Skip to main content

Belajar dan Bermain di Predator Fun Park Batu

The entrance

Kota Wisata Batu punya taman rekreasi baru. Ya, enggak baru-baru amat, sih, sekira lima bulan lalu dibuka untuk umum. Namanya Predator Fun Park (PFP). Berbeda dengan Jatim Park Group (JPG) yang menggurita dimana-mana itu, PFP terletak tak jauh dari lokasi JPG namun beda wilayah. Tepatnya di daerah Junrejo yang susah diakses oleh angkot. 

PFP merupakan tempat rekreasi pertama yang ada di Kecamatan Junrejo, wajar jika angkot juga belum mampu mengakses ke sana. Saat berkunjung ke sana seminggu setelah PFP buka (launching pertama pada 18 Juli 2015), saya naik ojek dengan biaya 10.000 rupiah berdua dari Areng-Areng yang berjarak 7-8 kilometer. Jika naik angkot, ada angkot warna kuning dari terminal Batu yang turun di perlimaan Junrejo dan sisanya jalan kaki. Lumayan ngos-ngosan bagi yang nggak pernah jalan kaki.

Pintu masuk

Masuk ke PFP, pengunjung dikenakan biaya 25.000 rupiah perorang (harga per tanggal 25 Juli 2015). Saat saya ke sana, PFP masih sepi, jelas. Belum banyak orang tahu meski wahana ini dibuka selang sehari setelah lebaran. Apakah tiket tersebut murah? Tergantung. Buat saya, sih, mahal setelah melihat langsung apa saja yang ada di dalamnya.

 Selamat datang

Patung buaya selamat datang

 Memasuki PFP kali pertama, pengunjung akan disuguhi mini museum yang berisi pengetahuan tentang buaya sebagai hewan predator. Di mini museum ini patung-patung mini berbentuk buaya juga terpajang apik selain awetan belulang. Patung-patung tersebut dibuat menyerupai kelompok musik yang tengah menyanyi dan bisa berputar.


Preparat buaya

Anatomi kasar buaya 

Bagi saya yang menyukai museum dengan informasi lengkap, mini museum ini kurang lengkap dan terasa amat lengang. Sekali-dua jalan, bagian museum sudah habis tanpa banyak informasi yang bisa digali. Tapi, jika dibandingkan dengan Museum Angkut, mini museum di PFP ini jauh lebih bagus informasinya. Apalagi jika yang disasar adalah anak-anak usia balita hingga SD. Pas.

Cara buaya berjemur

Giginya runcing

Lepas dari mini museum, ada bagian yang dipenuhi oleh buaya, baik telur, anakan buaya, sampai indukan. Letaknya dibuat terpisah. Telur diletakkan pada wadah di ruang inkubator yang nggak semua orang bisa masuk. Sedangkan anakan buaya diletakkan bersama anakan lain sesuai jenisnya; buaya rawa, kapuas, dan sebagainya. Begitu pula dengan indukan. 

Selain diletakkan pada tempat yang berbeda, buaya indukan juga diletakkan pada sebuah akuarium besar yang memungkinkan pengunjung tahu lebih dekat tentang buaya. Yang ada di pikiran saya kala itu hanya satu: seberapa kuat kaca akuarium yang menampung buaya indukan tersebut?  

Membaur dengan manusia 

Siap santap

Kolam pancing buaya 

Sedikit berbeda dengan kebun binatang, di PFP pengunjung dapat mencoba memberi makan buaya dengan ayam yang sudah disediakan menggunakan alat pancing. Meski sudah berpagar, sebaiknya pengunjung tetap waspada, khususnya anak-anak. Sebab, tinggi pagar pembatas hanya setinggi dada orang dewasa.

Kolam pancing buaya tersebut terletak menyatu dengan diorama buaya dan bisa digunakan pengunjung untuk melihat lebih dekat polah buaya. Ingat, anak-anak harus tetap dalam pengawasan. Sebab, di diorama ini bisa dikatakan tidak ada pembatasnya sama sekali.

Patung-patung buaya aneka warna

Taman buaya 

Saya pikir, PFP ini lebih cocok digunakan sebagai wahana belajar anak-anak karena lebih banyak menyajikan warna-warna eksentrik yang menyejukkan mata. Patung-patung buaya dan wahana permaianan yang ada hampir seluruhnya dibuat mini. Artinya, orang dewasa memang harus maklum.

Perlu diingat juga, di taman buaya, pagar pembatas tak lebih dari dada orang dewasa. Bahkan, anak seusia SD pun bisa melompat melewati pagar. Memang, ada penjaga di beberapa titik. Tapi, tetap saja di tempat ini anak-anak harus berada di bawah pengawasan orang tua sepenuhnya.

Kolam renang

Tempat belanja

Puas berkeliling ke tempat wisata yang nggak begitu besar ini, pengunjung juga bisa mengajak anak untuk berenang. Saat saya berjalan berkeliling, kolam renang yang ada juga dikhususkan untuk anak-anak dengan permainan warna-warni. Jadi, sepanjang perjalanan dari pintu masuk sampai pintu keluar, yang ada saya hanya bengong sambil membatin, "Ini tempat apaan, sih?" Hehehe. 

Tapi, buat siapapun yang ingin mencoba untuk melihat-lihat Predator Fun Park, sila mampir di daerah Junrejo, Kota Wisata Batu. Saran saya, mending naik ojek atau kendaraan pribadi karena angkot hampir dipastikan belum beroperasi hingga berhenti di depan PFP.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…