Skip to main content

Kodingareng Keke: Pantai Cantik di Pusat Kota Makassar



Dermaga Kodingareng Keke 
My trip, My adventure!
 
Siapa tidak tahu jargon program televisi yang jadwal siarnya hampir memenuhi jumlah hari di setiap minggunya? Program yang menayangkan keelokan alam Indonesia. Otomatis program yang menjadikan candu bagi anak muda kekinian. Termasuk saya. 

Salah satu episode yang pernah saya lihat (meski tak sampai habis) adalah saat David John Schapp pergi ke Pulau Kodingareng Keke, Makassar. Saat itu, dia bilang kalau pulau cantik berpasir halus nan putih dengan air laut bening berada di dekat kota Makassar. Hanya ditempuh dalam jarak dua puluh menit menggunakan kapal nelayan. Saya pun tergiur dan penasaran untuk membuktikan kecantikan pulau di barat Makassar itu.

Foto pakai properti balon bayar 50 ribu rupiah. PENTING! 

Dari Dermaga Kayu Bangkoa, banyak sekali nelayan yang menawarkan jasa sewa kapal. Harganya bervariasi tergantung kelihaian pengunjung untuk menawar. Saat saya ke sana, saya mendapatkan harga kapal 500 ribu rupiah untuk pergi ke Pulau Kodingareng Keke dan Samalona. Standar dan nggak ada harga lain di bawah itu (harga per 31 Januari 2016)

Dari dermaga itu, saya sempat pesimis dengan keelokan yang dikatakan di acara televisi tadi. Air laut di sekitar perairan Makassar butek kecoklatan enggak ada bagus-bagusnya. Beda jauh sama Bulukumba (ya iyalah!). Persis yang dikatakan Pak Aksan, sopir elf kami. Katanya, Kodingareng Keke nggak sebagus Bulukumba. Tapi, show must go on. 

Main-main di pantai panas, Nyaaah... (taken by Icha) 

Dua puluh menit berlalu, ombak cukup kencang dan air laut masih kecoklatan. Lalu, menginjak pada menit hampir ke tiga puluh, pelan-pelan, air laut berubah warna menjadi kebiruan. Bukan, kami tidak sampai di Kodingareng Keke, melainkan Samalona untuk menyewa peralatan snorkling. Harganya 25 ribu rupiah. Sebab, Kodingareng Keke adalah pulau tak berpenghuni. Jadi, kalau mau snorkling atau ganti baju, rutenya ke Samalona dulu baru ke Kodingareng Keke dan balik lagi ke Samalona. Gitu.

Dua puluh menit dari Samalona, kami sampai di Kodingareng Keke. Betul juga, pemandangannya bagus. Air lautnya bening kehijauan dan buanyak bulu babinya. Ngeri-ngeri sedap kalau berenang di situ. Saat menginjakkan kaki, pikiran saya hanya satu, “seriusan kayak begini pulaunya?” 

Kenapa saya mikir begitu? Karena, sejak diekpos, pulau ini jadi jorok. Sampah dimana-mana dan air kencing yang diisikan di dalam botol tergeletak semena-mena. Duh.

Sampah laut dan dari luar bercampur 

Saran, pilih sisi pulau lain yang lebih aman dan bersih dari bulu babi, meski masih jorok karena ada sampah. Di sisi tadi juga ombaknya lebih kenceng dibandingkan sisi saat kapal berlabuh. Perairan di Kodingareng Keke cukup dangkal dan banyak pecahan karang di tepian. 

Panas, Mameeen!  

Kata Fatma, Kodingareng Keke dulunya nggak sekotor sekarang. Tapi karena sudah diekspos besar-besaran, maka dampaknya jadi ada kotoran dimana-mana. Pas saya ke sana, beberapa anak muda foto-foto sambil teriak, "My trip, my adventure!" Eaaa abis.

Team

Ciri khas di perairan dangkal, ada bintang laut dan ikan yang menyerupai pasir pantai berwarna putih. Snorkling bisa banget, tapi nggak kelihatan apa-apa dong. Pasirnya ke permukaan semua. Karena di Kodingareng Keke nggak ada penghuni, jadi lebih baik bawa bekal dan bawa pulang sampahnya. Asli, sayang banget kecantikan birunya air laut dan halusnya pasir putih harus dirusak dengan tangan tak bertanggung jawab.

Nemu aja yang beginian (taken by Icha)

Ikan apa namanya hayo? 
  
Di perairan sekitar Makassar ini banyak banget pulau. Ada Pulau Kahyangan, Pulau Lae-Lae, dan banyak lagi. Pintar-pintar menawar saja kalau mau keliling. Pulau-pulau tadi rekomen kalau mau ke Makassar tapi nggak punya banyak waktu buat eksplor. Soalnya, kalau ke Toraja dan Bulukumba kejauhan. Jadi, selamat berlibur!

Menunggu kakanda yang nggak kunjung datang

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…