Skip to main content

Wisata Murah Meriah di Alun-alun Batu

  
Kota Apel
 
Liburan singkat ke Kota Wisata Batu, belum lengkap kalau nggak mampir ke landmarknya. Yakni, di Alun-alun Batu.

Sejatinya, Alun-alun ini baru ramai tak lebih dari sepuluh tahun terakhir. Saya, yang menjadikan Batu sebagai rumah kedua karena setiap tahun hampir pasti ke rumah Pakde, rasanya paham dengan perubahan signifikan Batu.

Dulu, Alun-alun Batu nggak seramai sekarang. Yang saya ingat persis, pagi hari selepas menginap di Masjid Agung Batu (karena main kemalaman dan nggak berani numpang tidur di rumah Pakde), Alun-alun masih supersepi. Masih tandus dan tak banyak pedagang kaki lima menjajakan makanan. Jalanan Batu pagi sangat lengang, khas kota kecil pegunungan. Itu tahun 2009. Saya dan kedua teman lain sengaja melihat-lihat Batu pagi hari dan menyempatkan mencicipi bubur ayam Batu. Yang saya pikirkan kala itu, alangkah kasihan para pedagang, sebab sehari-harinya Batu sepi.

Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang Alun-alun Batu disulap menjadi taman yang asyik lengkap dengan Masjid Agung nan supernyaman. Kala siang memang masih tetap panas meski sesekali angin semilir bertiup. Namun, saat malam menjelma, jangan ditanya. Kerlap-kerlip lampion aneka rupa menjadikan Alun-alun tampak lebih glamour. Belum lagi adanya wahana ferris wheel yang bisa dijajal hanya dengan membayar 3.000 rupiah meski antreannya sering nggak logis saking panjangnya. Saya, sih, sudah amat bosan naik. Kecuali kalau memang sengaja membawa atau dititipi krucil-krucil sama anaknya sepupu.

Alun-alun Batu semakin hari semakin semarak. Kala malam tiba, buanyak sekali pedagang bertumpuk di sekeliling alun-alun. Sampai macet! Saya dan keluarga sudah sangat hapal kapan waktu berkunjung ke Batu yang pas. Kalau ramai mending ditunda beberapa hari daripada bete di jalanan.

Tumplek blek
 
Terbaru, saat saya ke sana lebaran kemarin, ada pertunjukan tarian Papua ditampilkan oleh mahasiswa asli Pulau Cendrawasih yang belajar di Malang. Saya suka sekali melihat hal-hal berbau budaya seperti itu. Saking sukanya, pas lagi asyik jepret-jepret, beberapa dari mereka yang penuh coreng moreng tiba-tiba mendekat tepat di depan kamera. Saya langsung lompat menjauh saking kagetnya:)).


Pertunjukan tari yang enggak ngerti judulnya apa :D  

Ada juga pocong menggunakan mukena warna-warni. Kata saudara saya, setiap hari, kain yang digunakan si pocong berubah-ubah, bergantung suasana hati. Tsaelaaah, Cong!:)). Mau eksis bareng pocong, bisa juga! Hanya membayar dengan sukarela, pengunjung bisa berfoto bareng pocong si tukang galau di bawah shower *naon eta:))*.

Cong! 

Nggak hanya lampion aneka rupa, di Alun-alun Batu juga ada air mancur dan beberapa mainan lain yang disewakan. Contohnya saja, mobil-mobilan elektrik. Tita pernah naik mobil-mobilan itu dengan harga yang saya lupa persisnya, tapi pas sepi. Kebayanglah kalau ramai nggak bakalan bisa nyetir. Main tubruk sana-sini. Oh, ya! toilet di sini bagus banget bentuknya, buah apel dan stroberry. Bikin betah lama-lama main gratisan di taman.

 Ferris wheel dan toilet

Masih di sekitar Alun-alun, ada kedai legendaris yang pasti ramai dan penuh sesak. Satu jualan ketan, satunya lagi dagang susu murni. Spesial? Nggak juga. Karena rasanya sama kayak ketan-ketan bubuk yang dijual dimana-mana itu. Apalagi susunya. Ya sama kayak susu yang dijual di minimarket gitu. Tapi ini susu murni langsung dari peternakan. Beda paling kentara hanya terletak pada embel-embel legendaris.  Lagian kedai susu serupa juga banyak tersebar kok.Di dekat ruko agak belakang ada Kedai Susu Ganesha juga. Di dekat Sengkaling juga ada. Di beberapa tempat lain malah berceceran. Jadi nggak perlu harus ngantre demi kata legendaris ya.

Kalau siang sepi

Buka mulai pukul 16.00  

Tapi, sepanjang saya main ke Batu, entah kenapa hampir selalu merasa lebih tenang. Soalnya, sepadat-padatnya Batu, masih jauh lebih padat Surabaya:)). Malah, sebelum ada Jawa Timur Park Grup yang menggurita itu, saat Batu masih sangat sepi itu, saya hampir selalu merasakan main-main di peternakan sapi dan air terjun yang tak jauh dari rumah Pakde. Sekarang, debit airnya mengecil, lahan peternakan juga sudah beralih fungsi entah menjadi apa.

Lalu, gimana? Kalian sudah pernah incip ke Alun-alun Batu belum? Wisata gratis ini bisa kok ditemukan setiap hari di pusat kota Batu. Hati riang, perut kenyang, dompet tenang.


Susu murni dari peternakan

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…