Wednesday, October 7, 2015

Wisata Murah Meriah di Alun-alun Batu

  
Kota Apel
 
Liburan singkat ke Kota Wisata Batu, belum lengkap kalau nggak mampir ke landmarknya. Yakni, di Alun-alun Batu.

Sejatinya, Alun-alun ini baru ramai tak lebih dari sepuluh tahun terakhir. Saya, yang menjadikan Batu sebagai rumah kedua karena setiap tahun hampir pasti ke rumah Pakde, rasanya paham dengan perubahan signifikan Batu.

Dulu, Alun-alun Batu nggak seramai sekarang. Yang saya ingat persis, pagi hari selepas menginap di Masjid Agung Batu (karena main kemalaman dan nggak berani numpang tidur di rumah Pakde), Alun-alun masih supersepi. Masih tandus dan tak banyak pedagang kaki lima menjajakan makanan. Jalanan Batu pagi sangat lengang, khas kota kecil pegunungan. Itu tahun 2009. Saya dan kedua teman lain sengaja melihat-lihat Batu pagi hari dan menyempatkan mencicipi bubur ayam Batu. Yang saya pikirkan kala itu, alangkah kasihan para pedagang, sebab sehari-harinya Batu sepi.

Tapi semuanya berubah sejak negara api menyerang Alun-alun Batu disulap menjadi taman yang asyik lengkap dengan Masjid Agung nan supernyaman. Kala siang memang masih tetap panas meski sesekali angin semilir bertiup. Namun, saat malam menjelma, jangan ditanya. Kerlap-kerlip lampion aneka rupa menjadikan Alun-alun tampak lebih glamour. Belum lagi adanya wahana ferris wheel yang bisa dijajal hanya dengan membayar 3.000 rupiah meski antreannya sering nggak logis saking panjangnya. Saya, sih, sudah amat bosan naik. Kecuali kalau memang sengaja membawa atau dititipi krucil-krucil sama anaknya sepupu.

Alun-alun Batu semakin hari semakin semarak. Kala malam tiba, buanyak sekali pedagang bertumpuk di sekeliling alun-alun. Sampai macet! Saya dan keluarga sudah sangat hapal kapan waktu berkunjung ke Batu yang pas. Kalau ramai mending ditunda beberapa hari daripada bete di jalanan.

Tumplek blek
 
Terbaru, saat saya ke sana lebaran kemarin, ada pertunjukan tarian Papua ditampilkan oleh mahasiswa asli Pulau Cendrawasih yang belajar di Malang. Saya suka sekali melihat hal-hal berbau budaya seperti itu. Saking sukanya, pas lagi asyik jepret-jepret, beberapa dari mereka yang penuh coreng moreng tiba-tiba mendekat tepat di depan kamera. Saya langsung lompat menjauh saking kagetnya:)).


Pertunjukan tari yang enggak ngerti judulnya apa :D  

Ada juga pocong menggunakan mukena warna-warni. Kata saudara saya, setiap hari, kain yang digunakan si pocong berubah-ubah, bergantung suasana hati. Tsaelaaah, Cong!:)). Mau eksis bareng pocong, bisa juga! Hanya membayar dengan sukarela, pengunjung bisa berfoto bareng pocong si tukang galau di bawah shower *naon eta:))*.

Cong! 

Nggak hanya lampion aneka rupa, di Alun-alun Batu juga ada air mancur dan beberapa mainan lain yang disewakan. Contohnya saja, mobil-mobilan elektrik. Tita pernah naik mobil-mobilan itu dengan harga yang saya lupa persisnya, tapi pas sepi. Kebayanglah kalau ramai nggak bakalan bisa nyetir. Main tubruk sana-sini. Oh, ya! toilet di sini bagus banget bentuknya, buah apel dan stroberry. Bikin betah lama-lama main gratisan di taman.

 Ferris wheel dan toilet

Masih di sekitar Alun-alun, ada kedai legendaris yang pasti ramai dan penuh sesak. Satu jualan ketan, satunya lagi dagang susu murni. Spesial? Nggak juga. Karena rasanya sama kayak ketan-ketan bubuk yang dijual dimana-mana itu. Apalagi susunya. Ya sama kayak susu yang dijual di minimarket gitu. Tapi ini susu murni langsung dari peternakan. Beda paling kentara hanya terletak pada embel-embel legendaris.  Lagian kedai susu serupa juga banyak tersebar kok.Di dekat ruko agak belakang ada Kedai Susu Ganesha juga. Di dekat Sengkaling juga ada. Di beberapa tempat lain malah berceceran. Jadi nggak perlu harus ngantre demi kata legendaris ya.

Kalau siang sepi

Buka mulai pukul 16.00  

Tapi, sepanjang saya main ke Batu, entah kenapa hampir selalu merasa lebih tenang. Soalnya, sepadat-padatnya Batu, masih jauh lebih padat Surabaya:)). Malah, sebelum ada Jawa Timur Park Grup yang menggurita itu, saat Batu masih sangat sepi itu, saya hampir selalu merasakan main-main di peternakan sapi dan air terjun yang tak jauh dari rumah Pakde. Sekarang, debit airnya mengecil, lahan peternakan juga sudah beralih fungsi entah menjadi apa.

Lalu, gimana? Kalian sudah pernah incip ke Alun-alun Batu belum? Wisata gratis ini bisa kok ditemukan setiap hari di pusat kota Batu. Hati riang, perut kenyang, dompet tenang.


Susu murni dari peternakan
Post a Comment