Skip to main content

Mencerecap Es Krim Belanda di Toko Oen



Mampir ke Malang berarti wajib cicipin es krim cita rasa Belanda yang ada di Toko Oen. Kenapa? Ya, karena legendaris sejak tahun 1930 didirikan.

Sebenernya, bagi saya warga Surabaya, Toko Oen nggak begitu wajib buat didatengin. Lah wong 11-12 sama Zangrandi, baik dari segi rasa dan harga. Sama-sama toko es krim peninggalan koloni pula.

Tapi, karena saya sudah terlanjur ada di sekitar Alun-alun Malang, kenapa juga nggak dicicipin. Toh kalau udah tau rasanya nggak terngiang-ngiang *pret*.



Saya datang berdua dengan Tita, adik bungsu yang masih kelas 5 SD. Dari wajahnya, kelihatan kalau dia lapar maksimal. Begitu pula saya. Namun, apa mau dikata. Masuk ke Toko Oen, seluruh meja sudah penuh. Ya maklum, kan, liburan panjang. Yang mau makan pun kudu antre di meja yang kelihatannya udah mau kelar.

Kami pun memutuskan untuk menunda waktu 30 menit dengan pergi ke Gramedia yang ada di sebelahnya persis. Tapi ternyata kami salah strategi. Ditunda 30 menit Oen makin ramai. Kami bengong.



Nggak banyak cincong, kami memutuskan mengantre rombongan keluarga yang masih makan. Haha, segitunya banget ya, orang kalau lapar. Dibelain antre berdiri di depan meja incaran.

Tapi nggak, ini lebih karena penasaran #ngeles :)).

Antre lumayan lama, akhirnya kami berbagi meja dengan pasangan muda asal Jember. Perjuangan nggak berakhir di sana. Di Oen ini, selain antre buat dapat tempat duduk, kami masih harus antre untuk dilayani. Karena pramusaji nggak langsung membereskan meja kotor, nggak langsung datang mencatat pesanan kita, dan kita kudu proaktif buat bisa dilayani. Misal, dengan datang ke meja kasir. Itu pun nggak langsung mau pramusajinya buat datang ke meja.



Beda jauh sama Zangrandi yang begitu pelanggan datang (bahkan belum duduk) langsung ditawari menu. Dan begitu pesan langsung diberi segelas air putih sebagai penawar.

Kalau di Oen nggak ada acara dikasih air putih. Mungkin memang beda ya.

Buka buku menu, saya seolah dibawa oleh mesin waktu ke zaman penjajahan. Menunya pakai bahasa Belanda yang diartikan dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Lembar demi lembar menu saya buka. Harganya lumayan juga berkisar antara 30-80 ribu rupiah, baik es krim, minuman, dan makanannya.



Tapi akhirnya saya nggak pesan makanan dong. Kenawhy?

Karena saya menemukan satu menu berbahan babi. Jeng jeng jeng.

Ya, sih, ada menu pilihan lain. Tapi penggorengan dan alat masak lain kan jadi satu bikinnya. Buat hati-hati saja, saya Muslim dan nggak makan babi.

Sonny Boy (40 ribu) dan Tutti Frutti (33 ribu) menjadi es krim pilihan kami yang habis dalam 10 menit saja. Haha, nggak sumbut ambek antrene.



Well, terlepas dari mini drama di atas, desain Toko Oen ini masih dibiarkan alami. Masih terpajang apik pigura yang mengisahkan memorabilia zaman kumpeni. Pun perabotannya dibiarkan antik. Pramusajinya juga megenakan pakaian khas negeri kincir angin. Pas dengan lokasinya yang berada di deretan kota tua Malang.

Terletak di pusat kota Malang, untuk mencapai Toko Oen, bisa banget ditempuh dengan angkot jurusan Gadang dari terminal Arjosari (AG, LDG, pokoknya yang belakanya G). Jadi, biar kesannya pernah mampir ke toko jadul bercita rasa tinggi, selipkan saja Oen ke list wisata kuliner kalian kalau singgah ke kota Singo Edan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Itinerary, Tips, dan Trik ke Labuan Bajo

Pulau Bidadari Labuan Bajo adalah destinasi yang banyak orang inginkan. Termasuk saya. Butuh keberanian besar untuk bisa ke sana. Apalagi kalau urusan dana. Saya, begitu mendapatkan tiket promo Denpasar-Labuan Bajo PP dan Denpasar-Surabaya (total harga tiga tiket Rp 1.490.000--ini harga paling hemat di saat mulai jarang ada harga tiket pesawat murah), langsung menyusun itinerary agar bisa hidup ngirit selama empat hari di sana. TIPS: Beli tiket jauh-jauh hari. Saya beli tiket enam bulan sebelumnya saat belum tahu mau ke sana sama siapa. Pokoknya beli aja.
Berdasarkan hasil blog walking, rerata jumlah yang dikeluarkan selama hidup empat-lima hari berkisar antara 3-5 juta rupiah perorang. Lumayan kerja keras untuk menabung. Saya pun mulai mengontak kapal yang sekiranya bisa membantu saya mencapai tujuan island hopping dengan harga murah.
Kebanyakan kapal memiliki program LOB (Live on Board)*. Artinya tidur melayang di kapal selama 3H2M atau 2H1M. Kalau mau lebih juga ada paketnya. Selama t…

Pengalaman Pesan Hotel One Night Stand di Bali

Peta Pulau Bali
Sebagai backpacker amatir dan nggak kece-kece banget, saya mulai jarang menyusun itinerary dengan detail dan terperinci. Karena saya pikir, merasakan kejutan di perjalanan sudah termasuk dalam inti traveling yang saya cari. Seru!

Beberapa waktu lalu, saat pergi ke Bali seorang diri, saya tidak merencanakan banyak hal. Karena saya tahu, sehari di Bali itu kurang. Apalagi saya menempuh perjalanan dengan kereta Surabaya-Denpasar. Otomatis, waktu saya banyak terbuang di jalan. Masih untung kalau saya sempat mendapatkan sunset ciamik di sepanjang pantai selatan daerah Kuta. Nothing to lose-lah, karena ke Bali niatnya hanya transit.

Kereta Surabaya-Banyuwangi berangkat pukul 22.00 tepat. Karena saya tak ada rencana apapun di Bali selama sehari, otomatis saya juga nggak banyak pikiran soal tempat menginap. Pikiran saya kala itu, semakin mepet waktu menginap, semakin murah harga hostel yang dipilih. Paling sial, nginep di bandara ajalah. Namanya juga gembel:)).


CX Hostel Ground…

10 Makanan Khas Belitung yang Wajib Kamu Coba

Setiap pergi ke suatu tempat, mencari makanan khas adalah satu kewajiban. Semisal saat ke Belitung awal tahun lalu. Begitu tiba di Belitung, kami langsung menanyakan tempat makan favorit, populer, dan menggoyangkan lidah. Beruntunglah, saya punya teman asli Tanjung Pandan yang bisa ditodong pertanyaan macam-macam. Meskipun nggak bisa nebeng ke rumahnya *modus gratisan:))* yang penting dapat info seputar kawasan penghasil timah ini. Dari beberapa kuliner khas Belitung yang saya coba, saya bisa simpulkan jika masakan Belitung banyak bersantan, asam, manis, dan nggak pedas.
Berikut adalah kuliner khas Belitung yang wajib dicoba.
1. Mie Belitung Atep
Mie Atep
Ini kuliner paling wajib yang harus dicoba setiba di Tanjung Pandan. Serius. Makanan ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi Belitung. Letaknya persis di pusat kota Tanjung Pandan, di sekitar Tugu Batu Satam. Ada dua menu makanan yang ditawarkan. Mie Atep atau Nasi Sum-Sum. Saya memesan Mie Atep, sudah tentu. Sementara teman yang pes…