Saturday, October 24, 2015

Leyeh-leyeh di Pulau Bidadari Flores

Melayang
  
Liburan identik dengan melakukan sesuatu yang nggak biasa. Tapi, liburan juga bisa cuma duduk santai sambil cerita ngalor ngidul. Seperti yang saya lakukan kala menginjakkan kaki di Pulau Bidadari. Memang, namanya sama dengan Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu. Tapi, Pulau Bidadari yang saya maksud adalah bagian dari gugusan kepulauan di Flores. 

Dulu, nama Pulau itu bukanlah Bidadari melainkan Pulau Bidara. Sebab, banyak pohon bidara tumbuh di pulau tersebut. Namun, karena dianggap elok dan memesona, nama Bidara pun diubah menjadi Bidadari. Penduduk lokal lebih mengenal Bidara. Kontras, mereka mengenalkan ke pengunjung dengan sebutan Bidadari. 

Pulau Bidadari 
  
Pulau Bidadari terdiri dari dua bagian. Satu bagian dibiarkan apa adanya. Ranting pepohonan berserak dimana-mana menyimpulkan kesan kurang bagus meski air laut berlapis warnanya. Di bagian ini, siapa saja bisa mampir hanya sekadar duduk, berenang, berjemur, bersantai, bermain air, apa saja. Terbuka untuk umum.

Barrier Bidadari 

Sedangkan bagian lain adalah bagian yang lebih terawat dan tidak sembarang orang boleh mampir. Bagian tersebut khusus bagi penyewa penginapan mewah yang dikelola asing. Ada barrier nyata antara bagian satu dan dua. Yaitu bebatuan besar menjulang ditambah dengan ranting pohon yang disusun agar siapapun tidak bisa melewatinya. Berbeda dengan bagian yang terbuka bagi umum, bagian ini lebih bersih dan tertata rapi. Kapal yang berisi penumpang bukan penyewa penginapan, dilarang keras lewat, apalagi bersandar.

Play safe, Nak!:))
  
Saya jelas termasuk golongan yang hanya bisa duduk di bagian untuk umum. Apalah saya ini pakai acara sewa penginapan mewah pinggir pantai. Belum mampu :)). Di bawah rindangnya pepohonan kering menyisakan sedikit dedaunan, saya dan teman duduk bersama Pak Ahmad, bapaknya Harman. Kami bercerita banyak hal. Mulai dari kebiasaan Suku Bajo yang terkenal seantero Indonesia sebagai suku laut sampai cita-cita dan siapa kami. 

Enjoy this scenery 
 
Pak Ahmad adalah nelayan ulung, dulunya. Namun, sejak tahu mengantar wisatawan mampu meraup pundi lebih banyak, aktivitasnya sebagai pencari ikan ditinggalkan pelan-pelan. Kecuali, jika sedang tidak ada tamu, beliau baru berangkat melaut. Upah yang dia dapatkan dalam sehari mengantar tamu bervariasi. Tergantung mengantar tamu yang langsung datang ke kapalnya atau via pengelola jasa travel. Untuk sekali mengantarkan turis ke satu pulau, Pak Ahmad dengan kapal kecilnya mematok harga 500 ribu rupiah. Beda lagi jika turis menyewa via pengelola travel, harga 500 ribu rupiah akan dibagi berdua, 300 ribu untuk Pak Ahmad, sisanya untuk travel. 

Pak Ahmad dan perahunya 
 
Di bawah rindangnya ranting pohon bidara, obrolan dengan Pak Ahmad cukup melenakan. Meski berkulit gelap, orang Flores itu asli ramah. Kasih senyum, deh, mereka pasti senyum balik dan asyik diajak ngobrol. Ini yang saya suka dari jalan-jalan, kenal dengan penduduk lokal. Nggak melulu berkecimpung dengan orang di sekitar Surabaya saja. Bosan.

Semiberantakan tapi meneduhkan
 
Pulau Bidadari siang menjelang sore itu sejatinya ramai. Pemandangan bawah airnya dikenal memikat. Tapi bersantai di tepian pantai ternyata juga sama menggiurkan. Asyik gitu.

Catch me if you can!:))
Post a Comment