Saturday, May 7, 2016

Mencerecap Es Krim Belanda di Toko Oen



Mampir ke Malang berarti wajib cicipin es krim cita rasa Belanda yang ada di Toko Oen. Kenapa? Ya, karena legendaris sejak tahun 1930 didirikan.

Sebenernya, bagi saya warga Surabaya, Toko Oen nggak begitu wajib buat didatengin. Lah wong 11-12 sama Zangrandi, baik dari segi rasa dan harga. Sama-sama toko es krim peninggalan koloni pula.

Tapi, karena saya sudah terlanjur ada di sekitar Alun-alun Malang, kenapa juga nggak dicicipin. Toh kalau udah tau rasanya nggak terngiang-ngiang *pret*.



Saya datang berdua dengan Tita, adik bungsu yang masih kelas 5 SD. Dari wajahnya, kelihatan kalau dia lapar maksimal. Begitu pula saya. Namun, apa mau dikata. Masuk ke Toko Oen, seluruh meja sudah penuh. Ya maklum, kan, liburan panjang. Yang mau makan pun kudu antre di meja yang kelihatannya udah mau kelar.

Kami pun memutuskan untuk menunda waktu 30 menit dengan pergi ke Gramedia yang ada di sebelahnya persis. Tapi ternyata kami salah strategi. Ditunda 30 menit Oen makin ramai. Kami bengong.



Nggak banyak cincong, kami memutuskan mengantre rombongan keluarga yang masih makan. Haha, segitunya banget ya, orang kalau lapar. Dibelain antre berdiri di depan meja incaran.

Tapi nggak, ini lebih karena penasaran #ngeles :)).

Antre lumayan lama, akhirnya kami berbagi meja dengan pasangan muda asal Jember. Perjuangan nggak berakhir di sana. Di Oen ini, selain antre buat dapat tempat duduk, kami masih harus antre untuk dilayani. Karena pramusaji nggak langsung membereskan meja kotor, nggak langsung datang mencatat pesanan kita, dan kita kudu proaktif buat bisa dilayani. Misal, dengan datang ke meja kasir. Itu pun nggak langsung mau pramusajinya buat datang ke meja.



Beda jauh sama Zangrandi yang begitu pelanggan datang (bahkan belum duduk) langsung ditawari menu. Dan begitu pesan langsung diberi segelas air putih sebagai penawar.

Kalau di Oen nggak ada acara dikasih air putih. Mungkin memang beda ya.

Buka buku menu, saya seolah dibawa oleh mesin waktu ke zaman penjajahan. Menunya pakai bahasa Belanda yang diartikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Lembar demi lembar menu saya buka. Harganya lumayan juga berkisar antara 30-80 ribu rupiah, baik es krim, minuman, dan makanannya.



Tapi akhirnya saya nggak pesan makanan dong. Kenawhy?

Karena saya menemukan satu menu berbahan babi. Jeng jeng jeng.

Ya, sih, ada menu pilihan lain. Tapi penggorengan dan alat masak lain kan jadi satu bikinnya. Buat hati-hati saja, saya Muslim dan nggak makan babi.

Sonny Boy (40 ribu) dan Tutti Frutti (33 ribu) menjadi es krim pilihan kami yang habis dalam 10 menit saja. Haha, nggak sumbut ambek antrene.



Well, terlepas dari mini drama di atas, desain Toko Oen ini masih dibiarkan alami. Masih terpajang apik pigura yang mengisahkan memorabilia zaman kumpeni. Pun perabotannya dibiarkan antik. Pramusajinya juga megenakan pakaian khas negeri kincir angin. Pas dengan lokasinya yang berada di deretan kota tua Malang.

Terletak di pusat kota Malang, untuk mencapai Toko Oen, bisa banget ditempuh dengan angkot jurusan Gadang dari terminal Arjosari (AG, LDG, pokoknya yang belakanya G). Jadi, biar kesannya pernah mampir ke toko jadul bercita rasa tinggi, selipkan saja Oen ke list wisata kuliner kalian kalau singgah ke kota Singo Edan ini.

Post a Comment