Saturday, October 3, 2015

Wedding Purpose?

Film favorit: UP! (source: deviantart.net)


Bagi sebagian besar makhluk penyuka buku, bazaar buku adalah sesuatu yang paling ditunggu. Murah dan banyak pilihan. Meski, lebih sering buku yang dijajar adalah buku lawas yang dicetak ulang dalam sampul baru. Tidak mengapa. Toh, buku yang terpenting adalah isinya. Mengajak berkelana pembacanya. Jauh di bawah alam sadar. Membaurkan dengan realita. 

Tara, wanita berusia dua puluh delapan tahun, siang itu hadir di pesta buku. Dia sudah mengidamkan momen tersebut sejak mendapatkan leaflet satu bulan kemarin. Dia butuh banyak buku di saat suntuk. Saat harus bertemu banyak klien dengan karakter ajaib dan banyak mau. Sejujurnya, dia sudah jengah dengan karir yang sudah ditapak sejak enam tahun lalu. Karir yang melambungkan namanya sebagai public relations head di perusahaan multinasional.

Berkeliaran di tengah tumpukan buku dianggapnya sebagai terapi sekaligus wisata kebatinan. Meski, dia dan dua temannya lebih sering mengolok judul buku yang menggelikan. Misalnya, buku yang berjudul, Menikah untuk Bahagia.

“Nggak nikah juga udah bahagia,” dia tertawa diiringi tawa Gadis dan Jaka, teman dekatnya. 

Nggak berlebihan. Realistis saja. Tara sudah mapan. Dia bisa bebas membeli apa saja. Berkeliaran semaunya. Traveling, belanja, bertemu banyak orang baru, sudah biasa. Toh, bahagia bisa didapat dari mana saja. Tanpa menikah sekalipun. 

Apatis, kadang. 

Bukan hal baru bagi wanita seusianya mencemooh buku-buku bertema pernikahan. Dia tidak membutuhkan teori yang dianggap berlebihan. Hanya butuh praktek. Memangnya betul, menikah menjamin kehidupan sesudahnya bahagia? Bagaimana dengan persiapan yang super-ruwet? Bagaimana jika dia bercerai? Bagaimana jika dia menjadi melarat sesaat setelah menikah? Dan bagaimana-bagaimana lain yang semestinya tidak perlu ditakutkan.

Teorinya, sih, begitu.

Tapi kenyataannya, Tara masih sering bertanya, apa tujuan menikah?

Rak-rak buku ditata rapi sesuai dengan kriteria. Satu persatu buku dibaca sinopsisnya. Berkali-kali wanita berambut sebahu itu tersenyum. Sesekali alisnya tertaut. Langkahnya bergeser ke rak lain dan langsung terhenti ketika sebuah balon menyentuh kakinya. Pandangannya beralih seketika. Refleks. Seorang gadis mungil berambut ikal tersenyum lebar. Matanya membulat. Giginya putih bersih dan teratur. Usianya sekira empat tahun.

“Hei, ini balon siapa?” Tara berjongkok, mengambil balon, bertanya pada gadis kecil yang berdiri tak jauh darinya. Senyumnya mengembang demi melihat mata bulat si gadis imut. Nalurinya sebagai calon ibu tumbuh. Dia tidak pernah membenci anak-anak, meski pertanyaan tujuan menikah sering menggema di lorong kecil hatinya. Dia menyukai anak-anak, sama seperti dia menyukai buku. 

Gadis itu tertawa. “Balonku, Tante,” sahutnya riang sambil mengacungkan tangan. Dua jepit rambut berbentuk pita naik turun, mengikuti irama anggukan kepala si gadis.

Tara, wanita yang masih mempertanyakan tujuan menikah itu masih tersenyum. Tatapannya menerawang menembus manik mata gadis di depannya. 

Jika menikah, aku bisa membangun keluarga baru. Berkompromi dengan watak orang yang bisa jadi sama sekali berbeda denganku. Berkomitmen membesarkan anak dengan cara yang berbeda seperti orang tua mengasuhku. Mendapatkan kejutan-kejutan kecil dari masing-masing anggota keluarga. Melakukan apapun demi keluarga. Tapi, apakah itu jaminan kebahagiaan setelah menikah? Bagaimana jika bercerai? Bagaimana jika tidak punya anak? Bagaimana jika dapat suami ringan tangan? Bagaimana jika seorang pecandu narkoba? Pembunuh? Atau sadomasokis? Aduh!

Tara mengerjap. Berapa lama dia melamun di depan si gadis? Tiga detik? Bisa jadi lebih lama dari itu.

“Namamu siapa, Sayang?” Tara menyerahkan balon berwarna oranye pada gadis kecil lucu. Satu tangannya mencubit gemas pipi gembul si gadis bermata indah.

“Kejora, Tante! Kata mama, kejora seperti bintang. Indah!” si gadis berceloteh menggemaskan. Tara seketika tertawa renyah. Apakah ini bahagia? Melihat anak dalam pengasuhan tangan sendiri, berceloteh menggemaskan, lalu tumbuh menjadi anak yang hebat, bahkan superior barangkali. Ini arti bahagia?

Bukan kali ini saja Tara bertanya pada diri sendiri. Dia sejujurnya terlalu takut dengan masa depannya. Masa depan yang sebenarnya dijanjikan Allah lebih baik dalam koridor pernikahan. Tapi dia meragu. Ragu pada janji Tuhannya. Apalagi setelah melihat kasus perceraian beberapa temannya. Perceraian yang membuat temannya lebih terlunta. Anaknya terlantar. Ayahnya entah kemana. Sementara ibu—teman Tara—memilih menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya. Bersenang-senang, melupakan gejolak keretakan rumah tangga. Tidak hanya satu contohnya. Tara menghitung, ada sekira empat-lima kasus berbeda berkaitan dengan pernikahan yang goyah lalu karam.

Sementara kedua mata di depannya mengerjap-kerjap. “Terima kasih, Tante. Kejora pulang dulu ya,”
Astaga! Dia baru saja melamun lagi. Tara gemas pada dirinya sendiri. Merutuki betapa bebal dia membiarkan pikirannya berlalu lalang liar.

“Kamu ke sini sama siapa, Kejora?” 

Kejora mengacungkan telunjuknya. “Sama...” matanya mencari-cari sosok yang dia kenal. “Itu, Om, Tante.”

Tara mendongak demi melihat orang yang ditunjuk Kejora. Laki-laki tiga-empat tahun di atasnya, barangkali, berjalan ke arahnya. Senyum lelaki itu tersungging. 

“Terima kasih ya. Kami pamit dulu.”

Sebelum keduanya betul-betul pulang, Tara menyempatkan untuk ber-high five dengan Kejora. Berjanji suatu saat pasti bertemu lagi. 

Sepeninggalnya, Tara tidak sepenuhnya pulih. Tidak langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang kian hari semakin kencang berlarian di kepalanya. Namun, dia tahu, apa yang bisa menjadi jawaban atas segala tanya.

Langkahnya berbalik, mendekati kedua teman yang masih sibuk memilih buku. Tangannya terjulur pada salah satu tumpukan buku berjudul Menikah untuk Bahagia. Buku yang seketika membuat tawa kedua temannya meledak.

“Merasa kurang bahagia hidupnya, Buuu?” ledek Gadis diiringi tawa berderai Jaka.

Barangkali jawaban atas pertanyaan ada di buku itu. Barangkali jawaban atas segala kegundahan hati yang mencapai batas jenuh ada di dalamnya. Barangkali juga Sang Pembolak-balik Rasa mulai menggerakkan hati untuk teguh dan percaya pada janji-Nya.

Barangkali. Hanya Tuhan yang tahu.
Post a Comment