Skip to main content

Dilarang Baper di Pantai Padang-Padang!

Segeeer!
  
Everyday is holiday in Bali.
Kiasan tersebut saya temukan di Pabrik Kata-kata Joger dan bisa dibenarkan saat saya bertandang ke Bali di hari biasa. Senin agak siang, saya berkendara ke daerah Uluwatu. Sampai di Pecatu, sebuah papan penunjuk arah mengisyaratkan motor dan pengemudinya untuk menyusuri Pantai Padang-Padang, salah satu tempat eksotis di frame Eat, Pray, Love.

Ya kali, eksotis kalau bawa pasangan. Lah, kalau sendirian?
Dilarang baper! :))  

Sebenarnya, Pantai Padang-Padang atau Labuan Sait ini terletak satu garis lurus dengan Kuta, Legian, dan Tanah Lot. Tapi berbeda. Padang-Padang ternyata punya kecantikan tersendiri. Serius.

 
Suasana di Labuan Sait
  
Kali pertama saya parkir motor, Bapak penjaga menyapa. Beliau bertanya seolah nggak yakin kenapa saya baru kali pertama datang ke sana. Saya sendiri juga nggak ngerti kenapa saya baru kala itu singgah di situ.

Percayalah, di Padang-Padang, di Senin yang menyengat hangat, parkiran motor padat. Betul-betul suasana liburan.

Dari parkir motor, pengunjung harus menyusuri goa karena Padang-Padang letaknya di bawah. Lumayan bikin ngos-ngosan meski nggak separah Pantai Bingin

 
Dari tangga serupa goa 

Lalu, ketika sampai di bibir tangga, hamparan manusia berbikini menyambut. Asli seketika kesan saya menuju ke Kenjeran atau Dalegan saking sesaknya. Hahaha. Cuma bedanya, pasir di Padang-Padang putih bersih. Langitnya biru dengan awan-awan menggumpal. Airnya jernih menghijau. Ombaknya beriak pelan. Anginnya semilir. Panasnya ampun DJ.
  
 
Byuuuh ramai!
  
Saking banyaknya turis domestik atau pun wisman, saya sampai nggak ngerti mau ngapain. Berteduh? Nggak mungkin. Uang saya nggak banyak, apalagi hanya untuk sewa payung tenda. Duduk santai? Bisa, sih, sambil bersandar di bebatuan. Tapi panasnya nggak tahan. Gerah. Belanja? Nggak mungkin. Tas udah kepenuhan. Surfing? Makin nggak mungkin.

Trus... ngapain dong? 

Sotrek cepet-cepet lalu balik kanan. Udah gitu doang. Boro-boro menikmati air laut semacam Julia Roberts. Apalagi romantis-romantisan sama pasangan. Nggak kepikiran! :)))

 
Bisa belajar surfing
 
Sebenarnya, beneran bagus Pantai Padang-Padang ini. Bisa buat santai sambil membaca, melukis, dengar musik, belajar motret, kalau sepi. Apalagi buat wisata keluarga. Sebab ombaknya lumayan tenang, cocok buat belajar bermain surfing. Banyak juga bule yang mengajari anaknya buat surfing di sini. Tapi, karena ramai, panas, dan gerah, jadi enggak bagus lagi. Gini ngakunya suka pantai:)).

 
Tanning juga bisa, Jay!
 
Oh ya! Letak Padang-Padang ini dekat sekali dengan Pantai Bingin dan Uluwatu. Searah juga dengan Dreamland, Pandawa, dan GWK. Jadi kalau mampir ke daerah Pecatu, bisa langsung dibabat semuanya.  

Memang, sejak Eat, Pray, Love ada, Padang-Padang jadi ramai. Ekonomi warga lokal pun mengeliat. Tapi kini sepinya Padang-Padang hanya tinggal kenangan. Sudah jarang pantai di kawasan penuh tebing itu sepi. Bikin yang ingin nyari ketenangan hidup gerah. Semacam saya begini.

BTW, masuk Padang-Padang gratis!

Dan dilarang baper!

 Harusnya bisa tenang di sini

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…