Wednesday, November 11, 2015

A Photograph




SABANG! Source: anakbackpacker.wordpress.com

Main atrium salah satu mal di Surabaya Pusat sore itu lengang. Jarum jam baru lepas dari angka empat. Butuh waktu sekira tiga puluh sampai enam puluh menit untuk membuat suasana mal itu ramai, dominasi para pekerja belanja di awal bulan. Tak selengang mal, jauh di dasar hati seorang pengunjung pameran foto, ada dentuman meledak-ledak seiring dengan tatapan yang tak lepas dari frame di depannya.

Seorang wanita tersenyum menikmati bisikan angin yang berhembus. Kain tenun Ende di tangan dibentangkan. Matanya tertutup seolah ingin menunjukkan dia tengah menikmati syahdunya alam Flores di pagi hari. Sementara rambut ekor kudanya dibiarkan terbang mengikuti arah angin. Di belakangnya, tiga danau paling tersohor di dunia terbentang. Diambil dengan action camera, fotografer nyata mempertontonkan percampuran kecantikan alam Indonesia Timur dengan salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Pemandangan Danau Kelimutu dan seorang wanita muda dijepret wide angle, tampak betul sesuai dengan tagline Kementrian Pariwisata, Pesona Indonesia.

Seorang wanita sendiri, di Danau Kelimutu pagi hari, tersenyum menikmati sajian alam yang diberikan begitu saja oleh Tuhan.

Runa menggigit bibir, itu foto dirinya. Tepatnya pada saat overland dari Labuan Bajo sampai Alor selama dua minggu. Tapi siapa pelakunya? Siapa yang telah mengambil potret dirinya sampai bisa mendapatkan juara? Rasa-rasanya Abe nggak mungkin, dia tidak punya sense of photography. Kalau Reka bisa jadi. Tapi dia nggak punya lensa wide buat motret. Lagipula saat itu dia hanya bawa lensa kit. 

Runa menerka-nerka. Hatinya tentu saja melambung menjadi objek foto ciamik yang pemenangnya berhak atas hadiah winner tour ke Sabang. Tapi pikirannya lebih jalang, penasaran dengan subjek di balik kamera. Saking penasarannya, dia mengabaikan foto miliknya yang entah apakah juga meraih predikat juara. Baginya, mencari tahu Sang Fotografer lebih menarik dibandingkan harus menemui panitia untuk memastikan dirinya memenangi lomba atau tidak. 

Kala itu, pukul lima pagi, mentari belum sepenuhnya tampak. Sementara Runa, Abe, dan Reka sudah sampai di puncak pendakian untuk melihat Kelimutu lebih dekat, dua puluh menit sebelumnya. Hari masih pagi, sekeliling danau tiga warna didominasi wisatawan luar negeri yang bersiap dengan tripod tertata sedemikian rupa. Menunggu sunrise tiba. Turis lokal hanya tampak satu-dua saja. Tidak ramai karena bukan hari libur. Tapi bagi ketiga sahabat, Ende, tepatnya di Kelimutu, pagi itu semarak. 

Rona kemerahan saat golden hour menampilkan eksotisme rasa tersendiri. Runa, tentu saja amat cantik. Bukan karena dia sudah berdandan di pagi buta. Justru dengan wajah tanpa balutan make up, khas baru bangun tidur dan bau iler, tampak lebih natural. Rambut ekor kudanya diikat berantakan. Kausnya oranye dengan lengan dilipat. Kacamata hitam dibiarkan menggantung di depan dada. Tangannya sibuk di antara kain tenun yang baru dibeli dan kamera mirrorless warna cokelat, berpose. Senyumnya terkembang amat lebar. “Ka, lagi dong. Buat ava Whatsapp, nih.”

Memang, Runa penasaran setengah mati. Matanya tak berkedip sekalipun mencermati setiap detil warna yang didapat dalam frame di depannya. Sempurna. 


We keep this love in a photograph. We made these memories for ourselves. Where our eyes are never closing. Hearts were never broken. Time's forever frozen still.


Jemari Runa menyusuri bingkai pigura yang membungkus rapi foto pemenang ajang fotografi paling bergengsi yang digelar Kemenpar. Rasa hangat menjalar perlahan dalam hati. Tak dimungkiri, dia terpikat oleh foto diri sendiri dalam bidikan orang lain. Apalagi menjadi juara. Betapa menyenangkan menjadi objek foto candid.

“Agak aneh kalau ada seseorang melihat foto diri sendiri dalam diam dan waktu yang cukup lama,” seorang lelaki berdiri di sisi Runa. Penampilannya rapi. Rambutnya ikal tersisir teratur. Matanya dibingkai kacamata berframe hitam tebal. Pakaiannya kaus bertumpuk kemeja flanel cokelat beradu hitam dan abu. Kancing kemeja sengaja dibiarkan terbuka menyisakan tulisan less money, travel more di kaus putih. Sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana jeans. Jeans biru pudar sepadan dengan sepatu seri Converse lawas warna putih yang sudah bulukan. Santai.  “Kecuali kalau dia terobsesi pada diri sendiri, sih,” lanjutnya datar.

Sialan. Runa tidak sertamerta menengok ke samping. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memastikan si lelaki memang bicara padanya. Kurang sopan betul lelaki tak dikenal yang menyebut dirinya terobsesi pada diri sendiri. Narsis, begitu?

“Ah, tapi aku nggak menyangka kalau fotomu ini bisa juara,” lelaki itu masih bicara. Lebih tepatnya bicara sendiri karena Runa tidak meladeni. Wajar saja Runa begitu. Lelaki itu bicara sambil menatap bingkai pigura dengan foto bertajuk Mixing You tanpa menengok ke arah Runa. Runa menebak kalau lelaki itu bukan lelaki yang bisa menghargai lawan bicaranya.

“Juna. Namaku Arjuna,” wajah si lelaki menengok ke arah Runa. Senyumnya terkembang lebar menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih.

Bukan perokok. Sial. Runa mendengus dalam hati saat tahu dia memerhatikan senyum lelaki di sisinya. Radarnya otomatis mendeteksi lelaki tampan, seberantakan apapun penampilannya, yang tidak merokok. Kebiasaan yang tidak selalu buruk.

"Indonesia Timur memang selalu seksi. Bukan begitu?” Juna masih tersenyum. Kepalanya dimiringkan meminta persetujuan.

Runa melirik sekilas lalu mengangguk pelan.

Kalau boleh Runa merutuk, lelaki di sisinya sebetulnya memesona. Sejatinya dia tidak tampan. Hanya menarik. Dia bisa mengatur penampilan hingga tampak memikat. Bukankah memang teori dasar tampil rapi begitu? Juna bukan tipikal laki-laki metroseksual yang dandy dan repot dengan segala bentuk perawatan. Dia hanya peduli dengan tubuhnya. Jarang ada lelaki begitu.

Dalam jarak tak lebih dari satu meter, Runa bahkan mencium wangi parfum maskulin milik si lelaki. Sialan. Lagi-lagi Runa merutuk. Jangan bilang kalau lelaki ini yang mendapatkan foto candidnya. Dia membatin. Antara senang dan khawatir. Khawatir terbuai.

Demi segala hal yang dirasa sudah di luar kendali akal sehat, Runa membuka suara. Tangannya terulur menyalami Juna. Mengalihkan aliran darah di sekujur pembuluh yang terasa mulai menderas. “Aruna.”

Ada sedikit kejut di wajah Juna yang buru-buru ditepis, menggantinya dengan senyum. Tidak ada percakapan setelahnya. Keduanya hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Juna kaku, Runa malu-malu.

Lima menit dalam diam, Juna membuka suara. “Pemenang lomba ini dapat winner tour ke Sabang minggu depan.” Siapa yang tidak tahu? Tentu saja semua peserta lomba Pesona Flores itu tahu apa yang menjadi hadiah utamanya. Tiket jalan-jalan ke Sabang berikut akomodasi lengkap selama empat hari. Berlaku untuk tiga orang pemenang.

Runa menggigit bibir. Dia bahkan lupa dengan kabar fotonya. Menampilkan segerombolan anak Suku Bajo menyelam mengenakan kacamata buatan sendiri sambil membawa bubu. Foto yang diambil setengah mati dan berkali-kali di perairan Alor. Dia baru belajar free diving dan nekat berkali-kali naik ke permukaan demi bisa mendapatkan foto dengan hasil yang minimal mendapat pujian dari juri.

“Kayaknya Tuhan tahu kalau kita punya nasib yang sama.” Juna memecah senyap di antara mereka. Sementara Runa menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“Sampai bertemu di Sabang, Aruna. Kupikir kita akan bisa banyak ngobrol di sana.” Wajah Juna lebih semringah, paham jika apa yang dikatakan menjadi kejutan bagi wanita di depannya.

Runa terperangah. Ini bukan akhir yang lebih dari dia inginkan tapi butuhkan. 

So you can keep me, inside the pocket of your ripped jeans. Holding me closer till our eyes meet. You won't ever be alone. Wait for me to come home.

Credit to: Ed Sheeran-Photograph; a Photoghrapher.
Post a Comment