Sunday, March 27, 2016

Sok-sokan Hitchhiking ke Kampung Durian Wonosalam

All I want is you, durian!

Judulnya memang sok sekali. Sama seperti kami yang memang menghabiskan waktu liburan tanpa tahu arah tujuan. Saya sengaja merencanakan blind trip untuk perjalanan kali ini. Tujuan utamanya hanya ke Wonosalam untuk mencicipi durian. Bagaimana cara menuju ke sana? Saya pasrah dan berserah pada kondisi di jalanan seperti apa, wkwk.

Perjalanan dari Surabaya menuju Wonosalam bisa ditempuh menggunakan bis tujuan ke barat lalu turun di terminal Mojoagung. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan angkot warna merah tujuan Bareng-Wonosalam atau ojek. Sayang, angkot hanya tersedia sampai pukul 10 pagi dan melayani satu kali PP saja. Makanya, waktu kemarin saya dan ketiga teman sampai pukul 11, cara satu-satunya hanya ngojek.


Nebeng hore!

Kami tidak punya tujuan. Maka, saat tukang ojek bertanya tujuan, saya hanya menjawab, “Ke durian-durian boleh, Pak. Atau ke wisata ajalah, Pak.”

Ambigu ya? Memang! Namanya juga nggak punya tujuan :)). Yang penting sampai di Wonosalam. 

Naik ojek dari Mojoagung ke Wonosalam Training Centre (WTC) membutuhkan waktu sekira 40 menit dengan biaya 25 ribu rupiah perorang.

Lantas, mau apa saya ke WTC?

Nggak ada. Kami nggak ada niatan untuk ke WTC. Hanya saat di tengah jalan, saya minta diturunkan di tempat yang punya fasilitas permainan outbound. Dan, tempat itu bukan WTC, Sodara! Hahaha, mana saya tahu ya, kalau ternyata kami diturunkan di tempat yang salah.

Dari tempat yang salah itulah, kami bertemu dengan pengemudi mobil pick up di warung depan WTC. Tanpa sungkan, kami minta tebengan untuk diantar ke Kampoeng Djawi, tempat outbound yang saya inginkan. Jarak dari WTC-Kampoeng Djawi sekira 2-3 km dengan kondisi berliku naik turun. Dan di warung itu pula, kami bertemu dengan Manajer Operasional Kampoeng Djawi yang memberi tips untuk bisa masuk dan menikmati Kampoeng Djawi tanpa harus membayar tiket masuk. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh :)).

Gini namanya hitchhiking? :ppp

Jadi sebenarnya, Kampoeng Djawi itu apa? Ulasan lengkap Kampoeng Djawi ada di sini.

Kami main-main di Kampoeng Djawi cukup lama. Saat hari sudah sore, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju pertigaan Kampoeng Djawi. Harapannya, dari pertigaan tersebut, kami mendapat tumpangan untuk turun ke Mojoagung.

Tapi ternyata Allah Mahabaik. Sebuah mobil keluarga yang kami hentikan lajunya mau menampung dan mengantarkan kami ke jalan utama Mojoagung. Saat itu, pikiran merelakan untuk tidak mampir mencicipi durian Wonosalam berkelebat. Ya, masa mau minta tolong mampir untuk beli durian?

Nebeng kece :))

Tak dinyana, beberapa menit setelah mobil melaju, kepala keluarga tersebut bertanya pada istrinya, “Kita mau beli durian dimana, Bun?”

Wahahaha! Saya yang dengar langsung kegirangan saking bahagianya. “Ibu mau beli durian? Saya juga mau beli, Bu!” Alhamdulillah rezeki! Saya di jok belakang pun langsung cekikikan nggak nyangka ternyata kami tepat memilih tumpangan :)))).

Saat kami sampai di Mojoagung, saya sempat bilang ke kepala keluarganya, “Maaf ya, Pak, mobilnya jadi kotor.”

Lalu dijawab, “Nggak papa, Mbak, namanya juga sesama muslim harus saling menolong.”

Subhanallah. Kapan-kapan jadi mau nebeng lagi, deh! :))))

Bisa makan duren Wonosalam juga! :))
Post a Comment