Skip to main content

Belanja Pagi di Pasar Apung Lok Baintan Banjarmasin

Lok Baintan floating market

It's been such a long time until I try to start to write this section. Syibuk parah, cyiiin *dikeplak:))*

Baiklah. Karena memang momennya pas, saya mau cerita saat main sebentar ke Banjarmasin minggu lalu. Kenapa sebentar? Ya karena dikasih jatah cuma sehari. Hvft.

Well, main-main ke Banjarmasin, jangan sampai lupa buat nengokin Sungai Barito. Soalnya, hiburan paling dekat dengan wisatawan di Banjarmasin adalah pasar apung atau floating market. Ya gimana enggak? Kota dengan seribu sungai ini dimana-mana dikepung sama aliran sungai. Nggak heran juga kalau bangunan-bangunan yang ada di sana kebanyakan dibangun dengan kayu ulin, kayu mahal yang kuatnya tiada tara (nggak gampang rapuh meski rumahnya ada di aliran sungai). Ini juga, nih, yang jadi alasan kenapa bikin rumah di Banjarmasin muahal. Sebab, ada satu kebiasaan membangun rumah harus menggunakan kayu ulin yang kini mulai langka. Tapi sekarang, sebagai gantinya, karena mahal dan daripada nggak punya rumah, masyarakat sekitar kini memilih untuk membuat rumah berbahan kayu biasa (sonokeling, if I'm not in mistaken ya), asbes, triplek, dan bata.

Rumah kayu ulin

Balik lagi ke pasar apung. Di Banjarmasin ada dua pasar apung yang terkenal; pasar apung Lok Baintan di Desa Lok Baintan yang ada di Sungai Martapura dan pasar apung Muara Kuin di Sungai Barito. Bedanya, di Lok Baintan, penjual (yang didominasi wanita) hampir seluruhnya menjajakan dagangan hasil bumi menggunakan perahu yang dikayuh dengan dayung sedangkan di Muara Kuin, karena arus Barito lebih kuat, pedagang lebih banyak berjualan di daratan. Nggak heran, sekarang Lok Baintan lebih ramai dikunjungi wisatawan dibandingkan di Muara Kuin karena transaksi memang masih alami ada di sungai. Sebagai gambaran, iklan RCTI beberapa tahun lalu ada nenek yang berjualan di pasar apung sambil mengacungkan jempol, nah itu di Muara Kuin.

Pagi-pagi di sungai

Persamaan dari Lok Baintan dan Muara Kuin hanya satu; kalau mau melihat roda perekonomian mikro berjalan, datanglah sepagi mungkit dengan perut kosong. Trust me, all buyers here ratjun parah. Makanan yang dijual memang ala pasar pada umumnya, tapi rasanya nggak ada di Jawa! Jadi, ya memang harus dicobain satu-satu, wkwk. Kalau bisa, datang sebelum subuh ya, sekira pukul 4 pagi. Sebab, perjalanan dari Banjarmasin ke Lok Baintan lumayan memakan waktu sejam lebih menggunakan perahu klotok (range harga 300-400 ribu bisa diisi 10 orang tergantung kelihaian menawar). Oh ya, perahu klotok wajib hukumnya dipesan satu hari sebelumnya. Soalnya enggak ada dermaga tempat mangkal para sopir klotok. Biasanya juga, para sopir klotok janjian buat berangkat dari dermaga Soto Bang Amat yang cetar. Kalau saya, kebetulan berangkat di dermaga milik hotel Swiss-Belin Borneo.


Dayung terus, Acil!

Weeell, pasar apung Lok Baintan dan pasar apung lain di Banjarmasin ini sejatinya sudah ada sejak Kerajaan Banjar ratusan tahun lalu. Para pedagang sengaja tetap berjualan turun temurun demi memertahankan nilai sejarah. Yang unik, perekonomian mikro di sini baru sepuluh terakhir menggunakan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Sebelumnya? Mereka masih menggunakan sistem barter. Sedap ya?

Semacam arem-arem

Cara bertransaksi di sini juga menarik. Misal ya, saya pingin makan buah Kasturi, saya pasti langsung teriak, "Acil! Buk! Buah, Buk!" iya, teriak-teriak nggak sopan gitu. Trus mereka langsung nyamperin kapal pembelinya. Begitu udah dianggap biasa, mau bisik-bisik juga nggak denger, kan? Wkwk.

Dimulai pagi-pagi buta, pasar apung ini banyak banget menarik perhatian turis mancanegara. Unik gitu. Dan... kenapa harus datang pagi juga? Karena pasar ini bakal bubar lewat dari pukul 9 pagi. Makanya, saya rela banget bangun setengah 4 pagi padahal badan teler parah demi melihat sebuah... pasar!

Nawar aja sampai jelek...

Jadi, kalau main-main ke Banjarmasin, beneran jangan dilewatun, deh, pasar apung ini. Biar kekinian gitu...

Bencik, motret kok slendro :))

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…