Sunday, March 20, 2016

Belanja Pagi di Pasar Apung Lok Baintan Banjarmasin

Lok Baintan floating market

It's been such a long time until I try to start to write this section. Syibuk parah, cyiiin *dikeplak:))*

Baiklah. Karena memang momennya pas, saya mau cerita saat main sebentar ke Banjarmasin minggu lalu. Kenapa sebentar? Ya karena dikasih jatah cuma sehari. Hvft.

Well, main-main ke Banjarmasin, jangan sampai lupa buat nengokin Sungai Barito. Soalnya, hiburan paling dekat dengan wisatawan di Banjarmasin adalah pasar apung atau floating market. Ya gimana enggak? Kota dengan seribu sungai ini dimana-mana dikepung sama aliran sungai. Nggak heran juga kalau bangunan-bangunan yang ada di sana kebanyakan dibangun dengan kayu ulin, kayu mahal yang kuatnya tiada tara (nggak gampang rapuh meski rumahnya ada di aliran sungai). Ini juga, nih, yang jadi alasan kenapa bikin rumah di Banjarmasin muahal. Sebab, ada satu kebiasaan membangun rumah harus menggunakan kayu ulin yang kini mulai langka. Tapi sekarang, sebagai gantinya, karena mahal dan daripada nggak punya rumah, masyarakat sekitar kini memilih untuk membuat rumah berbahan kayu biasa (sonokeling, if I'm not in mistaken ya), asbes, triplek, dan bata.

Rumah kayu ulin

Balik lagi ke pasar apung. Di Banjarmasin ada dua pasar apung yang terkenal; pasar apung Lok Baintan di Desa Lok Baintan yang ada di Sungai Martapura dan pasar apung Muara Kuin di Sungai Barito. Bedanya, di Lok Baintan, penjual (yang didominasi wanita) hampir seluruhnya menjajakan dagangan hasil bumi menggunakan perahu yang dikayuh dengan dayung sedangkan di Muara Kuin, karena arus Barito lebih kuat, pedagang lebih banyak berjualan di daratan. Nggak heran, sekarang Lok Baintan lebih ramai dikunjungi wisatawan dibandingkan di Muara Kuin karena transaksi memang masih alami ada di sungai. Sebagai gambaran, iklan RCTI beberapa tahun lalu ada nenek yang berjualan di pasar apung sambil mengacungkan jempol, nah itu di Muara Kuin.

Pagi-pagi di sungai

Persamaan dari Lok Baintan dan Muara Kuin hanya satu; kalau mau melihat roda perekonomian mikro berjalan, datanglah sepagi mungkit dengan perut kosong. Trust me, all buyers here ratjun parah. Makanan yang dijual memang ala pasar pada umumnya, tapi rasanya nggak ada di Jawa! Jadi, ya memang harus dicobain satu-satu, wkwk. Kalau bisa, datang sebelum subuh ya, sekira pukul 4 pagi. Sebab, perjalanan dari Banjarmasin ke Lok Baintan lumayan memakan waktu sejam lebih menggunakan perahu klotok (range harga 300-400 ribu bisa diisi 10 orang tergantung kelihaian menawar). Oh ya, perahu klotok wajib hukumnya dipesan satu hari sebelumnya. Soalnya enggak ada dermaga tempat mangkal para sopir klotok. Biasanya juga, para sopir klotok janjian buat berangkat dari dermaga Soto Bang Amat yang cetar. Kalau saya, kebetulan berangkat di dermaga milik hotel Swiss-Belin Borneo.


Dayung terus, Acil!

Weeell, pasar apung Lok Baintan dan pasar apung lain di Banjarmasin ini sejatinya sudah ada sejak Kerajaan Banjar ratusan tahun lalu. Para pedagang sengaja tetap berjualan turun temurun demi memertahankan nilai sejarah. Yang unik, perekonomian mikro di sini baru sepuluh terakhir menggunakan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Sebelumnya? Mereka masih menggunakan sistem barter. Sedap ya?

Semacam arem-arem

Cara bertransaksi di sini juga menarik. Misal ya, saya pingin makan buah Kasturi, saya pasti langsung teriak, "Acil! Buk! Buah, Buk!" iya, teriak-teriak nggak sopan gitu. Trus mereka langsung nyamperin kapal pembelinya. Begitu udah dianggap biasa, mau bisik-bisik juga nggak denger, kan? Wkwk.

Dimulai pagi-pagi buta, pasar apung ini banyak banget menarik perhatian turis mancanegara. Unik gitu. Dan... kenapa harus datang pagi juga? Karena pasar ini bakal bubar lewat dari pukul 9 pagi. Makanya, saya rela banget bangun setengah 4 pagi padahal badan teler parah demi melihat sebuah... pasar!

Nawar aja sampai jelek...

Jadi, kalau main-main ke Banjarmasin, beneran jangan dilewatun, deh, pasar apung ini. Biar kekinian gitu...

Bencik, motret kok slendro :))
Post a Comment