Sunday, November 15, 2015

Unfinished

"Jadi kamu lebih pilih pilihan orang tua dibandingkan dengan orang yang sudah lama dikenal?" Gilang bertanya dengan nada yang susah kumengerti. Suasana pertunjukan Tari Kecak Uluwatu sudah berakhir. Menyisakan kami dan beberapa turis lain yang masih asyik mengambil foto berlatar semburat sisa senja, yang sejujurnya sudah tak lagi tampak.

"Kenapa begitu, Kei?" Matanya menatapku mengintimidasi. Kurasa kali ini feelingku benar. Sori, bukan berarti jalan berdua ke Bali begini, apalagi sambil nonton matahari tenggelam bersamaan tari kecak, bikin baper. Tapi seenggak pekanya wanita, aku tahu, ada yang berbeda dengan biasanya. Tatapannya mengisyaratkan rasa lain.

Seandainya saja Gilang tahu kalau gertak sambal tempo hari hanya ingin membuat nyalinya ciut. Habis aku kesal, bertahun-tahun bersahabat dengannya, tidak ada perkembangan berarti. Sering aku mengira, Gilang menaruh hati padaku dilihat dari perhatian-perhatian kecilnya. Tapi lebih sering lagi aku menyangkal. Manalah mungin, dua orang sahabat saling menyemai bibit. Mustahil.

Aku hanya diam memandang kosong langit yang mulai menghitam berganti taburan gemintang. Gilang paham nggak, sih? Kalau aku butuh dia. Takut kehilangan dia. Teman, sahabat, partner in crime yang selalu dan tanpa pernah sedikitpun melewatkan memberiku dukungan. Memberiku semangat pada apa yang aku pilih. Sebab tahu aku bakal bertanggung jawab, senyeleneh apapun pilihan itu. Aku mengeluh dalam hati, sebal.

Kepalaku perlahan mengangguk menjawab pertanyaan Gilang bersamaan dengan lecutan jutaan rasa bersalah menghujam jantung. Aku benci kamu, Gilang. Benci sekali.

Satu-dua penari kecak keluar berjalan melewati panggung sambil membawa properti tari. Wajahnya masih tersapu polesan make up. Hanya kini tampak sedikit lebih tipis. Wajahnya semringah, lega.

Tempo hari, aku berkata pada Gilang, kalau aku mau menikah dengan orang lain. Sebenarnya itu bukan gertak sambal biasa, karena posisiku benar-benar stres dan malu bercerita padanya. Aku ingin minta perlindungan. Minimal ada alasan untuk tidak menerima perjodohan dengan anak teman Ayah. Tapi aku blank, tidak ada alasan sama sekali yang bisa menundanya. Aku jomblo, tapi sudah amat lengkap dengan Gilang. Sayangnya, Gilang tidak bisa begitu saja menjadi alasan masuk akal bagi ayah dan ibu.

"Memangnya ada jaminan Gilang bakal melamar kamu?" Pertanyaan Ibu beberapa waktu lalu menyadarkanku. Nggak mungkin. Mustahil. Mukjizat jika memang terjadi.

Gilang menyelonjorkan kaki, punggungnya disandarkan pada bangku penonton. Matanya terpejam. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Aku tahu dia tidak tidur. Hanya sedang berpikir dalam diam. Sudah menjadi kebiasaan yang sangat kuhapal.

Aku menunggu reaksinya. Kira-kira apa yang bakal dia katakan sebagai jawaban dari anggukanku. Dalam hati aku merutuk, menyesali apa yang sama sekali tidak menarik hati.

Lima menit berlalu, Gilang masih diam, aku pun begitu. Menikmati kelepak malam dan gemericik ombak menabrak tebing. Senja ini berbeda dengan sebelumnya. Pikiranku berkeliaran pada kali pertama berkenalan dengan Gilang dua belas tahun lalu saat menjadi murid baru di SMA negeri favorit di kotaku. Rasa-rasanya aku tidak akan sanggup tanpanya. Bayangkan saja, hampir setiap saat aku butuh bantuannya. Dari hal remeh seperti,
"Lang, laptopku rusak,"

Atau,

"Lang, motorku kok mogok ya? Jemput dong."

Lain waktu,

"Gilang, kenapa kok Arya tega selingkuh. Kurang setia apa, sih, aku?"

Dan yang paling remeh,

"Ingat nggak, Lang, aku terakhir mens kapan?"

Iya, apa-apa yang aku lontarkan ke Gilang memang banyak nggak penting. Biasanya, dia juga hanya menjawab pendek, "Kayak nggak punya aku aja." Dan aku langsung tenang meski jawabannya sederhana begitu.

"Kei, coba bilang, selama ini, dua belas tahun ini, pernah nggak aku nyakitin kamu? Mengabaikanmu? Bikin kamu terluka dalam tangis?" Gilang membuka mata. Sedikit lebih tenang tampaknya.

Kuakui, rentetan pertanyaan itu tidak biasa. Dia tidak pernah begitu. Melempar tanya menghakimi. Apalagi seharusnya dia paham jika aku sama sekali tidak pernah merasa tersakiti ketika bersamanya. Aku menahan napas, membiarkan Gilang kembali bersuara, padahal hatiku berkecamuk.

"Kalau satu dari pertanyaan itu kamu jawab pernah, maka itu adalah pilihanmu. Aku minta maaf, Kei."

Sumpah demi apapun itu, baru ini aku melihatnya sendu. Merasa sedihkah dengan keputusanku? Atau kecewa? Kalau iya, kenapa dia tidak menyangkalku? Tidak menahanku agar tidak melakukan hal bodoh seperti, menerima pinangan lelaki lain selain dirinya?

Aku mengaduh. Sebenarnya siapa yang terlalu peka?

Gilang mengulurkan tangan meraihku, memeluknya dalam diam. Baru ini aku merasa kehilangan teramat parah dan kurasa dia juga merasakannya. "Apapun yang jadi pilihanmu, lakukanlah. Sampai kapan pun aku bakal dukung kamu, Kei. Pahami itu."

Kali ini tangisku pecah sejadinya. Gilang melepasku.
***

Sudah lebih dari tiga bulan komunikasi dengan Gilang memburuk. Entah dia terlalu sibuk dengan proyek Tol Laut Bali Mandara atau aku yang sibuk mengurus persiapan pernikahan. Pernikahan yang tidak pernah kuharapkan. Apa kabar kamu, Gilang?

Aku mengerjap-kerjap. Seharusnya aku sudah tidur, tapi perasaanku teramat lelah. Kau tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang seolah telah melekat dengan dagingmu? Seperti lumpuh.

Pernikahanku sudah di depan mata. Tiga hari lagi. Dan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana kabar Gilang. Seharusnya, aku tidak terjebak dengan friendzone. Apalagi dengan Gilang. Tapi aku terlanjur nyaman. Dua belas tahun bersama, melakukan apapun berdua, saling mendukung, tidak pernah mencela.

Tanganku mengambil ponsel, memainkan layar sentuh tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Terlalu naif mengakui kalau aku butuh Gilang. Cinta? Ya. Aku jatuh cinta.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal tepat saat aku akan menyalakan flight mode.

Kei, percaya padaku, aku akan menjagamu dengan caraku. Dari kejauhan. Katakan padaku jika kamu tersakiti. Sebab caraku menenangkan hati yang luka adalah memastikan kamu baik dengan orang selain aku. Gilang.

Aku tergugu melipat kaki di dada.

Meski bibir ini tak berkata, bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita...

Post a Comment