Friday, November 27, 2015

Asyiknya Terbang Paralayang di Gunung Banyak Batu



Di udara

Sertifikat uji nyali :))
 
Kota Batu pagi itu cerah, secerah perasaan saya yang optimis bisa menuntaskan hasrat terpendam sejak lima tahun lalu *pret*. Berkali-kali saya melajukan motor sambil memastikan daerah Pandesari aman. Yes, hari itu saya akan paralayang. Tekad saya bulat, nggak bakal turun sebelum benar-benar bisa terbang. Selama ada waktu, kenapa enggak? Dan uang juga, sih.

Ini bukan kali pertama saya ke daerah Pegunungan Banyak. Sebelumnya sudah pernah saya ulas di sini. Jadi, wajar saja kalau saya hapal jalan menuju ke sana. Familier banget, sih, memang daerah Batu :p. 

Dikelilingi pinus 

Pukul setengah sebelas saya sampai di Wisata Paralayang (HTM: 5k, parkir: 3k) dan disambut dengan angin yang berhembus cukup menyejukkan. Wah, pasti bisa terbang, nih, pikir saya kala itu. Sayangnya, angin yang berhembus dan melenakan tersebut justru membahayakan siapapun yang akan terbang, sekalipun atlet. Kecepatan angin untuk terbang maksimal 20 kilometer perjam. Lebih dari itu, harap bersabar sampai Magrib kalau memang niat banget buat terbang. Saya, sih, nekaaat pokoknya. Oh ya, syarat lain sebelum yakin untuk terbang adalah berat badan di bawah 90 kilogram, nggak punya riwayat penyakit jantung dan penyakit-penyakit seram lain.

Flying without wings

Tempat pertama yang saya tuju selepas pasrkir adalah pos pangkalan ojek yang sedang ditunggui empat pengojek. Di situ, saya basa-basi, ngobrol-ngobrol, tanya-tanya seputar paralayang yang memang kala itu pos pendaftarannya belum dibuka. Dari awal basa-basi, saya nggak nyangka, ternyata bapak-bapak ini konyol dan hobi ngeludruk. Jadilah selama menunggu angin turun selama empat jam, saya cekikikan nggak jelas sama mereka. Ya gitu, kalau jalan sendirian suka nggak tahu malu, kan, ya memang? :p.

Wefie dulu sama bapak-bapak ojek :D 

Selain sama bapak-bapak ojek, saya berkenalan dengan master pilot paralayang. Namanya Pak Ridwan yang biasa disapa Abah Iwan. Beliau adalah orang pertama yang menemukan potensi Pegunungan Banyak untuk dijadikan wisata dirgantara. Mulanya, beliau adalah mahasiswa asli Malang yang kuliah di Jakarta dan hobi main paralayang. Niatnya selepas lulus adalah bekerja di Malang.

Pak Iwan ngecek peralatan

Akhir tahun 1994 sampai awal tahun 1995, bapak empat orang anak tersebut survey dan menemukan lokasi yang tepat untuk paralayang. Dulu bukan di tempat sekarang dan berdekatan dengan rumah penduduk—yang nama tempatnya saya lupa. Tapi pada tahun 1996, terjadi kebakaran lumayan hebat dan menghanguskan bagian dari Gunung Banyak. Asyiknya, lokasi bekas kebakaran justru bersih dari rerumputan dan hanya menyisakan beberapa pepohonan. Lokasi inilah yang kemudian dijadikan tempat paralayang hingga saat ini.

 Sumpah asyik!
 
Abah Iwan babat alas seorang diri. Lokasi baru dikomersilkan pada tahun 1997 dan mulai ramai di awal 2000an. Sebabnya, kala itu Gunung Banyak juga dijadikan lokasi kejuaraan paralayang. Sekarang, bisa dikatakan beliau tinggal menuai hasil. Ramai parah. Padahal wisata ini nggak murah, loh. Tapi nagih! Hahaha. Saya jadi kebelet ke sana lagi, deh, suweeer!

 
Mbak Angie dan Mas Tris siap-siap take off

Biaya untuk terbang paralayang sebesar 350.000 rupiah. Biaya segitu sudah termasuk harness, helm, dan paralayang yang insyaallah sudah terjamin keamanannya. Itu juga sudah include biaya ojek buat naik lagi setelah landing di persawahan, tongsis sewaan, dan sertifikat yang bikin merasa kece parah :)). Sayangnya, biaya segitu cuma bisa dinikmati selama 5-10 menit. Bentar banget ya? Iya. Tapi, lucky me, saya dapat jatah terbang hampir 18 menit. Nggak sekadar terbang landai, juga bermanuver yang bikin saya ketawa-ketawa bahagia. Sudah dadah-dadah sama tekanan batin selama berminggu-minggu menahan hasrat nggak bisa kemana-mana :)). 

Fly me to the air!

Landing

Gimana? Tertarik nggak buat nyobain terbang di atas perkotaan Batu? Jangan lupa siapkan duit yang cukup, apalagi stamina. Kalau bisa, ke sini pas lagi stres parah, pasti nanti setelah turun langsung agak-beres :)). Kalau nggak pakai sepatu kets, nanti di sana akan disediakan sepatu khusus, jadi santai saja. Deg-degan pasti, tapi itu di detik-detik awal saja, setelahnya pasti nggak mau turun. Kalau saya, sih, haha. Jadi, 350k itu nggak mahal kalau buat pengalaman yang worth it banget begini. Seriusan.

Bahagia sejahtera mau lagi pake banget!  
Post a Comment