Sunday, March 27, 2016

Kampoeng Djawi: Tempat Wisata Serba-Jawa di Wonosalam

Kampoeng Djawi

Berkunjung ke Jombang, Jawa Timur, sebaiknya juga mampir ke Wonosalam. Daerah dataran tinggi yang memiliki udara sejuk dan bersih. Jauh dari hingar bingar, panas, dan polusi. Selain itu, Wonosalam juga dikenal sebagai sentra buah durian. Saking terkenalnya, saat musim durian tiba, biasanya di bulan Februari-Maret, ada kenduri durian yang digelar oleh bupati. Acara ini baru ramai beberapa tahun belakangan, namun akan terus menjadi ikon khususnya bagi Wonosalam.


Properti Jawa

Menikmati Wonosalam juga bisa dilakukan dengan cara berbeda. Yakni dengan menginap di Kampoeng Djawi. Kampoeng Djawi adalah tempat wisata yang cukup lengkap meski luasnya hanya 1,3 hektar saja. Memasuki Kampoeng Djawi, pengunjung dikenakan biaya 50 ribu perorang. Tiket masuk digunakan untuk berkeliling dan berenang.

Asri

Kali pertama masuk ke Kampoeng Djawi, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang Jawa banget. Properti yang digunakan sengaja didatangkan langsung dari Lamongan, Pasuruan, Jombang, Kediri, dan beberapa daerah lain bekas kerajaan Mojopahit. Selain kental dengan properti Jawa, berbagai jenis tanaman yang ada memberikan kesan teduh dan sejuk.  


Dokar atau cikal

 
Langgar

Puas berkeliling, namun ingin merasakan sensasi menikmati alam lebih lama, pengunjung bisa bermalam. Ada sembilan rumah joglo, masing-masing berisi empat kamar yang ditawarkan. Perorang dikenakan biaya 330 ribu rupiah termasuk makan tiga kali dan bebas menggunakan seluruh fasilitas seperti karaoke, billiard, dan kolam renang. Kalau hanya ingin menikmati dan beristirahat dari pagi sampai sore, biaya yang dikenakan 130 ribu rupiah perorang. Minimal pemesanan 20 orang. Kalau untuk keluarga kecil, kamar menginap masih dalam tahap pembangunan.

Kampoeng Djawi antik

Rumah joglo

Selain fasilitas penginapan, ternyata Kampoeng Djawi juga biasa digunakan untuk outbound dan menjadi tempat prewed favorit karena tatanannya yang eye catching banget. Namun sayang, sejak enam tahun berdiri, Kampoeng Djawi belum banyak dikenal warga sekitar. Semisal saja, keluarga kecil yang memberi saya tumpangan pulang dari Kampoeng Djawi, mereka mengaku baru tahu ada Kampoeng Djawi setelah diliput NET. Mereka juga nggak nyangka, kalau Wonosalam punya tempat yang menarik untuk wisata keluarga.


Dapur dan tempat makan

Sejujurnya, saya sendiri juga baru tahu tempat wisata Kampoeng Djawi sesaat setelah diturunkan oleh tukang ojek di tempat yang salah. Padahal ternyata, kantor saya langganan menggunakan Kampoeng Djawi sebagai venue acara sejak kali pertama berdiri. Kemana aja gueh, Vroooh! :))))

Selain excited dengan tempatnya yang aduhai cantiknya, menu makanan di sini murah sekali harganya. Ya, murah untuk ukuran makanan di tempat wisata. Dan, enak. Makanya, saya nggak khawatir saat ke sini membawa uang ngepres dompet. Ini juga yang membuat saya membatin, someday, saya mau ke sini lagi sama keluarga besar. Menginap bareng-bareng menikmati alam.



Santai kayak di pantai

Jangan ditiru!

Saya lihat promosi Kampoeng Djawi amat minim. Coba cek di internet, ulasan tentang Kampoeng Djawi sedikit sekali. Tetapi  saya pikir, lebih baik begitu, biar saat saya ke sana harganya masih bisa terjangkau oleh dompet saya, hahahaa *dikeplak*. Tapi, sudah tiga tahun terakhir ini, Kampoeng Djawi menjadi bagian dari kenduri durian. Biasanya, sehari sebelum kenduri durian digelar, di Kampoeng Djawi ada konser musik jazz di amphitheatre yang menghadirkan musisi jazz lokal dan artis ibu kota. Jadi, nggak ada salahnya juga main-main ke Wonosalam lalu mampir ke Kampoeng Djawi, nggak bakalan rugi, Gaesss.

Sok keren :)))
Post a Comment