Kuta sana, anjingnya malah lebih banyak lagi. Anjing liar semua. Di sini anjingnya nggak seberapa banyak kok.”

Ngok! ya syudahlah ya. Toh, matahari juga sebentar lagi tenggelam.
  
Suka sama birunya... 

Sunset Batu Belig cantik. Ditambah suasana persiapan La Plancha atau pesta tepi pantai di sepanjang Kuta Selatan menambah riuh malam itu. Pingin nyobain masuk sambil dengerin penampilan Jazz yang biasa disajikan. Sepertinya asyik. Sayang, saya kepalang ilfeel gegara anjing. Kapan-kapan, deh, insyaallah mau coba masuk. Penasaran :D.

Tapi entahlah ya, semakin sering ngeluyur, saya semakin suka sama sunset dan pantai. Cantik!


Sedikit lagi senja

Sunset time
  
La Plancha

Saya pulang diantar Mas Putu (lagi). Asyiknya, sama Mas Putu—yang menjadikan Gojek sebagai pemasukan tambahan ini—saya diajak mblusuk lewat jalan-jalan yang nggak biasa. Jalanan tepian pantai yang suara musiknya terdengar kemana-mana. Iiih! Kan, makin mupeng. Bukan apa-apa, ini juga gegara jam-jamnya macet kalau lewat jalan utama.

Mas Putu ini juga semacam guide. Dia bilang, “Saya orang lokal Bali, Mbak. Mau apa juga masuk-masuk tempat wisata? Paling ya begitu saja. Tapi saya hapal daerah Bali.”

Baiklah.

Sesampai di depan hostel, Mas Putu berpesan, “Selamat berlibur di Bali, ya, Mbak. Terima kasih sudah pakai Gojek untuk menambah penghasilan saya.”

Saya tersenyum girang. “Besok pagi, Gojek bisa antar ke bandara juga, Mas?”

“Gojek bisa kapan saja, Mbak.”

Huah! Saya bahagia.

Tapi besok pagi buta, saya pesan gojek dua kali nggak ada yang datang. Entah karena terlalu pagi atau memang enggak mau masuk ke bandara. Tapi yang jelas, Gojek menyelamatkan saya selama beberapa jam di Bali. Karena sewa motor sudah terlalu mainstream:)).

Seragamnya Gojek!
Post a Comment