Skip to main content

Arigatou 2015!

Selamat tahun baru! Iya, ini terlalu basi. Maklum, saya sibuk syuting, haha. Jadi, seperti yang sudah-sudah, tulisan saya kali ini akan mereview kemana saja tahun lalu. Tahun yang bikin gairah saya meledak-ledak sekaligus menguras emosi banget. Eaaa abis! :)).

Januari 
Saya pergi ke salah satu pantai di Malang Selatan yang nggak menarik. Satu karena ombaknya ganas. Dua, karena pemandangannya kotor. Itu juga nggak niat berlibur, sih, sebenarnya. Soalnya, saya pergi untuk menghadiri undangan pernikahan, niat awalnya.


Di akhir bulan, saya bersama tiga teman pergi ke Belitung. Satu tempat yang bikin saya kangen melulu dan kepingin ke sana lagi. Kurang puas! Itu juga gegara pesawat pulang tiba-tiba dimajukan oleh maskapai. Jadilah, rencana berkeliling di hari terakhir batal. Pingin ke sana lagi kalau tiketnya murah, deh. 

Februari
Maksud hati mau ke Bukit Jamur, apa daya ganti ke Pantai Dalegan. Ya udah, sih, asyikin aja.

Maret
Saya lupa bulan ini kemana. Cari di file foto juga nggak nemu aktivitas. Padahal, saya ingat banget kalau kegiatan di enam bulan pertama tahun lalu itu cukup menyita waktu.

April
Katakan urusan pekerjaan ke luar kota selalu membuat saya tertarik. Ya, katakan saja begitu. Tapi kenyataannya nggak semua pekerjaan ke luar kota itu selalu berakhir menyenangkan. Yang ada malah bosan. Padahal, urusan pekerjaan saya ini tergolong remeh. Tapi justru karena remeh dan butuh ke luar kota seminggu bisa 2-3 kali ditambah rutin itulah yang bikin bosan! Haha, repot. Jadi di bulan ini saya ke Gili Labak, Sumenep, Omah Kayu, Batu, dan Taman Dayu, Prigen. Sisanya, beneran manggung demi masa depan.
 
Mei
Sama seperti bulan sebelumnya, bisa dikatakan saya mulai merasa jenuh jalan-jalan. Aneh ya? Nggak juga, sih, sebenarnya. Gimana lagi? Dua bulan itu jadwal manggung saya padat luar biasa. Tiap minggu pasti ke luar kota bisa 2-3 kali. Rasanya enek lihat jalanan. Di bulan ini saya ke Bondowoso buat rafting di Bosamba, lalu ke Menjangan, Bali, Pulau Tabuhan, Banyuwangi, Taman Safari Prigen, dan beberapa kota lain untuk urusan pekerjaan. Asli jenuh. Tapi kalau nggak gitu pasti makin jenuh, haha

Juni 
Saya ke Lumajang dan Bali. Iseng aja sebenarnya. Kenapa gitu? Cuma buat menghabiskan jatah cuti semester satu. Aslinya, sih, masih males buat jalan-jalan ngeliat dua bulan ke belakang agendanya kayak begitu.

Juli
Lebaran. Cuma ke rumah Pakde di Batu dan menghabiskan banyak waktu dengan keluarga di Selecta. Itu juga udah lebih dari cukup. Oh ya, saya juga ke Taman Buaya di bulan ini.

Agustus
Puncak dari keinginan saya untuk mencoret daftar tempat tujuan wisata impian ada di bulan ini. Satu tempat yang saya idamkan sejak lama sekali. Labuan Bajo, Flores. Nggak usah ditanya gimana kesannya. Saya pingin ke sana lagi, pakai banget! Kangen ngobrol sama Pak Ibrahim dan Harman. Selain ke Flores, saya juga ke Bali sehari di bulan ini.


September
Cuma ke kondangan temen di luar kota dapat bonus curhatan dari teman-teman. Lumayan asyik! Sisanya, waktu saya habiskan dengan ke mal yang ternyata membosankan. Oh ya, sama tugas sehari ke kota seberang.

Oktober
Di sinilah puncak dari segala kompensasi yang harus saya bayar. Kalau di bulan-bulan sebelumnya jadwalnya enggak manusiawi, maka di bulan ini giliran dapat stres sestres-stresnya. Udah kerjaan banyak, nggak bisa jalan-jalan, penelitian gagal melulu, ditambah satu hal yang bikin saya udah mirip zombie. Ih. Saya nggak suka bulan Oktober.

But, we live from the past. Setelah merenung dan nyaris depresi sambil mengisi waktu dengan ngemal, belanja, dan makan enak, kayaknya ini fase yang nggak semua orang bisa alami dan rasakan. Saya nggak perlu lari buat menghapusnya. Jadi, saya ralat, saya suka bulan Oktober!

November
Paralayang di Gunung Banyak sudah saya idamkan sejak lama. Tapi baru kesampaian di bulan November. Itu pun setelah memaksa partner penelitian buat nggak kerja sehari. Teriak-teriak di angkasa lumayan ngilangin kedukaan.

Desember 
Alhamdulillah, Natal jatuh di hari Jumat. Artinya, saya bisa jalan-jalan tanpa harus terganggu jadwal penelitian. Awalnya mau ke Semarang, tapi batal. Lalu pindah mau ke Banyuwangi, batal juga. Akhirnya saya ke Lumajang, ke Air Terjun Tumpak Sewu. Sekalian jalan-jalan terakhir sebelum teman saya married.

Ada banyak hal yang harus saya lalui di tahun 2015. Senang, sedih, dijauhi, dibohongi, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Yang saya ingat, kejadian-kejadian itu membuat saya semakin yakin bahwa semua adalah siklus. Dan siklus akan berhenti pada waktunya sendiri. Itu juga yang membuat saya yakin di tahun ini bisa jauh lebih baik dari 2015 selama saya masih mampu mengusahakannya.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…